Kebersihan pantai adalah masalah utama yang dihadapi Bulukumba yang kaya dengan beragam keindahan pantai. Persoalan ini tidak ada habisnya. Sampah plastik kiriman dari laut dan sampah dari darat menutup pasir putih Bira yang telah terkenal di mana mana.
Kesadaran kita memang sedang diuji. Uang yang begitu besar mengalir dari sektor wisata dan pantai yang indah yang menjadikan nama Bulukumba populer masih saja terkepung dengan persoalan klasik ini.
Sebagai langkah konkret, para pemerhati lingkunganlah yang turun langsung mengadakan agenda rutin membersihkan pantai
Untuk mengetahui jumlah sampah plastik yang dikumpulkan, mari kita sejenak melirik capaian pemerhati lingkungan ini dalam bentuk ukuran berat.
Bulan April, 1.400 kg
Mei, 169,3 kg
Juni, 245 kg
Juli, 37,2 kg
Total : 1.848,2 kg.
Sekadar catatan, jumlah plastik terkumpul pada bulan Juli lebih sedikit bukan karena plastik sudah jarang ditemukan di pantai tetapi karena keterbatasan jumlah relawan yang sempat turun ke lapangan secara langsung.
Dalam waktu dekat, 2 ton plastik akan dikumpulkan. Jumlah sampah ini belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan plastik yang tidur pulas di sepanjang pantai merusak kenyamanan semua orang yang berada di pantai termasuk para bule senang bermandikan matahari.
Data ini diperoleh dari Sudar, seorang pelatih penyelam di Indo Ocean, berkonsentrasi di Pantai Bira dan Marumasa. Sudar tidak sendirian. Beberapa pemerhati lingkungan dari masyarakat setempat yang biasa turut ambil bagian kerja bakti sosial ini adalah mahasiswa KKN UGM di Desa Bira, Dego-Dego Na Bira, Nusa Bira Indah, dan termasuk Pemerintah Desa Bira juga menggalakkan gerakan ini dengan mengajak rakyatnya membersihkan area dekat pelabuhan dan Pantai Panrang Luhu.
Sewaktu baru saja selesai membersihkan pantai di Bira (22/07), penulis berbicara santai dengan beberapa wisatawan yang berada di sekitar pantai. Beberapa orang Belanda yang penulis temani berbicara terkesan dengan aktivitas yang dilakukan. Penulis menyatakan hadir untuk mendukung dengan mencatatkan kegiatan ini, menyebarkannya di media sosial agar lebih banyak orang tergugah dan peduli hal-hal kecil yang berdampak besar.
Membangkitkan kesadaran sosial itu memang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang sangat panjang; lebih panjang dari hamparan pasir putih di Bulukumba. Dari dahulu hingga sekarang persoalan plastik belum selesai. Bahkan, Pemerintah Daerah Bulukumba pun yang mempunyai kekuatan yang memaksa melalui aturan regulasi masih belum punya tenaga yang cukup untuk menuntaskannya. Mereka memang berbuat, tetapi kenyataannya, sebaran plastik masih sangat melimpah. Artinya, tenaga yang mereka miliki masih sangat terbatas dibandingkan dengan plastik yang melintas batas.
Tapi bukan berarti bahwa kita harus menyerah. Seorang relawan plastik dari Jepang yang tinggal selama dua tahun di Bulukumba pernah menjadi relawan di Dinas Lingkungan Hidup Bulukumba menyatakan bahwa Jepang saja butuh 40 tahun mengkampanyekan diri agar plastik tidak dibuang di sembarang tempat. Indonesia khususnya di Bulukumba selama berpuluh-puluh tahun masih sedang menghadapi hari-hari yang panjang bertarung kewalahan sampah plastik yang belum tahu kapan bisa tuntas.
Yang jelas, ini adalah tantangan pemerhati lingkungan dan pemerintah untuk terus-menerus berusaha tiada henti. Hanya dengan tindakan ini kita dapat yakin bahwa suatu saat, pantai kita ini terbebas dari plastik.
Apakah kita membutuhkan jumlah relawan yang lebih banyak dari jumlah plastik atau apakah Pemerintah Daerah mempunyai langkah strategis yang membuat orang yang buang plastik di sembarang tempat itu mengangkat kedua tangan untuk menyerah? Atau, apakah plastik itu bagian dari keindahan sehingga harus dipertahankan keberadaannya di pantai?
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu 22 Juli 2026

Tinggalkan Balasan