Suasana kelas yang sedang tidak padat membuat penulis punya kesempatan lebih dalam merancang para pelajar ini untuk melatih kepemimpinan saat belajar Bahasa Inggris. Hal yang pertama dilakukan adalah menunjuk Adeeva sebagai pemimpin karena dia adalah anak satu-satunya yang telah tamat dua buku cerita berbahasa Inggris dan menyelesaikan soal soal cerita. Buku ketiga yang sedang ia pelajari sekarang pun hampir tamat. Pelajar yang lain masih tahap sedang berusaha menamatkan buku satu dan dua.
Adeeva menerima tawaran tersebut dan mendapatkan hak mengendalikan kelas sesukanya selama 30 menit. Sebelum Adeeva meminta rekan rekannya membaca buku cerita tahap kedua, Belva mengusulkan, “Saya juga mau memimpin kelas, Mr. Boleh?”
Penulis berkata, “Kepemimpinan telah jatuh kepada Adeeva. Silahkan sampaikan usulanmu kepadanya”.
“Setelah Adeeva memimpin satu bacaan, bolehkah saya yang memimpin? Lalu Gavino dan Aliza memimpin juga setelah saya selesai”, kata Belva penuh harap.
“Boleh”, jawab Adeeva singkat.
Semua berteriak, “Hore”.
Maka kelas sekitar 20 menit berjalan sesuai kesepakatan mereka. Karena waktu belum habis, kepemimpinan pun kembali ke Adeeva. Ia mengusulkan untuk praktek lisan pada preposition of place (Kata depan untuk tempat)–Pemantapan materi yang telah dipelajari sehari sebelumnya. Semuanya mengaku telah lancar dan satu persatu secara bergiliran praktek di depan Adeeva.
Waktu istirahat diberikan selama 15 menit.
Pada 45 menit yang tersisa, Belva mengusulkan sesuatu lagi.
“Mr., setiap orang membaca satu lesson yang sesuai pilihannya”.
Ide yang bagus. “Oke. Bagaimana yang lain? Sepakat?” tanya penulis.
“Sepakat”, kata anak anak serentak.
“Baiklah. Tapi yang dibaca bukan hanya cerita pada lesson tapi juga soal-soalnya agar bacaan kalian lebih mantap”. Tidak ada yang keberatan.
Gavino dan Aliza mengambil bacaan yang mudah. Karena bebas memilih, tidak ada protes. Sedangkan Adeeva membaca lesson yang hampir pada halaman terakhir dan dibaca dengan sangat baik.
Belva tampil beda. Ia satu satunya pelajar yang ingin membaca dua lessons.
“Saya mau dua kali membaca”, katanya.
“Tidak masalah. Silahkan saja. Itu malah lebih bagus buatmu”, kata penulis.
Saat semua telah selesai, mereka terlihat sangat puas. Mengapa? Karena usulan tentang cara belajar yang mereka inginkan dipenuhi, dimusyawarahkan dan tanpa ada paksaan.
Dari sini kita dapat melihat anak anak ini telah belajar untuk mengutarakan pendapatnya yang tanpa mereka sadari, mereka telah berlatih untuk menjadi pemimpin, mengelola kelas layaknya seorang guru yang berpengalaman karena kelas dapat berjalan sesuai target. Selain itu keberanian mengutarakan pikiran sendiri dan kepercayaan diri juga terbangun.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 16 Mei 2026.
Bridging smart teachers and talented students together has happened many times through a partnership between…
Mempertemukan guru dan pelajar berbakat telah berulang-ulang terlaksana melalui kerjasama antara GAIA di Pati, Jawa…
The classroom atmosphere which was not crowded made the writer have more opportunity in designing…
Ujian sekolah dan kuliah di dua universitas adalah ujian kehidupanmu nak yang akan menguatkanmu menghadapi…
The best (Terbaik). Ungkapan singkat dari Arrumi Putri Irbeck yang baru saja menerima sertifikat kelulusan…
Attraction and Resistance. Gentleness creates attraction. Harshness creates resistance. A mother, by her natural disposition,…
Leave a Comment