Inilah Pendidikan Merdeka

Dalam sebuah ruang kelas yang menghargai kebebasan berekspresi, para pelajar akan berbicara sesuka hati. Mereka yang masih belum mempunyai kebiasaan belajar akan membahas hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan pelajaran. Ini sangat mempengaruhi ruangan yang membuat suasana tidak menjadi kondusif. Terlebih, bila para pelajar yang lainnya ikut-ikutan bergosip. Suara gaduh menenggelamkan suara penjelasan guru. Bila guru itu marah, percuma saja. Mereka hanya akan diam, sejenak. Setelah itu, keadaan kembali tidak terkontrol.

Kebebasan. Itulah impian setiap manusia. Anak-anak yang meskipun belum tahu makna kebebasan: diperoleh dari hasil perjuangan lewat darah dan air mata semisal perlawanan melawan penjajah, tidak ingin dikekang karena pada dasarnya, setiap manusia itu dilahirkan untuk merdeka. Tidak ada seorangpun berhak untuk memenjarakan pikiran, hati, dan fisik mereka.

Sejak usia dini, kebebasan dalam bentuk nyata yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari mesti ditanamkan. Kegaduhan yang tidak terkontrol itu bukan kesalahan anak-anak, melainkan cara guru yang masih dalam tahap berproses mengelola kelas berdasarkan paham kebebasan berpendapat. Dengan menemukan masalah, ia berpikir mencari solusi yang tepat.

Mengajarkan kebebasan dengan mengingatkan bahwa kebebasan itu dibatasi oleh orang lain. Silakan berbicara asalkan itu tidak mengganggu orang lain yang belajar. Dalam arti lain, volume suara diatur agar tidak ribut. Untuk membuat mereka sadar bahwa gosip tidak berfaedah itu sebaiknya ditunda saja karena orang tua mereka mengikutkan mereka ke kelas belajar tambahan di luar sekolah untuk mendapatkan ilmu, bukan untuk memperdalam keahlian bergosip. Jurus ini cukup ampuh saat diterangkan. Hanya saja, itu bertahan sekejap saja. Setelah beberapa waktu, dengan mudah nasihat itu terlupakan.

Bagi guru yang tidak kehabisan akal, ini adalah tantangan yang menarik. Sang guru kemudian berpikir untuk memasukkan tantangan itu ke dalam diri para pelajarnya dengan jalan membuat karya. Ia membuat soal-soal—bukan kutipan internet atau buatan artificial intelligence (AI) yang kering dengan sentuhan jiwa manusia—yang isinya selain untuk memahamkan pelajaran, soal-soal itu juga erat dengan kehidupan para pelajarnya, terasa lebih membumi. Anak-anak sangat senang bila namanya tertera dalam lembaran kertas dan dikaitkan dengan rekan-rekannya. Gosipnya berubah ke arah yang positif. Mereka membahas nama-nama yang tertera dan saling berdiskusi mencari solusi pada masalah yang diberikan.

Kumpulan soal itu bernama Metode 40. Jumlahnya memang sangat banyak, tetapi tidak menjadi beban karena setiap satu materi hanya terdiri dari 40 soal saja. Setiap menyelesaikan satu materi, mereka merasa tertantang lagi untuk mengerjakan yang lainnya. Aktivitas kesibukan yang banyak berbicara kini beralih ke menulis sambil bicara yang tidak mengarah ke pembicaraan yang tidak berfaedah. Ini karena anak-anak yang suka bergosip itu diajak bergaul dengan anak-anak yang rajin belajar. Mereka kemudian menciptakan sendiri lingkungan belajar yang lebih semarak. Karena keasyikan, mereka sampai lupa meminta waktu keluar main.

Tetapi namanya juga manusia, pasti ada lelahnya juga. Dari sepuluh anak, tiga anak yaitu Adam, Adeeva, dan Belva setelah mengerjakan ratusan soal menyatakan diri capek. “Silakan istirahat kalau capek,” kata guru. Kata ‘keluar main’ tidak digunakan agar pikiran pelajar yang lain tidak mengingat waktu istirahat—membiarkan mereka tetap sibuk berpikir dan menulis. Ketiga anak itu beristirahat tanpa diberikan batas waktu, bebas. Setelah beberapa menit menikmati makanan dan minuman, mereka sudah bugar dan sepertinya terpengaruh dengan lingkungan belajar yang terlihat santai namun serius dalam mengerjakan tugas. Guru hanya memperhatikan tanpa memaksakan, hanya memikirkan apakah waktu istirahat bertambah atau tidak. Mereka, tanpa permintaan guru, memutuskan untuk belajar. Suasana hatinya tidak jauh berbeda saat bermain, bebas memutuskan apa yang mau dibicarakan, tetapi karena mereka berhadapan dengan kertas, mereka membahas pelajaran.

Kebebasan itu dapat terwujud bila kita sebagai orang dewasa khususnya dalam hal ini guru terlebih dahulu berpikir bebas dan tabah menjalankan prinsip kebebasan itu. Sejatinya, pendidikan yang bertujuan mengubah cara pandang manusia harus bisa membebaskan. Hanya orang yang merdeka yang tidak ingin memenjarakan pikiran dan fisik orang lain.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 15 Oktober 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Metode 40 Meng(h)ajar Kebuntuan Berbahasa Inggris

Kendala yang paling sering mengganggu para pelajar grammar (tata bahasa) adalah kemampuan berbicara. Waktu mereka…

1 hari ago

Membongkar Mitos Berbahasa Inggris

Banyak orang berpikir bahwa belajar bahasa Inggris itu diukur dengan kemampuan berbicara. Pada satu tahap,…

2 hari ago

Hentikan Pembodohan Anak Pada Bahasa Inggris

Mengenali beragam kosakata itu penting, tetapi membiarkan pembelajar pemula tersesat tanpa arah adalah bentuk pembodohan…

3 hari ago

Dari “Bad Day” Menuju “Wonderful Day”

Sebuah keluhan anak-anak, What a "bad day!" (Betapa buruk hari ini!) merupakan gambaran pelajaran yang…

4 hari ago

Hancurkan Pembelajaran Menyiksa Anak

Konsep bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain bagi anak-anak itu tidak pernah lekang ditelan…

6 hari ago

Menantang Mitos Kurikulum Bahasa Inggris

Segera setelah belajar online dengan Salma Minasaroh, pendiri lembaga GAIA di Pati, Jawa Tengah, kepada…

6 hari ago