Ayatullah Ali Khamenei terkenal dengan sosok pemimpin Islam di Iran dengan kesederhanaannya. Di Indonesia juga ada tapi itu bukan presiden atau pejabat negara tapi pemimpin adat yang bernama Amma Toa, pimpinan ada di Kajang yang kehidupan masyarakatnya murni menyatu dengan alam. Kehidupan Amma Toa dan rakyatnya sungguh sederhana. Jangankan listrik, semua hal-hal yang berbau modernitas tidak boleh masuk di kawasan adat, Kajang Dalam. Bagi masyarakatnya yang ingin bersandingan dengan modernitas, silahkan saja tinggal luar kawasan adat, Kajang Luar.
Pada Minggu (5/04/2026), penulis menghadiri pesta pernikahan anak kandung Amma Toa bernama Jaja Ramlah di Kajang Luar. Saat bersalaman dengan pengantin, Ramlah mengatakan, “Terima kasih Pung Nain’. Tentu penulis kaget. Dari mana ia mengenalku? Kan bukan orang terkenal. Penulis memang sering berkunjung ke rumah Amma Toa menemani tamu wisatawan mancanegara dan tokoh tokoh nasional termasuk Dina Sulaeman, pakar Timur Tengah (Tinur Barat) yang konsentrasi pada pembebasan rakyat Palestina dari penjajahan Israel tapi tidak pernah bertemu Ramlah. Tak ingin kikuk, segera setelah Ramlah bicara, ucapan “Semoga pernikahan kalian bahagia dunia hingga akhirat’ untuk membuat suasana tetap terasa akrab. Sejurus kemudian, sesi foro bersama rombongan kami dengan pasangan pengantin pun terjadi.
Karena tidak banyak bisa terhubung dengan Ramlah, memori penulis langsung menghubungkan masa tiga belas tahun yang lalu, 2012 ketika memilih mengabdi untuk berbagi ilmu dengan rakyat Kajang berpusat di rumah Abdul Kahar Muslim dan SD (Sekolah Dasar) 115 Balagana — tempat Daeng Kamsuri Muslim, adik Daeng Kahar mengajar. Tepat setelah shalat subuh, anak-anak belajar di rumah Daeng Kahar dan di pagi, di sekolah. Waktu itu, belajar wajib sekolah mulai jam delapan pagi. Karena kegiatan ini hanya inisiatif dan tidak terdaftar di sekolah, jam mengajar yang penulis peroleh yaitu jam tujuh sampai delapan pagi. Wah, seru banget. Tidak menyangka, ruangan kelas selalu saja penuh karena anak-anak mau datang lebih awal. Mungkin, mereka menganggap pelajaran Bahasa Inggris itu hal baru dan menyenangkan . Ya, percakapan sehari hari dalam dalam permainan dan diterjemahkan ke dalam bahasa kaum, konjo. Sore hingga malam hari kegiatan belajar dilaksanakan lagi di rumah Daeng Kahar. Itulah yang terjadi dalam sebulan.
Keinginan untuk berbagi ilmu ke Kajang muncul ketika masih kecil dan sering berlibur panjang di rumah Daeng Kahar di tahun 90-an. Beberapa waktu sebelum acara pernikahan Daeng Kahar dengan Andi Nurlindah, penulis menyaksikan belum ada sekolah didirikan di sana. Pemandangan sehari-hari adalah anak anak dan orang dewasa terang-terangan pakai badik di pinggang sambil beraktivitas, berjalan kaki atau naik kuda menuju suatu tempat. Jalanan aspal belum ada, apalagi sekolah. Malam hari menggunakan sulo (pelita). Sesuatu hal yang sangat berbeda di kampungku di Kalumpang, Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba. Itu adalah masa di mana penulis berniat melakukan sesuatu untuk rakyat Kajang, sekecil apapun itu. Dan alhamdulillah niat itu dapat terwujud dengan menemui Daeng Kahar setelah menyelesaikan kuliah Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Dari pengabdian tahun 2012 itu, gerakan pembaharuan yang digerakkan Daeng Kahar dkk tampak. Jalanan telah beraspal, listrik dan yang paling penting sekolah mulai dari TK hingga SMA telah tersedia. Kehidupan ekonomi rakyat tumbuh dengan banyaknya rumah-rumah kayu yang baru dibangun dan para muda-mudi banyak
melanjutkan kuliah di universitas. Ini memang bukanlah Restorasi Meiji sebagaimana Jepang oleh Kaisar Meiji dengan nama asli Mutsuhito yang harus berperang menumpahkan darah para samurai untuk membuat modernitas masuk tapi sebuah jalan tengah agar rakyat Kajang tidak terhimpit dari kepungan modernisasi. Ramlah anak anak muda-mudi generasi zaman sekarang telah banyak yang sarjana dan punya beragam gagasan berkembang untuk memajukan Kajang yang tidak berbenturan dengan adat istiadatnya.
Menjaga adat-istiadat mengantarkan Kajang sebagai penjaga hutan paling lestari dunia. Para sarjana kehutanan, intelektual, pengambil kebijakan dapat bercermin dari pengetahuan dan kearifan lokal Kajang dalam menahan laju para kapitalis super rakus yang merusak dan mengeruk bumi dan memproduksi cerobong asap mencemari udara yang membuat pemanasan global. Ini juga tanda bahwa betapapun manusia jadi serba modern, ia tidak boleh tercerabut dari rumpunnya, nilai nilai luhur yang tumbuh di masyarakatnya. Bila lupa, tutup mata atau pura-pura lupa, bencana besar pasti datang mengikuti. Modernitas juga harus terkontrol, tidak boleh membiarkan keuntungan ekonomi untuk segelintir orang semata karena hal itu semakin memperparah ketimpangan sosial masyarakat.
Ayatullah Ali Khamenei, sosok pemimpin tertinggi Republik Islam Iran adalah simbol tokoh agama yang konsisten membela kaum tertindas di Palestina dan pengembangan ilmu pengetahuan rakyatnya di Iran telah mampu menunjukkan kemandirian kepada dunia, tidak bisa didikte oleh Amerika Serikat dan Israel*hell dan Amma Toa hutannya seluas sekitar 313, 99 hektar tetap bagian dari paru paru bumi tetap lestari sebagai pemimpin adat sama-sama hidup dalam kesederhanaan. Spirit agama dan budaya dapat hidup selaras yang tercermin dari sikap dan kehidupan kedua pemimpin tersebut. Kita tahu, kesederhanaan sosok teladan dari para pemimpin yang sudah begitu sulit ditemukan sekarang ini masih dapat kita temukan dari kedua tokoh ini. Mereka adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya.
Selamat mengarungi hidup baru buat Jaja Ramlah, S. I. P. dan Zulkifli T., S.Kom. Semoga kedua pasangan mendapatkan ketenangan kehidupan dan saling menyayangi.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, 8 April 2026
Empat orang Bulukumba ini termasuk penulis pernah berguru di Kampung Inggris di Desa Tulungrejo, Kec.…
Temukan cara belajar yang membuat dirimu bahagia. Itulah yang gencar diterapkan oleh guru-guru di Finlandia…
"Eh, tawwa. Juara Bahasa Inggris se-Indonesia', kata A. Zafira Aeesyah Putri. Sapaan senang itu disampaikan…
Apakah kita terbiasa melatih para pelajar kita membuat pertanyaan? Biasanya mereka dilatih menjawab pertanyaan-pertanyaan. Mereka…
Satu-satunya pelajar yang setelah pulang sekolah langsung belajar lagi adalah Rhenald Karuna Tanzil. Sekolah Rhenald…
Pernahkah anda membayangkan anak kelas 1 atau 2 SD mengerti perkalian 1 sampai 9 di…
Leave a Comment