Ruang Bebas Belajar Sepanjang Hayat

Kejadian ini cukup mengejutkan. Setelah jam istirahat selesai, anak-anak meminta untuk tidak belajar lagi. Terlihat kompak, satu suara. Penulis yang bertugas mengajar bertanya dalam hati, ada apa gerangan? Mungkin saja, mereka kecapekan atau mau melanjutkan permainannya yang belum selesai.

Waktu yang tersisa sepuluh menit. “Okelah. Kalian boleh tidak belajar di kelas,” kata penulis. “Silakan buat sesuatu yang menarik menurut kalian.” Tanpa komando, segelintir anak-anak mengisi kursi yang ada di depan ruang kelas. Mereka duduk membicarakan sesuatu dalam bahasa Inggris dicampur dengan bahasa Indonesia.

Ternyata mereka membuat games dalam bahasa Inggris. Seseorang yang bertanya dan yang lain berpikir dan berlomba menjawab. Orang yang memberikan jawaban yang benar berhak memberikan pertanyaan.

Mengapa anak-anak itu tidak melibatkan guru? Mereka percaya bahwa mereka bisa membuat sesuatu hal yang menarik. Kreativitas berpikir menciptakan kemandirian, tanpa ketergantungan kepada guru. Guru yang menghargai kreativitas pasti tidak merasa tersinggung bila tidak diajak, tapi malahan bangga dengan upaya kemandirian yang dilakukan para pelajarnya.

Di sini, kita juga dapat membaca bahwa ada ruang kebebasan yang sengaja diciptakan. Anak-anak tidak merasa sungkan menyampaikan pendapatnya yang cenderung berbeda dengan gurunya. Dari perbedaan tersebut, ternyata mereka membuat sesuatu yang gurunya pun tidak pernah membayangkannya. Itu sungguh menggugah pikiran dan mengejutkan suasana.

Apa yang kita harapkan lebih jauh dari para pelajar kita adalah bahwa ke depan, mereka bisa menciptakan lingkungan belajar di mana pun berada. Keberadaan mereka di Rumah Belajar Bersama (RBB)—tempat utama mereka Belajar bahasa Inggris dan berpikir bebas—hanyalah sementara. Mereka akan tumbuh dewasa, meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu atau bekerja di suatu tempat, entah di mana. Bekal kreativitas belajar tersebut yang mereka bawa dan dapat diterapkan di wilayah tempat tinggal mereka sehingga dunia belajar itu terus berjalan.

Apakah kita juga penganut paham pembelajar sepanjang hayat?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at 17 Juli 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *