Orang yang datang tepat waktu itu menggembirakan. A. Zafira Aeesyaputri punya cara cerdas untuk tidak terlambat datang belajar. Ia biasanya tiba di RBB (Rumah Belajar Bersama) sebelum jam 19.00 di mana kelasnya mulai 19.15 Wita, Senin sampai Jum’at. Waktu luang itu ia gunakan untuk makan malam dan bermain sembari menanti jam belajar tiba.
Pada waktu jam belajar, Aeesya tidak terlalu peduli dengan literasi–dunia anak memang begitu. Tapi ia sangat menikmati pelajaran bila saja yang di dekat tempat duduknya adalah rekan yang punya semangat belajar yang bagus. Ia sangat perhatian pada bacaannya tanpa harus diminta. Kebalikannya sudah bisa ditebak. Bila rekan-rekan yang duduk disampingnya suka bermain saja, kelas jadi riuh, penuh canda tawa.
Strategi lain yang kita gunakan pada Aeesyah yaitu memintanya membaca seorang diri ketika ia terpisah dari rekan kumpulan bermainnya. Awalnya, ia pasti menolak. Penolakannya itu berbuah penerimaan bila kita mengajaknya berdialog dengan elegan.
“Aeesya, membaca yuk?”,
“Capekka Mr.”, katanya. “Saya sudah membaca bersama-sama dengan teman-teman tadi”.
“Mau pintar seperti temanmu Faika atau Adeeva?”, tanya guru.
“Mau”, jawabnya cepat.
“Apa yang mereka lakukan?” Pertanyaan ini mengajak Aeesya menemukan jawaban sendiri.
“Membaca”, balasnya..
“Kalau begitu, supaya Aeesya tambah pintar juga, ayo membaca”, sang guru menatap serius wajah Aeesya. “Nanti saya bantu kalau ada yang sulit dimengerti”, lanjut gurunya.
Aeesya berpikir sejenak. “Tapi sedikit saja kubaca?” harapnya.
“Iya. Yang penting, Aeesya mau membaca. Kalau sudah mau, kamu pasti akan jadi hebat”, kata gurunya meyakinkan.
Aeesya terkadang lupa bahwa ia sudah banyak membaca dan terus disemangati. Ia akan sadar bila ia melihat rekannya yang lain asyik bermain atau kalau ia sudah merasa capek. Itu waktu tepat untuk membuatnya bersenda gurau dengan teman-temannya.
Meyakinkan anak-anak bahwa mereka hebat, pintar, cerdas serta segala kosa-kata yang memotivasi semangat belajar harus selalu kita dengungkan disertai usaha mencari cara agar mereka mau berusaha. Tidak boleh hanya motivasi kosong–harus serta merta diikuti dengan pendampingan.
Tugas guru yang tercerahkan bukan sebatas jam belajar. Jam luang anak-anaknya bisa dimanfaatkan untuk belajar asalkan mereka tidak merasa terpaksa. Guru harus mampu berpikir maksimalkan waktu anak didiknya untuk lebih banyak belajar daripada bermain. Setelah itu, kreativitas berpikir mengelola kelas lebih efektif pasti ditemukan seiring perjalanan waktu.
Waktu itu sangat berharga. Orang barat bilang, time is money (Waktu adalah uang). Dalam ajaran Islam, Tuhan bersumpah, demi waktu. Kita diwajibkan untuk tidak membuang waktu percuma. Aeesya dan semua anak-anak yang sering datang belajar tepat waktu punya kesempatan lebih besar untuk belajar lebih dari yang lainnya.
Apakah kita punya alasan yang cukup untuk menyia-nyiakannya waktu?
Zulkarnain Patwa
Senin, 25 Mei 2026

Tinggalkan Balasan