Oplus_131072
Empat orang Bulukumba ini termasuk penulis pernah berguru di Kampung Inggris di Desa Tulungrejo, Kec. Pare, Kab. Kediri, Jawa Timur. Kami bertiga Gusti Zainal alias Mr. Agung, Mr. Ancha dan Zulkarnain Patwa alias Mr. Patwa hadir di sana di awal tahun 2000-an ke atas dan belajar bertahun-tahun tapi yang paling lama adalah Agung Pratama Salassa alias Mr. Agung (junior) yang menghabiskan tujuh tahun karena ia memutuskan untuk tinggal sambil kuliah jurusan management.
Kampung Inggris Pare itu bukanlah kumpulan universitas tapi sekedar kursus-kursus yang masing-masing berdiri sendiri dengan ciri khas pengajarannya yang kaya dengan kajian segala hal tentang Bahasa Inggris. Ada speaking, listening, pronunciation reading, and writing (bicara, mendengarkan, pengucapan, membaca dan menulis) untuk segala tingkatan. Kekayaan pengetahuan yang disertai lingkungan yang sangat kondusif plus biaya yang terjangkau menjadi daya tarik kebanyakan masyarakat Indonesia untuk datang. Dan kami adalah orang-orang yang mengakui kwalitasnya karena telah menjalani proses belajar pada pengetahuan yang ditawarkan di berbagai tempat kursus. Bahkan, Mr. Ancha yang pernah tinggal selama dua tahun mengaku ia hampir memasuki semua lembaga kursus di Pare hanya untuk mengenal metode pengajarannya dan hiburan.
Dari berbagai sudut daerah, anak Sulawesi tergolong sangat banyak dan paling terkenal karena mendirikan perkumpulan bernama Asset (Association of Sulawesi Students). Pada masa kami, kegandrungannya adalah belajar di SMART, satu satunya lembaga kursus yang memakai sistem ujian kelulusan untuk bisa naik tingkat. Bagi anak Asset, itu sungguh menarik karena terdapat tantangan untuk menaklukkan soal soal ujian SMART yang penuh dengan jebakan. Kami adalah kumpulan orang-orang yang tidak mau kalah dan untuk menang, kami harus belajar. Jelang ujian, kami dari Assets sering kali berkumpul membahas soal soal yang memungkinkan keluar. Mereka yang berada di level lebih tinggi yang membantu orang-orang yang berada di level bawah. Semua itu dilaksanakan secara gratis. Sebenarnya sih, ada budaya siri (malu yang erat kaitannya dengan harga diri) juga kalau tidak lulus. Ledekan meskipun dalam bentuk candaan menurunkan harga diri juga, sungguh tidak enak didengarkan.
Patut diakui, soal soal SMART itu sungguh luar biasa, jebakannya cerdas. Meskipun sudah pontang panting belajar, hanya segelintir saja anak Asset yang lulus. Tapi namanya juga turunan pelaut dan petarung, Assets tetap saja terus mengadakan pelatihan hingga anggotanya banyak lulus. Miss Agustina Dewi, salah satu pengajar pintar di SMART dan selalu digosipin kecantikannya pada waktu itu, terheran-heran dan kagum dengan spirit belajar anak-anak Asset.
Dari hasil obrolan pada nostalgia yang terpampang di foto, daya tarik SMART dan Kampung Inggris secara umum adalah orang orang yang punya pemikiran kritis atau pernah belajar dasar dasar pembelajaran filsafat, materi Bahasa Inggris asyik dipanah panah dengan pertanyaan. Misal kenapa ‘an ant bites a sugar’ (Seekor semut menggigit sebutir gula) tidak boleh pakai kata ‘a’ bermakna sebutir. Kenapa ‘a’ atau ‘I’ adalah kata padahal itu huruf. Kenapa ‘We are being stupid’ (Kami sedang goblok) itu juga tidak boleh. Mungkin jawabannya karena kami pintar ya. 😀 Narsis. Kenapa, kenapa dan kenapa? Pertanyaan tiada henti.
Zaman terus bergerak. Kampung Inggris Pare telah menjadi semakin booming ditambah lagi dengan penetapan Pemerintah Daerah Kab. Kediri yang menjadikan Kampung Inggris itu sebagai Wisata Pendidikan. Frase ‘Wisata Pendidikan’ itu mendapat kritik dari Miss Uun Nurcahyanti, pendiri SMART. Mana mungkin orang belajar sekedar liburan sekolah dalam dua minggu atau sebulan atau dua bulan itu bisa menghasilkan kwalitas yang baik? Secara ekonomi itu bagus saja meningkatkan penghasilan masyarakat setempat dan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Manusia memang tumpah ruah ke Pare tapi patut diingat bahwa yang paling penting dikedepankan adalah proses belajar yang tersistematis dan itu prosesnya pasti tidak bisa instan, butuh waktu. Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan harus mengedepankan kwalitas, bukan jumlah betapapun jumlah itu tetap penting untuk menggerakkan lembaga. Pendidikan itu bukan pasar.
Kami berempat dari Bulukumba, ujung Sulawesi Selatan pada peta berhuruf K merupakan sekumpulan kecil manusia yang tanpa pernah bersepakat untuk bertemu dan hidup selama bertahun-tahun di Kampung Inggris telah menikmati, memperoleh dan sedikit banyak mengerti spirit pendidikan yang diusung di sana tentu akan berupaya untuk menjaga dan mengembangkan proses belajar yang bertahap dan terukur. Kita ingin turut terlibat mencetak generasi yang dengan pengetahuannya mampu menjawab tuntutan perubahan zaman.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, 7 April 2026
Note:
1. Special to Mr. S Lainin Nafis di Kampung Inggris sana, dapat salam dari Mr. Agung. Semoga lembaga yang anda buat terus maju.
2. Matematika
Di Kampung Inggris Pare itu juga menyediakan kursus Matematika. Salah satu yang menjadi rekomendasi adalah Math Master yang membuat penyempurnaan dari kelemahan Sempoa Cina, Rusia dan Jepang. Namanya sempoa 99 yang ditemukan oleh Mr. Saefuddin. Anda bisa mengenal lebih jauh dengan menghubungi akun FB Mariyanti Yanti
Ayatullah Ali Khamenei terkenal dengan sosok pemimpin Islam di Iran dengan kesederhanaannya. Di Indonesia juga…
Temukan cara belajar yang membuat dirimu bahagia. Itulah yang gencar diterapkan oleh guru-guru di Finlandia…
"Eh, tawwa. Juara Bahasa Inggris se-Indonesia', kata A. Zafira Aeesyah Putri. Sapaan senang itu disampaikan…
Apakah kita terbiasa melatih para pelajar kita membuat pertanyaan? Biasanya mereka dilatih menjawab pertanyaan-pertanyaan. Mereka…
Satu-satunya pelajar yang setelah pulang sekolah langsung belajar lagi adalah Rhenald Karuna Tanzil. Sekolah Rhenald…
Pernahkah anda membayangkan anak kelas 1 atau 2 SD mengerti perkalian 1 sampai 9 di…
Leave a Comment