Metode Lintas Usia: Kotak Kosong dan Batu

Berangkat dari sebuah pertanyaan berani, “Saya sudah hafal Tenses,” kata Fifi, pelajar di Kampung Belajar. Novi, rekan kelas Fifi, mengatakan hal yang sama. Tersirat makna bahwa materi tersebut sebagai hal biasa saja. Mereka butuh tantangan baru.

Guru kelas tahu bahwa kedua pelajar tersebut butuh istirahat sejenak. Setelah itu, mereka kembali berlatih berbekal kotak-kotak kosong tenses. Apa yang mereka katakan tadi benar—mampu praktik lisan tenses secara teratur di luar kepala. Ayla, Fauzan, dan Faika yang cukup bagus pemahamannya diajak memberikan soal secara acak.

Saat mereka berlatih bersama, terdapat sedikit hambatan. Soal yang diberikan tidak cukup variatif, tetapi sebagai pengantar, itu sudah lumayan. Guru kelas tidak puas. Ia menargetkan para muridnya punya kecepatan dalam menjawab.

Di hari berikutnya, Adeeva, anak kelas IV Sekolah Dasar yang juga peraih emas Olimpiade bahasa Inggris pada Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS), diajak bergabung. Ia terlihat sungkan dan masih agak kewalahan juga membuat soal lisan secara acak. Sebagai alternatif, mereka sama-sama berlatih secara bergantian saling memberikan soal untuk dijawab. Perlahan-lahan, mereka tahu cara membuat soal acak yang memancing adrenalin untuk menjawab soal dengan cepat.

Anak-anak ini juga mendapatkan pelatihan irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan), sebuah pengantar agar mereka tidak kewalahan mempelajari tenses nantinya.

Keakraban pun tumbuh secara alami. Untuk menumbuhkan kepercayaan diri, keenam pelajar tersebut memimpin kelas secara bergantian—satu orang menyebut kalimat. Misal: She was catching a ball, past progressive tense (Dia sedang menangkap sebuah bola, tenses pada past progressive). Kemudian, yang memimpin meletakkan sebuah batu di atas kotak kosong. Bila batu itu berada di kotak kosong present perfect progressive dengan perintah negative interrogative, mereka pun berlomba-lomba mengubah kalimatnya menjadi “hasn’t she been catching a ball?”. Perpindahan kalimat ini terus dilakukan hingga seluruh perubahan kalimat tenses tuntas.

Kumpulan pelajar di Kampung Belajar.

Latihan bersama ini menutup celah dalam kelambanan menjawab. Selain itu, yang memimpin kelas sudah berpikir membuat soal yang sulit dijawab—mereka sudah sama-sama tahu bahwa soal yang tidak menjebak dengan mudah ditaklukkan. Kualitas pelajaran meningkat berkat kreativitas mereka sendiri.

Perlombaan menjawab soal latihan.

Itu desain Kampung Belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB). Mengolah dan berbagi pengetahuan sesama rekan untuk memperdalam pemahaman. Setiap kali pelajar merasa pemahamannya meningkat seperti yang disampaikan Fifi dan Novi, maka tingkatan materi pun dengan sendirinya ditambah—materi disampaikan secara bertahap, terukur, dan sistematis agar mereka mampu menyerapnya dengan baik dan disebarkan kepada sesama.

Bukankah orang menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat itu tidak akan mengurangi ilmu pengetahuannya?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at 3 Juli 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *