Kanal: Uncategorized

Pengakuan Kementerian Pendidikan kepada Ansar Langnge

Penemuan merubah arah pengetahuan dan dunia. Abu Ja’far Muḥammad bin Mūsā Al-Khwārizmī dikenal dengan bapak Aljabar (Algebra) dan angka nol yang berkat jasanya yang luar biasa itu, kita dapat menyaksikan pengembangan teknologi seperti penemuan komputer melalui oposisi biner (0 vs 1). Tanpa penemuan intelektual Persia (sekarang Iran) ini, kita bisa bayangkan betapa gelapnya dunia ilmu pengetahuan khususnya Matematika.

Barat yang pada masa itu di mana awalnya menggunakan angka Romawi berubah, berhasil melewati dark ages (zaman kegelapan) berkat karya-karya Al-Khwārizmī diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin oleh cendekiawan Eropa.

Nama Al-Khwārizmī sangat besar. Agar tidak muluk-muluk, mari kita tarik ke Indonesia terutama dunia pendidikan guru. Ansar Langnge, seorang guru Matematika di Bulukumba, Sulawesi Selatan mendapat pengakuan dan penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2015 berkat karyanya pada Penggunaan Alat Peraga Tongmini untuk Meningkatkan Kemampuan Menyelasaikan Pembagian Bilangan Bulat Siswa kelas VIIB SMPN 11 Bulukumba. Ansar tidak mengubah dunia seperti Al-Khwārizmī tapi ia telah memberikan peranan yang sangat besar dalam turut merubah wajah pendidikan Matematika yang begitu sangat menakutkan di sekolah-sekolah Indonesia.

Penghargaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kepada Anshar Langnge berhasil menyederhanakan Bilangan Bulat menggunakan alat peraga Tongmini.

Pembelajaran tentang bilangan bulat yang biasanya hadir di papan tulis seringkali masih terlihat abstrak dapat tergambar lebih visual dalam bentuk alat peraga dengan harga terjangkau, lebih mudah dipahami oleh siswa. Bukankah itu mengubah kerumitan  menjadi lebih kemudahan? Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa orang yang pintar itu adalah orang yang mampu menyederhanakan persoalan rumit menjadi sederhana. Guru intelek yang seperti Anshar mampu menjawab persoalan tersebut.

Setiap siswa-siswi berprestasi mandapatkan kehormatan untuk hadir di tengah lapangan dan mendapatkan apresiasi dari Ansar Langnge, Kepala Sekolah. Hal ini melahirkan kebanggaan bagi sang juara dan motivasi bagi pelajar lainnya untuk turut berjuang meraih prestasi.

”Berapa orang Sulawesi-Selatan yang mendapat penghargaan?”, tanya penulis sembari menatap piagamnya. “Saya satu-satunya guru dari Sulawesi Selatan berangkat Yogyakarta untuk menerima penghargaan itu”, katanya dengan suara tenang. Sosoknya yang ramah, murah senyum dan pandai bergaul menambah kesan bahwa ia sama sekali bukan guru killer (menakutkan. Diambil dari Bahasa Inggris: pembunuh). Dari “satu-satunya”, terbetik sebuah kritik dan harapan. Kita masih banyak kekurangan guru yang mau berkreasi meskipun Kementrian Pendidikan Pendidikan Nasional telah membuka ruang untuk berkarya. Padahal, itu adalah peluang besar untuk menaikkan kwalitas dan karir guru.

Sosok Ansar Langnge yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMPN 1 Bulukumba, Sulawesi Selatan. Selama dalam kepemimpinannya, sekolah ini makin terus meningkatkan jumlah siswa siswi berprestasi mulai dari lokal hingga nasional.

Ansar kini menjabat (Kepsek) Kepala Sekolah SMPN 1 Bulukumba, sebuah sekolah lokal terbaik dari generasi ke generasi. Perpaduan antara sosok Kepsek inovatif dengan siswa-siswi berbakat menambah daya ledak kemajuan sekolah ini. Karena begitu banyaknya yang berprestasi, ia mengatakan tiap minggu, maksudnya Senin di hari upacara, ada proses penghormatan kepada siswa siswi yang berprestasi akademik dan akademik meliputi juara tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional. Bagaimana bisa sehebat itu? Menurutnya, sekolah melakukan pemetaan yang terstruktur dan rapi pada pengenalan pada bakat dan minat siswa dan kemudian mendorong siswa tersebut mengikuti lomba.

Ansar Langnge juga aktif membangun jaringan dan memperkuat ikatan persaudaraan. Pada foto ini, ia melantik IKA (Ikatan Alumni) SMPN 1 Bulukumba, 2026.

Bangunan fisik sekolah yang megah dilengkapi segala fasilitas pendukungnya—Betapapun itu super penting—memang menjadi kebanggaan, digembor-gemborkan sebagai sebuah kemajuan mentereng tapi apa guna semua itu bila otak siswanya kosong? Sekolah sekedar sebagai alat legitimasi mendapatkan ijazah, pemikiran mundur layaknya dark ages, masa kelam Eropa. Sekolah bukan iklan hotel mewah bintang lima. Iklan terbaik sekolah adalah bukti peningkatan kwalitas sumber daya manusia yang dapat meyakinkan para siswanya menuntut ilmu itu sangat penting agar punya masa depan.

Banyak lemari berisi Piala juara siswa siswi SMPN 1 Bulukumba di ruang Kepala Sekolah.

Bila barat berinisiatif mengejar ketertinggalannya dengan menerjemahkan karya Al-Khwārizmī dan kemudian diterjemahkan ke segala bahasa, apakah karya Ansar Langnge itu dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah dan Pusat untuk diterapkan di sekolah?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, 3 Mei 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Dari Hal Biasa ke Luar Biasa

"Memilih lesson (Pelajaran), Mr.", anak anak mengusulkan ketika kelas baru saja mulai. Usulan diterima. "Okay.…

2 hari ago

Children’s Leadership Training

Adam was the star that night . He has gained the trust to lead two…

2 hari ago

Dua Bersaudara

Dua orang bersaudara yang waktu pulang sekolahnya aktif dengan kegiatan. Tita dan Zhah telah mengikuti…

2 hari ago

Melatih Kepemimpinan Anak

Adam jadi bintang malam ini. Ia mendapatkan kepercayaan untuk memimpin dua orang rekannya Abizar dan…

3 hari ago

Belajar tanpa Batas

"Better" (Lebih baik). Itulah ekspresi pengembangan dikatakan oleh Miss Salma Minasaroh dari Lembaga GAIA di…

3 hari ago

Inisiatif untuk Cepat Pintar

Kesan yang sangat menggembirakan. Pada waktu sedang istirahat, Zhah Noor Aisyah, pelajar kelas Malam Reading…

3 hari ago