Sejak kecil kami berdua sudah sering berantem karena perbedaan paham. Tidak ada yang mengalah dan mau kalah. Ia hebat dalam berhitung dan menganalisa masalah dengan terstruktur. Bakat itu ia peroleh dari Ummi (ibu, terjemahan khas Indonesia) kami. Sedangkan penulis terbiasa membaca buku yang diperoleh dari kebiasaan ayah kami.
Karena Saiful Patwa adalah kakak dan badan lebih besar, penulis lebih banyak tertindas semasa kecil. Penulis cuma pernah memberinya tendangan Mawashi Geri (istilah karate yang berarti roundhouse kick, tendangan melingkar) ke arah punggungnya dengan keras dan ia tidak sempat membalas karena ayah dan ibuku segera melerai. Ia tidak pernah membalasnya dan menganggapnya persoalan itu sudah lama berlalu, marahnya sudah kadaluarsa.
Sebenarnya sih, perkelahian itu tidak berhenti. Benturan fisik tidak pernah terjadi lagi tapi berlanjut ke perang pemikiran. Kecerdasan Kak Iful telah dikenal sejak SD 234 Kalumpang, Kec. Bonto Tiro, Bulukumba. Ia selalu saja dapat nilai sepuluh dan akrab dengan panggilan Sampulo (sepuluh)–Itu pujian tapi dirinya sepertinya kurang tertarik. Penulis pernah memanggilnya ‘Sampulo’ dan dibalas ‘Kujaguruko intu’, (Kutinju kamu) balasnya. Mungkin saja itu ditafsirkan ejekan karena ia punya nama panggilan, Iful. Heran juga. Orang lain yang bicara, tidak diapa apain namun kalau ke penulis kena ancaman.
Di SMPN 1 Bulukumba, sebagian guru memanggil penulis dengan nama Iful padahal nama panggilan penulis Nain. Di SMAN 1 Bulukumba, ia pelajar terbaik lagi, mewakili Bulukumba untuk sekolah khusus di Makassar. Lagi lagi nama Iful pun melekat pada penulis padahal saya kurang tertarik dengan pelajaran sekolah sebagaimana Kak Iful. Bacaan penulis kebanyakan bukan buku sekolah. Pelajaran sekolah itu penting dipelajari kalau mau ujian saja.
Wasit Juri Karate
Kak Iful lebih dahulu masuk karate di INKAI Kodim 1411 Bulukumba. Berkat dirinya, penulis tertarik.gabung. Kebiasaan sipatappasa (Saling membanting semacam gulat,) kalau berkelahi di kampung berubah pada kecepatan pukulan dan tendangan. Namun kebersamaan tidaklah berlangsung lama karena ia sudah harus sekolah di Makassar sebagaimana disebutkan di atas.
Saling tes kecerdasan di karate mulai muncul sejak kami ikut Ujian Wasit Juri Karate, 2023 di FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan. Ia lulus sebagai bagian dari peserta ujian tulis terbaik pada Kumite dan poinnya sedikit lebih tinggi dari penulis. Kak Iful bilang, ‘Tidak usah lawan saya. Kamu kalah’, katanya sambil tertawa. ‘Saya bisa membalas pada ujian berikutnya’. Pada 2024, kami sama-sama telah belajar serius ke Jakarta untuk ujian Wasit Juri Nasional INKAI. Sayangnya, entah karena apa, hasil tidak keluar. Tidak ada pemenang.
13 sampai 15 April 2026, FORKI Sulawesi Selatan kembali mengadakan ujian Wasit Juri Karate. Pada ujian tulis Kumite (Pertarungan), Kak Iful menang angka, penulis kalah angka tapi pada Kata (Jurus), penulis menang angka, Kak Iful Kalah angka. Skor berimbang, satu sama.
Selanjutnya, kesialan mulai tampak. Pada praktek Kumite, kami sama sama lulus. Pada ujian praktek praktek Kata, Kak Iful lulus, penulis tidak lulus. Lagi lagi ia memang satu. Ujian lain yaitu Sertifikasi Pelatih, kami sama sama lulus. Penilaiannya hanya bersandar pada ujian tulis Kumite atau Kata.
Penulis dengan lapang hati memberinya selamat sembari mengingatkan bahwa untuk ujian tingkat Daerah sampai Nasional, dirinya bolehlah tersenyum lebar, soal soalnya masih dalam Bahasa Indonesia. Kalau sudah luar Indonesia, nah kusarankan agar ia mau belajar ke penulis menghadapi trik soal soal berbahasa Inggris. Dengan percaya diri ia mengatakan, ‘Saya bisa Bahasa Inggris’. Maksudnya, ia tidak aktif komunikasi Inggris di rumah semasa ayah kami masih hidup namun ia cukup punya pemahaman saat membaca teks Inggris. Apa iya? Pada waktunya nanti, ia pasti akan bertanya.
Perseturuan ini asyik untuk dipelihara. Kami suka dan terbiasa perbedaan ‘berantem pendapat’ dan berjuang dengan cara sendiri. Dari perseturuan positif ini, kami malahan tambah semangat belajar untuk menambah pengetahuan dan untuk saling meledek.
Zulkarnain Patwa
Makassar, Kamis, 16 April 2026

Tinggalkan Balasan