Dalam sebuah diskusi, Fathy Cayadi menginginkan para pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete berprestasi tingkat nasional juga. “Saya ingin anak-anak saya juara olimpiade bahasa Inggris juga,” katanya dengan nada bersemangat. Pernyataan ini adalah tanda bahwa ia mempunyai spirit yang luar biasa dan kesiapan memberikan pelajaran di atas rata-rata kepada para pelajarnya.

RBB di Tanete baru mulai 10 Juli 2026. Pembelajaran yang terstruktur rapi dan terukur dibuktikan dengan pemahaman Reading (Bacaan) telah mencapai lesson 20 disertai pemahaman yang baik dari para pelajarnya membuat rekan-rekan pengajar RBB di Kota Bulukumba tertarik untuk mengecek secara langsung.

Pada pertemuan belajar kali ini (25/07), Fajar Hamzah dikenal dengan Mr. Ancha dan Mr. Agung Pratama Salassa pengajar RBB di kota Bulukumba, secara khusus mengunjungi RBB di Tanete untuk mendukung ide Miss Fathy. Target awal yang hendak dicapai adalah penguasaan tenses di luar kepala. Sesuai dengan buku Reading, lesson 20 berkutat pada simple present menggunakan be (am, is, are) yang orang Indonesia menyebutnya nominal tense. Segala bentuk perubahan simple present tersebut diajarkan dan diusahakan mampu dipraktikkan tanpa harus melihat buku catatan lagi.

Praktik Reading dan speaking yang dilakukan pada minggu-minggu sebelumnya sangat membantu menguatkan pelajaran simple present tense ini. Ini bukan berarti materi ini tanpa kendala, tetapi kendala pada kerumitan memahamkan tense menjadi lebih mudah karena sebenarnya, para pelajar telah sering menggunakan “be” dalam kalimat. Kini, pengetahuan mereka disusun lebih tertata. Singkatnya, mereka tahu kapan dan mengapa menggunakan am, is, are dalam kalimat.

Menurut hasil pengajaran Mr. Ancha, para pelajar cepat beradaptasi pada pembelajaran tenses dari bahasa Indonesia ke Inggris. Kelas pun kelas atraktif, terdapat kreativitas meng-explore kosakata.
Standar Kualitas RBB
Optimisme Miss Fathy di Tanete memiliki landasan yang kuat karena metode yang diterapkan di sana sudah teruji di RBB Kota Bulukumba.
Karena itu, di masa akan datang, RBB di Tanete bisa melakukan hal yang sama seperti RBB di kota Bulukumba karena menggunakan kurikulum dan metode pengajaran yang sama. Sebagai gambaran dalam mencetak generasi unggul, kita dapat melihat rekam jejak para pelajar RBB terdahulu yang telah melalui proses pematangan belajar secara matang dan konsisten.
Titik awal di mana pelajar punya peluang besar dalam bahasa Inggris tingkat akademik adalah memahami tenses di luar kepala yang tentunya disertai dengan pemahaman parts of speech (kelas kata) agar mengetahui jebakan kata pada kalimat yang dihadirkan dalam soal. Kemudian, pembelajaran rumit lainnya akan jauh lebih mudah disedekahkan.

Seorang pelajar mahasiswa semester dua bernama Andi Widya Maulidyah, alumni RBB, pada 9 Mei 2026 meraih juara 1 pada kompetisi pada Grammar Hack Competition at English Fair 2026 di Universitas Negeri Makassar (UNM). Merujuk ayahnya Widya, dari ratusan peserta yang ikut, saingan anaknya sangat ketat karena harus berhadapan angkatan senior; 2024, 2023, dan bahkan 2022 jumlahnya hampir 300 orang. Terlebih kompetisi dilakukan hanya dengan modal tangan kosong, tidak boleh melibatkan kecerdasan AI (Artificial Intelligence). Ini murni mengandalkan kemampuan pribadi.
Karena pondasi Widya yang kokoh dengan menamatkan beragam buku mulai dari tingkat dasar hingga intermediate dan pengantar TOEFL (Test of English as a Foreign Language) selama belajar di RBB, kompetisi “tangan kosong” itu menjadi keunggulan bagi Widya. Sejak SD hingga tamat SMA, ia telah terbiasa dengan ribuan soal mulai yang mudah sampai yang sulit sekalipun. Ia telah sampai pada tahap kematangan berpikir.

Jadi, kompetisi bahasa Inggris itu bukanlah hal yang mengagetkan. Menjadi juara 1 adalah konsekuensi logis dari hasil perjuangannya selama bertahun-tahun. Kekagetan UNM dan publik mungkin karena umurnya yang masih terlalu muda tetapi pengetahuannya sudah melampaui pembelajaran yang dipelajari di kampusnya, semester dua.
kesuksesan metode RBB di Bulukumba tidak hanya melahirkan juara tingkat mahasiswa, tetapi juga tingkat SD, dan keberhasilan di Bulukumba itulah yang kini sedang dibumikan juga oleh RBB Tanete.
Beberapa anak-anak RBB di kota Bulukumba yang telah menguasai tenses dan dasar-dasar grammar lainnya reading dan sering latihan soal mengikuti olimpiade bahasa Inggris. Dari proses belajar yang memenuhi standar itu, pelajar RBB bisa merebut emas pada kompetisi tingkat nasional.
Dari sini kita dapat memetik suatu pelajaran bahwa untuk menjadi yang terbaik, kita mesti mempersiapkan materi yang berkualitas agar anak didik kita mempunyai kepercayaan diri bersaing dengan siapapun juga. Spirit yang dimiliki oleh Miss Fathy dengan mendorong anak didiknya mengikuti olimpiade sangat baik ditanamkan kepada para pelajarnya agar motivasi belajar semakin meningkat. Mereka bukan lagi sekadar belajar, melainkan membangun impian yang tinggi juga.
Cuma saja, proses ini tidak instant. Pengetahuan yang unggul itu harus diikuti dengan ketekunan, kesabaran dan belajar mencintai apa yang sedang dipelajari. Ketika terjatuh, harus segera bangkit. Jangan meratapi kejatuhan. Jatuh adalah pembelajaran untuk tidak jatuh. Orang-orang yang seperti itulah yang bisa meraih kesuksesan.

Widya semasa sekolah pernah beberapa kali mengikuti kejuaraan dan gagal. Ia tidak berhenti, terus berbenah diri dengan mencari titik dan menyelesaikan kelemahan dirinya. Dari perbaikan kelemahan itu, ia menjadi kuat dan menjadi yang terbaik dari yang terbaik.
Anak-anak SD juara olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional di RBB pun demikian. Mereka bertahun-tahun belajar. Meskipun telah juara, mereka tetap selalu update soal-soal olimpiade yang baru. Mereka sadar, bila tidak terus melakukan perkembangan pada diri, mereka akan tertinggal dan posisi yang terbaik itu tinggal jadi kenangan saja.

Para pelajar RBB di Tanete mempunyai peluang yang sama untuk berprestasi dengan RBB di Bulukumba. Ilmu dan metode pembelajarannya sama. Daya juang dan daya tahan dalam proses belajar yang berkelanjutan akan diuji melalui perjalanan waktu yang akan membuktikan segalanya.
Menjadi juara olimpiade bahasa Inggris atau juara apapun juga itu baik namun yang lebih baik adalah ilmu pengetahuannya karena itulah yang mengantarkan pelajar kita menjadi juara dan berbuat hal-hal penting lainnya yang erat kaitannya dalam menjalani kehidupan.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 25 Juli 2026

Tinggalkan Balasan