Kategori: Program

Program dan mata pelajaran dari Rumah Belajar Bersama

  • Agung: Memecahkan Kebuntuan Masa Muda

    Agung: Memecahkan Kebuntuan Masa Muda

    Apa yang pemuda harus lakukan? Di tengah kebingungan putus kuliah di Makassar, Agung Pratama Salassa memecah kebuntuan berpikir dengan menemukan langkah yang tepat membangun masa depan. Ia memutuskan pergi jauh belajar Bahasa di Kampung Inggris, Desa Tulungrejo, Kediri,  Jawa Timur. Tidak tanggung-tanggung, ia tinggal selama tujuh tahun di sana.

    Pemuda Bulukumba hanya berbekal informasi berangkat seorang diri, tidak mengenal siapa pun. Saat tiba di Camp Asset (Associtaon of Sulawesi Students) di kampung Inggris, orang-orang Sulawesi tidak langsung percaya begitu saja. Ia orang asing dan diinterogasi. Karena niatnya yang benar, interogasi malah berbuah keparcayaan. Agung diterima. Dari situ, ia tahu bahwa terdapat ribuan pelajar dari Sulawesi ada di kampung Inggris. Ada lima camp Asset: . Laga Ligo, Sam Ratulangi, Halu Oleo untuk Camp Putra dan Camp Tanriabeng dan Andi Depu untuk Camp Putri. Selebihnya mereka tinggal di berbagai macam Camp yang disediakan lembaga kursus atau masyarakat setempat.

    Agung Pratama Salassa, a smart gammar teacher at RBB, welcome Verena at his class. Photo Source: Rumah Belajar Bersama, 2026.

    Oleh para senior, Agung memperoleh saran yang baik. Pemula tidak perlu sok pintar. Karena itu, ia mengikuti kursus pemula tentang vocabularies (kosa kata) di mana 100 kata wajib dihapal setiap hari, Basic Speaking and grammar (Dasar berbicara dan tata bahasa). Pengetahuan yang diperoleh di kursus wajib disebarkan di Asset yang mempunyai pertemuan dua kali sehari; setelah shalat Subuh dan Maghrib secara berjamaah. Awalnya ia sulit beradaptasi. Beberapa waktu berlalu, ia sadar bahwa ternyata belajar mendalam itu adalah review (mengulangi hal-hal penting). Tinggal di Camp juga wajib Speaking English sehingga segala aktivitas keseharian otomatis berbahasa Inggris.

    Karena pemahaman dan peningkatan kwalitas belajar, Agung kecanduan belajar. Tidak terasa, ia telah belajar selama dua tahun. Ia tidak berhenti, tidak pulang kampung. Rasa ingin tahunya makin tak terbendung layaknya orang yang kehausan di tengah gurun di bawah pancaran sinar matahari membakar. Bagaimana ia bisa tinggal lebih lama? Ia merancang strategi cerdas dengan menyampaikan kepada orang tuanya bahwa ia hendak kuliah di Pare, mengambil jurusan Manajemen di  Universitas Islam Kadiri. Kenapa bukan jurusan Bahasa Inggris? Itu terlalu mudah. Ia percaya keahlian berbahasa Inggris bisa tanpa universitas. Semua kebutuhan bahasa Inggris minus skripsi telah tersedia. Dengan memilih manajemen, ia memperoleh ilmu tambahan. Usulan diterima oleh orang tua.

    Agung mencetak rekor, tujuh tahun belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris, lima tahun kuliah hingga sarjana. Orang-orang biasanya datang belajar untuk beberapa bulan atau satu sampai dua tahun. Tiga tahun itu sudah hebat. Ketika belajar Bahasa Inggris menjadi bagiabn dari kehidupan sehari-hari, perhatian Agung ketertarikan mendalam pada pronunciation (pengucapan) yang dilengkapi dengan cara membaca phonetic symbol tertera di kamus. Tantangan menyenangkan lainnya adalah grammar karena otaknya terpicu berpikir kritis untuk menemukan alasan dibalik terbentuknya suatu kalimat, frase dan kalimat. Sekelumit itu yang banyak berperan menganalisa persoalan tingkat tinggi semisal materi TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Test System).

    Agung yang setelah berada di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur, kembali ke pulang kampung di Bulukumba dan mengajar Grammar di Rumah Belajar Bersama.

    Sisi Lain Kampung Inggris
    Tinggal di kampung mengajarkan makna kemanusiaan. Agung pernah menjadi ketua di salah satu Camp Asset merasakan bagaimana cara menguatkan ikatan persaudaraan, dan  berempati. Asset sebagai perkumpulan daerah terbesar dan tertua di Pare seringkali mengadakan open donasi bagi pelajar yang tertimpa masalah, bazar untuk penggalangan dana dan donor darah. Jaringan, perkawanan dan kepercayan pun terbangun. Para pemuda juga belajar berorganisasi, menggerakkan orang banyak sebagaimana aktivitas para mahasiswa yang kuliah.

    Aktivitas belajar memang sangat kondusif. Menjelang matahari terbit, orang-orang telah ramai belajar di camp masing masing. Setelahnya, orang-orang bisa memilih lembaga kursus yang sesuai kebutuhannya mulai dari pagi hingga malam hari, pukul 21.00 Wita. Di sela-sela waktu istirahat, suasana Bahasa Inggris dapat dilakukan di mana saja. Di kantin, di jalan, di café dll karena Kampung Inggris adalah kumpulan manusia yang datang dari berbagai macam penjuru Indonesia khusus belajar Inggris.

    Kampung Inggris adalah sebuah desa.  Biaya makanan dan minuman, camp dan kursus masih terjangkau. Ada juga yang agak mahal tapi tidak harga selangit seperti di kota-kota besar. Belajar sepanjang hari disertai cuaca yang panas di siang hari membuat orang mudah lapar dan haus. Dan di malam hari cuaca cenderung lebih dingin.  Orang yang baru datang ke sana harus lebih pandai manajemen keuangan karena tanpa terasa uang habis, efek hampir segalanya serba murah sehingga uang mudah keluar. Kegagalan manajemen keuangan membuat orang tidak bisa tinggal lebih lama.

    Masyarakat setempat juga sangat welcome dengan pendatang. Penduduk menyewakan rumahnya untuk camp, kursus, kos-kosan. Sebagian membuat warung makan. Polusi rendah karena para pelajar dianjurkan bersepeda. Ini lahan bisnis yang sangat menguntungkan juga karena para pelajar mayoritas bersepeda. Penyewaan atau penjualan dan bengkel sepeda baru dan bekas tersedia di berbagai sudut.

    Kampung Inggris juga pertemuan manusia yang bercita-cita. Pelajar sekolah, mahasiswa,  pemuda-pemudi dan bahkan yang mau S 2 dan S 3 pun berkumpul di sana. Cita-citanya berbeda tapi punya kepentingan sama, Bahasa Inggris. Terdapat energi positif di mana mereka akan saling berbagi cerita bagaimana cara mewujudkan impiannya. Pola ini terbentuk secara alami, kultural.

    Inspirator Berikutnya
    Dari perjalanan kehidupan masa muda Agung, kita dapat bercermin bahwa masa muda jangan berlalu begitu saja tanpa membekali diri dengan pengetahuan. Bagi Agung, pilihannya Bahasa Inggris, berpengetahuan tinggi tanpa perlu sarjana Bahasa Inggris di universitas. Pemuda yang lain bisa memilih sendiri sesuai dengan bakatnya . Yang terpenting ialah ada sebuah inisiatif dari pemuda itu sendiri untuk merubah diri dengan melakukan sesuatu yang ia percaya dapat membangun masa depan. Agung adalah contoh pemuda dan berikutnya andalah yang menjadi inspirator berikutnya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 4 Mei 2026

  • Recognition of the Ministry of Education to Ansar Langnge

    Recognition of the Ministry of Education to Ansar Langnge

    Inventions change the course of knowledge and the world. Abu Ja’far Muḥammad bin Mūsā Al-Khwārizmī is known as the Father of Algebra and the pioneer of the number zero. For his extraordinary contributions, we witness the development of technology today, such as the computer through binary opposition (0 vs 1).

    Without the intellectual breakthrough of this Persian scholar, we can only imagine how dark the world of science—especially mathematics—would be. The West, which initially used Roman numerals, successfully transitioned through the Dark Ages because Al-Khwārizmī’s works were translated into Latin by European scholars.

    The name Al-Khwārizmī is monumental. To keep it grounded, let’s bring the focus to Indonesia, specifically the world of teacher education. Ansar Langnge, a Mathematics teacher in Bulukumba District, South Sulawesi Province, Indonesia received recognition and an award from the Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia in 2015. This was for his work on the use of “Tongmini” (Mini stick) as teaching aids to improve the ability of Grade VIIB students at Sate Junior High School 11 Bulukumba to solve integer division. Ansar did not change the world like Al-Khwārizmī, but he played a significant role in transforming the face of Mathematics education, which is often seen as terrifying in Indonesian schools.

    Award from the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia to Anshar Langnge for successfully simplifying Whole Numbers using the Tongmini (Mini Stick).

    Learning about integers, which is usually presented abstractly on the whiteboard, became more visual through affordable teaching aids that were easier for students to grasp. Is that not turning complexity into simplicity? Jalaluddin Rakhmat once said that a smart person is one who is able to simplify a complex problem. An intellectual teacher like Ansar is capable of answering that challenge.

    Every outstanding student receives the honor of standing in the middle of the field and receiving appreciation from Ansar Langnge, the headmaster. This generates pride for the champion and motivation for other students to strive for achievement.

    “How many people from South Sulawesi received this award?” I asked while looking at his certificate. “I was the only teacher from South Sulawesi who went to Yogyakarta to receive that award,” he said in a calm voice. His friendly, smiling persona and easy-going nature reinforced the impression that he is far from being a “killer” teacher. From the word “only,” a critique and a hope emerged. We still lack teachers who are willing to be creative, even though the Ministry of National Education has opened doors for innovation. In fact, it is a great opportunity to improve teacher quality and career paths.

     

    The figure of Anshar Langnge who is now the headmaster of State Junior High School 1 Bulukumba.

    Ansar Langnge now is a headmaster of State Junior High School 1 Bulukumba in South Sulawesi, the best high local school across generations. Under his leadership, the school continues to increase its number of high-achieving students, from local to national levels. The combination of an innovative principal and talented students creates a powerful momentum for progress. Because there are so many achievements, he mentioned that every week—specifically during the Monday flag ceremony—there is an appreciation ceremony for students with academic and non-academic achievements at the District, Provincial, and National levels. How can it be that great? According to him, the school performs structured and neat mapping to identify student talents and interests, then encourages them to participate in competitions.

    Ansar Langnge is also very active in building networks and strengthening brotherhood bonds. In this photo, he inaugurated the IKA (Alumni Association) of State Junior High School 1 Bulukumba, 2026.

    The grand physical structure of a school, equipped with all its supporting facilities—as important as they are—indeed becomes a source of pride and is often touted as a sign of progress. But what is the use of it all if the students’ minds are empty? A school should not merely be a tool for legitimizing certicates, reflecting backward thinking like Europe’s Dark Ages. A school is not a five-star hotel advertisement. The best advertisement for a school is the proof of improved human resource quality that convinces its students that pursuing knowledge is vital for their future.

    If the West has succeeded in taking the initiative to catch up by translating Al-Khwārizmī’s works and then translating them into all languages, can Ansar Langnge’s work be followed up by the Regional and Central Government to be implemented in schools?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, May 3, 2026

  • Melatih Kepemimpinan Anak

    Melatih Kepemimpinan Anak

    Adam jadi bintang malam ini. Ia mendapatkan kepercayaan untuk memimpin dua orang rekannya Abizar dan Sirin. Ketika diminta oleh guru bebas memilih lesson (pelajaran),
    Adam mengatakan, “Lesson 1 sampai 10”. Guru merespon “Kelewatan kau Adam. Kamu tahu teman-temanmu itu telah paham materi itu”. Ia pun berpikir sejenak, “Lesson 11 sampai 20”. Itu juga juga terlalu mudah tapi karena Adam yang sedang kita latih memimpin, apa yang ia tentukan, disepakati saja.

    Pada awal bacaan lesson 11, ia langsung membaca beberapa kalimat. Kecepatan membacanya sulit diikuti. Untuk itu, ia mendapat saran untuk membaca perlahan saja agar rekan rekannya bisa mengikuti dengan benar. Bila ada yang salah dalam membaca, Adam hanya tertawa tanpa melakukan pembenaran. Mereka semua terlihat ingin segera menyelesaikan bacaannya untuk mendapatkan waktu bermain.

    Keinginan Adam untuk mempercepat bacaan tidak berjalan mulus. Dia yang mendapat teguran, bukan pelajar yang membuat kesalahan. Seorang pemimpin harus bisa mengarahkan orang yang dipimpinnya tapi bagi Adam, itu tidak berpengaruh sama sekali. Ia cuma bangga ditunjuk jadi pemimpin dengan pertimbangan lebih lancar dan tamat bacaan Basic Reading. Kalau tidak lancar membaca, itu urusan pribadi tiap orang.

    Waktu keluar main, Adam bermain android. Tidak berapa lama berselang, ia mempelajari buku cerita, buku kedua yang menjadi tugas utamanya. Ia agak susah beralih ke buku lagi. Dengan sedikit ketegasan, ia menaruh android fam tas. Judul cerita ‘In a Department Store’ ia selesaikan dengan baik bersama rekan-rekan selevelnya. Setelah itu, semuanya minta istirahat. Ternyata, semua anak yang bawa android ingin bermain games lagi.

    Ini sebenarnya cukup adil. Ada waktu untuk belajar, ada waktu untuk android. Sayangnya, bila kebanyakan anak-anak yang bawa android, sosialisasi bermain sesama mereka akan berkurang karena mereka semua akan fokus pada androidnya. Mereka biasanya mengusulkan untuk membuat permainan tapi dengan adanya android, mereka tidak punya usulan lagi dan meskipun guru memberikan ulasan, itu ditolak. Anak anak yang tidak bawa android berkumpul mengikuti Adam. Di sini, Adam merasa benar benar jadi pemimpin.

    Kepemimpinan dapat didesain dalam lingkungan belajar dimulai dari hal hal terkecil seperti yang dialami oleh Adam. Anak anak memang belum mengerti tugas dan tanggungjawab seorang pemimpin dan perlu tetap dalam pendampingan ketika memimpin. Waktu berproses yang akan membuatnya mengerti mengapa ia dipilih jadi pemimpin. Dan saat mereka dewasa nanti, mereka akan paham pentingnya latihan kepemimpinan yang diajarkan secara kultural di kelas belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 30 April 2026

  • Belajar tanpa Batas

    Belajar tanpa Batas

    Better” (Lebih baik). Itulah ekspresi pengembangan dikatakan oleh Miss Salma Minasaroh dari Lembaga GAIA di Pati, Jawa Tengah saat menutup pembelajaran Bahasa Inggris online tahap ketiga (29/04). Lima orang anak anak RBB (Rumah Belajar Bersama) di Bulukumba , Sulawesi Selatan hadir dari sembilan yang lolos klasifikasi. Peserta memang sengaja dibuat terbatas agar kelas pembelajaran lebih efektif, tidak boros waktu.

    Keterikatan belajar tanya-jawab online ini semakin meningkat karena
    berkenalan dengan orang baru dan mendapat perhatian dari orang pintar melahirkan kebanggaan tersendiri baginya. Para pelajar ingin agar ekspresi mereka dapat didengarkan dan diakui. Dan bagi penulis, ini mampu memberikan cara pandang baru dari kebiasaan anak-anak menggunakan android untuk bermain games menjadi sarana belajar. Aturan ketat dibuat agar mereka berjuang dan merasa menjadi istimewa ketika terpilih.

    Sehari sebelum pertemuan, ada usaha di mana beberapa pelajar yang tidak termasuk kategori diperjuangkan oleh rekan-rekannya untuk tetap bisa ikut.

    “Dua sampai tiga orang belum boleh gabung karena belum lancar bicara”, kata guru RBB.
    “Kasi ikut saja Mr.. nanti saya bantu” kata Adam.
    “Please, Mr.”, kata yang lainnya.

    Mereka pun mengurangi jatah keluar main dan saling praktek tanya-jawab lebih serius. Melihat usaha ala “gotong royong” itu, usulan mereka diterima.

    Sebagai konsekuensi, kemampuan akselerasi dalam menyampaikan pendapat lebih terlihat jelas: bicara lancar dan tidak terlihat grogi lagi. Anak anak tidak saling berebutan lagi untuk dapat kesempatan berbicara dan menanti dengan sabar mendapatkan giliran karena mereka tahu bahwa dengan jumlah peserta yang sedikit, kesempatan untuk dapat bicara jauh lebih banyak.

    Dalam hal materi pembelajaran, kemajuan yang berarti ini dipengaruhi oleh 20 model soal yang dibuat Salma dengan memasukkan information Question (Pertanyaan Informasi) seperti what, where, why dan who (Apa, di mana, kenapa dan siapa), bukan lagi soal yang mayoritas yes no questions seperti pembelajaran online Part 1. Otomatis, setiap pelajar diajak membuat argumentasi sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.Bahasa Inggris telah berfungsi sebagai alat untuk membangun kemandirian anak untuk punya pendapat sendiri.

    Kemana Arah Pendidikan Kita?
    Sebagaimana yang kita sering dengar, Indonesia itu tidak kekurangan intelektual, bertaburan di mana mana. Sebagian orang yang cerdas kita malahan memilih berkarir di luar negeri karena merasa tidak dihargai di Indonesia. Sebagian tetap tinggal di dalam negeri dan melakukan perubahan secara kultural, di luar sistem pemerintahan.

    Dengan menemukan pelajar pelajar berbakat mulai dari anak anak hingga dewasa, kita dapat membangun koneksi yang tidak dibatasi oleh dengan siapapun, kalangan intelektual baik dalam dan luar negeri. Mereka dapat diundang mengisi pembelajaran secara online kepada para pelajar berbakat tersebut. Dari situ, kita dapat membaca pemikiran-pemikiran yang brilian yang kemudian kita tulis dan sebarkan untuk dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

    Sedangkan dalam pendekatan struktural, kementrian Pendidikan RI telah menerapkan wajib belajar Bahasa Inggris di SD sejak 2025, sebuah solusi menghadapi lemahnya pelajar Indonesia berbahasa asing selama puluhan tahun Bahasa Inggris mulai di di SMP.

    Sayang sekali, langkahnya pembenahan di SD masih terseok-seok. Ada kurikulum dalam bentuk buku sebagai bahan pelajaran. Masalahnya, kebanyakan guru yang mengajar tidak tahu berbahasa Inggris. Itu salah siapa? Bukan salah guru, salah sistem yang tidak merekrut guru-guru yang tepat mengisi pos tersebut. Alasan klasik adalah keterbatasan anggaran.

    Sebenarnya sih, selama ada niat dan usaha yang sungguh-sungguh, pasti ada jalan. “Bukankah kesulitan itu adalah kesempatan untuk melakukan yang lebih baik (better)?”, kata B. J. Habibie. Seribu langkah dimulai dari satu langkah. Sekecil apapun langkah kita, we just want to make something (Kita hanya ingin membuat sesuatu), mengutip Salma, “Better”.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 30 April 2026

  • Inisiatif untuk Cepat Pintar

    Inisiatif untuk Cepat Pintar

    Kesan yang sangat menggembirakan. Pada waktu sedang istirahat, Zhah Noor Aisyah, pelajar kelas Malam Reading (Bacaan) yang telah tamat dua buku, tiba-tiba duduk di depan penulis dan membuka buku catatan grammar-nya. Ia langsung praktek bicara pada simple future menggunakan “be” sebagai kata kerja utama, nominal tenses istilah orang Indonesia. Di hari hari sebelumnya, ia mesti dirayu agar mau belajar simple present dan simple past hingga paham luar kepala. Sekarang, ia berinisiatif sendiri.

    Berbekal buku catatan, ia praktek lisan. Kewalahan menyusun kata pada perubahan simple future pasti Zhah temukan.
    Karena itu, ia lebih banyak bicara sambil melihat peta yang ia buat. Ilmu memang tidak secepat kilat bisa dipahami, butuh proses. Hukum perulangan menjadikan pelajaran melekat dengan baik di kepala.

    Seluruh proses perubahan kalimat termasuk pada penggunaan shall untuk British English pada subjek I dan We telah Zhah praktekkan. Variasi ini sengaja diajarkan karena ia tidak hanya membaca buku buku karya orang Amerika tetapi juga karya orang Inggris. Buku catatan sangat berguna untuk merujuk pada tiap kesalahan bicara yang ia praktekkan di depan gurunya.

    Setelah merasa cukup yakin, Zhah tidak memilih untuk beristirahat. Ia pun kembali mengerakkan pena, membuat catatan terbaru. Agar tidak kesulitan, ia menulis materi simple present, simple Past dan simple future pada verbal tenses sebagai pembanding dari simple pada nominal tenses. Pelajar Indonesia sering kali gagal membedakan ini, apakah menggunakan “do, does atau did” atau am, is atau are saat bertanya.

    Kemungkinan besar, Zhah tidak membutuhkan banyak penjelasan lagi dalam merangkai kata pada latihan berikutnya. Pemahaman penting yang akan disampaikan kepadanya yaitu mengapa “do” atau does” dipakai, bukan “am, is atau are” pada simple present untuk bertanya. Hal yang sama juga terjadi pada simple past. Mengapa “did” bukan “was, were” dan seterusnya.

    Apakah ini sulit dipahami oleh anak kelas 4 SD seperti Zhah? Tidak sama sekali. Zhah tergerak hari untuk mempelajari materi ini karena melihat beberapa teman seumurannya telah mengerti tenses dengan sangat baik. Berdasarkan proses belajar yang ia lakukan,
    ia dan guru guru di RBB (Rumah Belajar Bersama) yakin ia sanggup paham tenses luar kepala juga. Prediksi dalam dua atau tiga minggu ke depan, ia akan mendapatkan live (siaran langsung) disaksikan oleh publik untuk praktek perubahan seluruh kalimat tenses di luar kepala.

    Percepatan tersebut kuncinya terletak pada Zhah sendiri. Ketika ia mau menggunakan sebagian jam istirahatnya dengan duduk di depan guru, membuka buku catatan grammar-nya dan praktek, ia tidak hanya menyelesaikan tenses tapi pembelajaran Basic Grammar lainnya akan jauh lebih banyak ia mengerti yang sangat berguna memahami teks reading, speaking dan writing bila ia tertarik menulis dalam Bahasa Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 29 yang April 2026

  • Semua Aktif Belajar

    Semua Aktif Belajar

    Menarik dan sederhana. Itulah yang kita temukan ketika Steven Riley, seorang guru senior dari Australia, mengajar sehari di RBB (Rumah Belajar Bersama). Dalam berkomunikasi, ia mengajarkan intonasi yang erat kaitannya dalam tanya jawab. Pertama, ia menanyakan kabar dan nama peserta sembari memperhatikan cara menjawab. Kemudian, para pelajar diminta membuat pernyataan yang ditujukan kepadanya.

    Berangkat obrolan singkat tersebut, Steven yang sudah melanglang buana ke negeri terjauh sampai ke Jepang ini langsung tahu kapasitas pelajar. Dengan segera, ia mendekati pelajar yang kurang PD (percaya diri) bicara dan menyapanya menggunakan kosa-kata percakapan sehari-hari. Lalu, suasana jadi cair. Para pelajar jadi lebih siap. Setelah itu, ia memberikan contoh pengaturan tinggi rendah suara. “Kalau mau bertanya, naikkan nada suara di akhir kata pada kalimat. Sebaliknya, kalau mau menjawab, turunkan saja suara nada suara di akhir kata”, katanya. Sederhana itu.

    Pelajaran berlanjut. Karena Steven total berbahasa Inggris, ia pun menggunakan gerakan tubuh agar maksud penjelasannya bisa dimengerti. Penulis kadang-kadang hadir membantu menerjemahkan pada hal-hal yang rumit saja untuk membuat pelajar lebih cepat mengerti. Selebihnya, mereka diajak untuk berusaha menafsirkan sendiri segala hal yang dijelaskan Steven.

    Mengatur tinggi rendah suara terlihat remeh-temeh tapi mayoritas pelajar belum tahu cara menaikkan atau menurunkan suara dengan tepat dengan nada yang enak didengar. Steven tidak menyerah. Guru yang telah makan garam ini tahu betul cara mengatasinya. Pada setiap pelajar yang gagal berbicara dengan benar, ia diminta untuk membuat pengulangan. Dan bila mereka masih tetap gagal, meskipun umurnya mencapai 72 tahun, ia tidak terlihat lelah dan malahan tidak segan-segan aktif berjalan mendekati untuk membantu satu persatu pelajar mengikuti apa yang ia katakan hingga sampai pada ukuran suara yang menurutnya nyaman untuk didengarkan.

    Setelah itu, Steven melatih kemampuan berbicara lebih banyak. Untuk pemahaman tentang arah, Steven terlebih dahulu membuat tanda panah untuk arah utara, selatan, timur dan barat. Kemudian, membuat jalan berkelok-kelok mempunyai pertigaan dan perempatan. Ia juga menggambar rumah, sekolah, kantor dan lainnya. “Dimana sekolah?”, tanya Steven. Jawaban tidak sekedar menunjuk pada gambar tapi bercerita. Pelajar harus bisa mengatakan jalan terus ke arah barat, belok kiri dan kemudian kanan pada pertigaan dan seterusnya. Jawaban akan beragam karena yang ditanyakan adalah berbagai macam tempat yang berbeda.

    Capaian Pengajaran Steven
    Pembelajaran interaktif dua arah dari Steven berhasil merangsang cara berpikir, aktif berbicara dan memastikan tingkat pemahaman siswa secara langsung. Bahkan, para pelajar yang pasif pun berpikir dan mempersiapkan diri karena memprediksi dirinya akan mendapatkan pertanyaan. Dan bagi pelajar yang telah berani bicara, mereka akan lebih kreatif dan kritis dalam berpendapat.

    Suasana belajar juga terlihat lebih semarak karena terjalin hubungan komunikasi sesama pelajar dan pelajar dengan guru. Seorang guru yang berpemikiran terbuka seperti Steven tepat melakukan metode pembelajaran ini. Ia telah siap akan kemungkinan munculnya pertanyaan kritis yang tidak terduga. Pengalaman, wawasan dan mental Steven dalam mengelola kelas belajar membuat pembelajaran terlihat sangat menyenangkan dari awal hingga akhir yang berlangsung sekitar 90 menit.

    Steven Riley sebenarnya saat ini tidak lagi berprofesi sebagai seorang guru tapi kontraktor di Perancis. Ia bertemu dengan Anjas, seorang guide paham peta dan kebutuhan tamunya, yang membuat Steven dapat menyalurkan hobby mengajarnya dengan menguji RBB. Metode pengajaran Steven yang erat kaitannya dengan pronunciation, speaking and intonation (Pengucapan, bicara dan intonasi)

    Steven Riley sebenarnya saat ini tidak lagi berprofesi sebagai seorang guru tapi kontraktor di Perancis di mana sebelumnya ia mengajar di Jepang. Ia bertemu dengan Nur Anjas, seorang guide paham peta dan kebutuhan tamu di Bira, yang membuat Steven dapat menyalurkan hobby mengajarnya dengan mengunjugi RBB. Pengajaran sehari Steven yang erat kaitannya dengan pronunciation, speaking and intonation (Pengucapan, bicara dan intonasi) sangat bagus dan menjadi kekayaan referensi untuk ditindaklanjuti dalam mendukung percepatan kecerdasan para pelajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 28 April 2026

  • Jurus Belajar

    Jurus Belajar

    Jurus Kung Fu mabuk sangat cocok bagi para pelajar yang sebenarnya tidak kurang perhatian dalam belajar. Mereka datang ke kelas untuk sekedar menutupi tuntutan orang tuanya. Tidak perlu banyak hal yang harus dibebankan padanya. Yang penting, mereka membaca dan praktek. Paham atau tidak, itu urusan belakangan. Berada di lingkungan belajar itu sudah cukup membantu mereka mengurangi bermain android–Masalah besar yang dihadapi kids zaman now. Kita doakan saja agar mereka bisa paham dengan pembiasaan belajar.

    Sementara itu, para pelajar yang sudah punya sedikit lebih bagus dari yang dijelaskan di atas cocok pakai jurus Kung Fu Master–Keahlian diperoleh dari ketekuna, disiplin dan waktu yang lama. Mereka mendapatkan pelajaran yang lebih terstruktur dan punya jam tambahan di luar jam belajar wajibnya. Ada waktu bermain tapi relatif lebih sedikit. Sebelum jemputan orang tuanya datang, sedapat mungkin belajar.

    Afifah dan Zhah adalah pelajar kelas Reading (Bacaan) tapi ia tertarik belajar Grammar (tata Bahasa. Melihat para pelajar grammar punya kemampuan berbeda dengan dirinya, mereka penasaran. Untuk setelah jam belajar reading-nya selesai, kami pun memintanya mencatat beberapa hal penting pada Tenses. Kemudian, mereka pun berlatih lisan pada tenses luar kepala dengan target bukan sebatas tahu tahu paham.

    Ah, yes! Faktor kebiasaan membaca
    pasti sangat mempengaruhi kecepatan berpikir. Para pelajar ini sudah sering menemukan kalimat yang sama atau minimal mirip tapi belum tahu kenapa ditulis seperti demikian–Tentu karena tidak tahu grammar. Jadi, dengan mendapatkan dasar dasar grammar, mereka lebih girang dan bersemangat mencari tahu lebih jauh. Hal ini kami lihat dari kebiasaannya bertanya, Apa maksudnya ini dan itu? Kenapa bisa begitu dan begitu? Rasa ingin tahu tersebut memotivasinya untuk memenuhi target yang ingin dicapai.

    Jurus Kung Fu Mabuk atau Jurus Kung Fu Master, itu adalah istilah atau klasifikasi saja. Yang utama adalah kesediaan menghadapi proses belajar. Dalam menjalaninya, tentu ada kemudahan, ada kesulitan saling silih berganti. Mari terus melangkah memperbaiki cara belajar kita. Siapa tahu, ada jurus Kung Fu Belajar lainnya yang ditemukan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukimba, Sabtu, 25 April 2025

  • German’s Education and Indonesia’s Nature

    German’s Education and Indonesia’s Nature

    Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, the third President of Indonesia, introduced us to the idea that education in Germany is highly rational, disciplined, and fosters student independence. Habibie’s super-intelligent mind is also known by the slogan “German Mind, Medina Heart.” “German Mind” refers to the highly rational knowledge of Germans, and “Medina Heart” refers to the city of Medina (civilization) in Saudi Arabia, a safe city where the Prophet Muhammad (peace be upon him) was protected from attacks by the Meccans during his time. In an effort to keep up with technological developments, This understanding we got from Cak Maksun became a book by Kristian Morville. Habibie is remembered for sending many students to study in Germany. In fact, several leading schools in Indonesia, including those in Makassar, offer German language lessons in the second grade of high school.

    The writer once met Habibie and felt fortunate to also meet Verena Schubert, a well-educated German in Bulukumba. “If you don’t study, you don’t have to be a student.” A simple, meaningful quote from Verena describing education in Germany. Anyone who is diligent and highly motivated deserves a decent education at a fully government-funded university. For some majors, such as health and engineering, prospective students will take additional exams to prove their eligibility. Once enrolled, they have the opportunity to retake the exam several times, but if they still fail, they will definitely be dropped out. So, being a student in Germany requires a high level of mental fortitude and a strong mentality. That’s how Verena explained when the writer asked. In the minds of Indonesians, ” it is not surprising, German-made equipment and machinery available in Indonesia are renowned for high quality,” the writer thought.

    Asse Nur Izza Maharani, pelajar RBB (Rumah Belajar Bersama) met B. J. Habibie di Yogyakarta, 2013. Picture Source: Zulkarnain Patwa.

    But, studying isn’t just about that, Fergusso! (Indonesian expression).Cita Deny, A friend from Muhammadiyah University of Yogyakarta in Indonesia, who continued her studies at the Universität Viadrina Frankfurt in Germany, once complained about the very high cost of living in Germany. This was undoubtedly because the Rupiah was still struggling to compete with the Euro. She was fortunate, born into a well-off family and with a strong passion for learning, which enabled her to complete her master’s degree there. After returning to Indonesia, he even helped promote studying in Germany by actively working at one of the German language development centers in Jakarta.

    Cita Deny explains studying in Germany via Zoom to our students in Bulukumba. Photo source: Rumah Belajar Bersama.

    So, what about those with limited financial resources? Verena explained that the high cost of home, food, and other living expenses led the government to consider borrowing a small amount of money, which students could repay in installments after working. And when someone wants to earn extra money, Verena, now a manager at a large company, doesn’t hesitate to share her past. “I work as a waitress at the restaurant,” she said with her sweet smile. Studying for her undergraduate degree at the prestigious BWL Bachelor (Business) at The Johann Goethe University in Frankfurt Am Main in Germany didn’t make her feel ashamed or embarrassed to do jobs considered menial. In fact, there are no menial jobs. Every job is noble, as long as it’s halal (permissible or lawful). Independence in Germany is cultivated from a young age, with parents no longer supporting their children’s living expenses when they reach adulthood. In Indonesia, parents are responsible for supporting their children until they get married. However, this creative idea of ​​earning money by working part-time is also widely done by Indonesian students in Yogyakarta—the heart of the city of students and tourism—by opening book stalls or selling drink and food from a cart in the busy afternoons. Some students also choose to work for others, as Verena ever did. The amount of money earned is certainly not much, but at least it can overcome the financial constraints commonly faced by students. Similar activities certainly occur in other cities in Indonesia, but not as widely as in Yogyakarta.

    Verena Schubert made a visit to informal education at the Rumah Belajar Bersama, Bulukumba, South Sulawesi. Photo Source: Aris Irfan, 2026.

    Nature and Hospitality in Indonesia

    A beautiful and healthy body is a logical consequence of consistent exercise. Verena traveled the world and spent five months in Indonesia, pursuing her passion for sports in places she found interesting. She seemed agile in her movements. She chose two weeks to snorkel, dive, and sun bathe in Bira. People who stay in a place have their own reasons. According to Verena, the beauty of white sand beach, clear sea water, well-maintained coral reefs, and the uncrowded and friendly people complement her desire for a quiet and peaceful life.

    Love and peace greetings from Bira sea. Photo source: Verena Schubert, 2026

    Another story Verena really likes is religious differences. In her view, people use religions for the wrong purposes. There are wars, and they fight based on religious beliefs. Here (meaning Bulukumba) and in East Nusa Tenggara, where she has visited, Muslims and Christians live side by side. We can see mosques and churches everywhere. There is no conflict. They believe in a good faith and respect each other. Meanwhile, in Germany, there are issues that people are afraid. There are wars going on right now, and a lot of bad things are happening. And people are at odds with each other. No matter which culture we belong to, it doesn’t matter.. At the end, we’re all human who need peaceful lives.

    Dolphins greet and complete Verena’s happiness by swimming right behind her while diving in the Bira sea. Photo Source: Verena Schubert, 2026.

    The writer was impressed by Verena’s explanation and gave sweet praise for her intelligence in simplifying her extensive experience into sentences that were not wordy and easy to understand. She replied, ‘Thank you. I am a manager.’ We laughed freely. The term ‘manager’ refers to her ability to lead, explain, and direct accurately for a large group of people she manages at a company whose name is deliberately not mentioned here. Later, the writer learned that she graduated with a master’s degree in International Innovation Strategy from Católica University in Lisbon, one of the best educational institutions in Portugal.

    What makes a university student happy is a graduation. photo of Verena Schubert after completing her Master Degree in International Innovation Strategy at Universidade Católica in Lisbon, Portugal. Photo source: Verena Schubert on Instagram.

    Verena’s choice to travel for a considerable period with only two very small bags has made her aware of her belongings. At home in Germany, she has a lot of stuff. With her traveling experience, she now believes she doesn’t actually need much. She can easily move wherever she likes without burden and happily.

    A Visit to Rumah Belajar Bersama

    It was a special pleasure for the writer when Verena stopped by to speak English with our informal students at RBB (Rumah Belajar Bersama). “Yes. That’s not a problem at all, if time permits,” Verena said as we traveled by private car from Bira to Bulukumba. Aris Irfan, manager of Cahaya Bone of Kalla Travel, said, “There’s still a little time before the travel car in Bulukumba takes Verena to Makassar.”

    Agung Pratama Salassa, a smart gammar teacher at RBB, welcome Verena at his class. Photo Source: Rumah Belajar Bersama, 2026.

    It was almost 5 p.m. Many of the RBB students had gone home, but fortunately, there were still a handful of students at the intensive class still busy working on Grammar and Reading. Verana greeted them warmly and joked with them, like a familiar teacher with her students. Suddenly, she became the center of attention. Several questions and answers were held, fostering ongoing communication, but unfortunately, the nice meeting  was too short.

    A really nice and friendly discussion with Verana and the student learning English. Photo Source: Zulkarnain Patwa, 2026.

    Verena’s visit was brief, but it left a lasting impression on the students. They have become more aware and motivated to learn. They realized that there was no opportunity to speak Indonesian with a foreigner to confirm things they wanted to know. They also need to have the insight or knowledge to ask questions in order to make the conversation more interesting. And because meeting strangers is something unfamiliar, it was a valuable experience that built confidence in meeting new people.

    A very tall young lady tried to be as tall as a child that makes Zhah look shy but happy. Photo Source: Zulkarnain Patwa, 2026.

    Zulkarnain Patwa
    Independent Writer

    Bulukumba, April 27, 2027

  • Pendidikan di Jerman dan Alam Indonesia

    Pendidikan di Jerman dan Alam Indonesia

    Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, Presiden Indonesia ketiga, memperkenalkan kepada kita bahwa pendidikan di Jerman itu sangat rasional, disiplin dan melatih kemandirian pelajar. Otak Habibie yang super cerdas itu juga dikenal dengan slogan German’s Mind, Medina Heart. “German’s mind” merujuk pada pengetahuan yang sangat rasional dari orang Jerman dan “Medina Heart” merujuk pada kota Madinah (peradaban) di Arab Saudi, sebuah kota yang aman di mana Nabi Muhammad SAW mendapat perlindungan dari serangan orang-orang Mekah pada masanya. Pemahaman ini pertama kali penulis dapatkan dari Cak Maksun dan kemudian jadi judul buku oleh Kristian Morville. Dalam usaha mengikuti perkembangan teknologi, Habibie dikenang banyak mengirim pelajar untuk kuliah ke Jerman. Bahkan, beberapa sekolah unggulan di Indonesia termasuk di Makassar memasukkan pelajaran Bahasa Jerman di kelas 2 SMA.

    Penulis pernah sekali bertemu dengan Habibie dan merasa beruntung juga berkenalan dengan orang Jerman terdidik yang berkunjung ke Bulukumba, Verena Schubert. “Jika anda tidak belajar, anda sebaiknya tidak usah jadi pelajar”. Sebuah kalimat sederhana yang mempunyai makna yang padat dari Verena ketika menggambarkan pendidikan di Jerman. Siapapun juga tekun, dan punya motivasi yang tinggi berhak mendapatkan pendidikan layak di universitas dibiayai penuh oleh pemerintah. Untuk beberapa jurusan seperti kesehatan dan teknik, para calon pelajar akan mendapatkan beberapa ujian tambahan untuk membuktikan bahwa mereka layak di jurusan tersebut. Dan bila sudah kuliah, ada kesempatan beberapa kali untuk mengulangi ujian namun bila tetap gagal, mereka pasti DO (Drop Out). Jadi, menjadi mahasiswa di Jerman harus mempersiapkan otak bekerja maksimal dan bermental baja. Begitulah penjelasan Verena sewaktu penulis bertanya padanya. Dalam pikiran orang Indonesia, ” Wajar ya, peralatan dan mesin buatan Jerman yang ada di Indonesia terkenal bagus kwalitasnya”, pikir penulis.

    Asse Nur Izza Maharani, pelajar RBB (Rumah Belajar Bersama) yang pernah bertemu Bapak B. J. Habibie di Yogyakarta, 2013. Sumber Foto: Zulkarnain Patwa

    Tapi, kuliah tidak sebatas itu saja, Fergusso! Seorang rekan semasa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Indonesia bernama Cita Deny melanjutkan kuliahnya Universität Viadrina Frankfurt di Jerman pernah mengeluhkan biaya hidup yang sangat tinggi di Jerman. Itu sudah pasti karena nilai mata uang Rupiah masih sulit bersaing dengan mata uang Euro. Dia beruntung, terlahir dari keluarga yang cukup mapan dan punya semangat belajar yang tinggi hingga mampu menyelesaikan S 2 master-nya di sana. Setelah kembali ke Indonesia, ia malah turut mempromosikan kuliah ke Jerman dengan aktif bekerja ke salah satu pusat pengembangan bahasa Jerman di Jakarta.

    Cita Deny mengisi penjelasan tentang kuliah di Jerman via zoom kepada para pelajar di Bulukumba; Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

    Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang mempunyai keterbatasan ekonomi? Verena menjelaskan bahwa biaya tempat tinggal, makanan dan kebutuhan hidup lainnya yang mahal tersebut menjadi pertimbangan pemerintah untuk meminjam sejumlah uang yang tidak terlalu besar di mana para mahasiswa dapat membayarnya kembali secara mencicil setelah bekerja.

    Dan bila ingin mendapatkan uang tambahan, Verena yang kini seorang manager di sebuah perusahaan besar tidak merasa sungkan menceriterakan masa lalunya. “I works a waitress at the restaurant” (saya bekerja sebagai pelayan di restoran), ungkapnya sembari tersenyum manis. Kuliah S 1 di kampus bergengsi jurusan BWL Bachelor (Business) at The Johann Goethe University in Frankfurt Am Main di Jerman sama sekali tidaklah membuatnya malu atau gengsi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dianggap rendahan. Sebenarnya, tidak ada pekerjaan rendahan. Setiap pekerjaan itu mulia, asalkan halal.

    Kemandirian hidup di Jerman telah dilatih sejak masa muda di mana orang tua tidak lagi membiayai kehidupan anak-anaknya ketika beranjak dewasa. Di Indonesia, orang tua bertanggungjawab membiayai anak-anaknya hingga menikah. Namun, ide kreatifitas cari duit dengan bekerja di paruh waktu ini juga banyak dilakukan oleh pelajar Indonesia di Yogyakarta—jantung kota pelajar dan wisata—dengan membuka lapak buku atau jual minuman dan makanan bermodalkan gerobak pusat keramaian di sore hari. Sebagian mahasiswa juga memilih masuk bekerja pada orang lain seperti yang dilakukan Verena. Jumlah uang tentu yang dihasilkan tidak banyak tapi sedikitnya mampu mengakali keterbatasan uang yang lazim ditemui oleh para mahasiswa. Kegiatan yang sama juga tentu terjadi di kota-kota lain di Indonesia tapi tidak sebanyak di Yogyakarta.

    Alam dan Keramahtamahan di Indonesia

    Tubuh yang menawan dan sehat adalah konsekuensi logis yang diperoleh bagi olahragawan yang konsisten. Verena berkeliling dunia dan berada di Indonesia selama lima bulan menyalurkan hobinya dengan olahraga pada tempat-tempat yang menurutnya menarik. Ia terlihat lincah dalam bergerak. Ia memilih dua minggu untuk snorkeling, diving dan bermandikan matahari di Bira. Orang yang betah di suatu tempat pastilah punya alasan. Menurutnya, pantai pasir putih menawan, air laut jernih, perawatan terumbu karang dan manusia yang tidak ramai dan ramah melengkapi kehidupannya yang ingin hidup tenang dan damai.

    Lumba-lumba menyambut dan melengkapi kebahagiaan Verena dengan berenang tepat di belakang saat diving di laut Bira. Sumber Foto: Verena Schubert, 2026.

    Kisah yang lain yang sangat Verena suka adalah pebedaan agama.  Dalam pandangannya, orang-orang menggunakan agama untuk tujuan yang salah. Ada peperangan dan mereka berperang atas dasar keyakinan agama. Di sini (maksudnya di Bulukumba) dan Nusa Tenggara Timur tempat yang ia pernah kunjungi orang-orang Islam dan Kristen hidup berdampingan. Kita bisa melihat masjid dan gereja dimana-mana. Tidak ada konfik. Mereka percaya pada suatu keyakinan yang baik, saling menghargai. Sedangkan di Jerman, ada masalah di mana orang-orang khawatir. Ada perang yang terjadi sekarang ini dan banyak hal buruk terjadi. Dan orang berlawanan satu sama lain. Tidak peduli budaya mana yang Anda miliki, itu tidak masalah. Pada akhirnya, kita semua adalah manusia.

    Salam cinta damai dari laut Bira. Sumber Foto: Verena Schubert, 2026

    Penulis tergugah dengan penjelasan Verena dan memberikan pujian manis terhadap kecerdasannya menyederhanakan pengalamannya yang luas dalam kalimat tidak boros kata, mudah dipahami. Ia menjawab, “Thank you. I am a manager”. Kami tertawa lepas. Istilah “manager” mangacu pada kemampuannya yang memimpin, memahamkan dan mengarahkan secara tepat pada sekumpulan banyak orang yang ia pimpin pada perusahaan yang sengaja tidak disebut namanya di sini.  Belakangan penulis tahu ia lulusan S 2 (master) di International Innovation Strategy, Católica University in Lisbon, salah satu institusi pendidikan terbaik di Portugal.

    Pilihan Verena traveling dalam waktu yang cukup lama dengan sekedar membawa dua tas yang sangat kecil menyadarkannya pada barang. Di rumahnya di Jerman, dia punya banyak barang. Dengan pengalaman berkeliling,  kini ia percaya bahwa sebenarnya ia tidak butuh banyak barang. Ia mudah bergerak kemanapun dia suka tanpa beban dan bahagia.

    Kunjungan ke Rumah Belajar Bersama

    Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi penulis ketika Verena berkenan mampir sejenak untuk berbicara dalam bahasa Inggris depan pelajar nonformal kami di RBB (Rumah Belajar Bersama). “Ya. Itu sama sekali bukan masalah bila waktu memungkinkan”, kata Verena ketika kami dalam perjalanan dengan mobil pribadi dari Bira menuju kota Bulukumba.  Aris Irfan, manager Cahaya Bone of Kalla Travel berkata, “Masih ada sedikit waktu sebelum mobil travel di Bulukumba mengantar Verena ke Makassar”.

    Waktu telah menunjukkan hampir jam 5 sore. Para pelajar RBB telah banyak pulang namun beruntung masih ada segelintir pelajar di kelas intensif masih sibuk otak atik pelajaran grammar (tata bahasa) dan reading (bacaan). Dengan ramah Verana menyapa dan bersenda gurau layaknya seorang guru yang akrab dengan muridnya. Ia pun jadi pusat perhatian. Beberapa tanya jawab yang membangun komunikasi berkelanjutan terlaksana namun sayangnya, waktu sangat terbatas.

    Kunjungan Verena memang sangat singkat tapi ini memberikan kesan mendalam bagi para pelajar. Mereka jadi lebih termotivasi untuk belajar. Mereka jadi lebih tahu tidak ada kesempatan untuk berbahasa Indonesia dengan orang asing untuk mengkonfirmasi hal-hal yang ingin diketahui. Mereka juga harus punya wawasan untuk menanyakan sesuatu untuk membuat pembicaraan jadi lebih menarik. Dan karena bertemu dengan orang asing adalah hal yang belum lazim mereka dapatkan, itu adalah pengalaman berharga yang membangun kepercayaan diri bertemu dengan orang-orang baru.

    Sekilas tentang Perspektif Penulis

    Apa yang penulis gambarkan tidaklah mengambarkan secara utuh apa itu German’s Mind, terlebih lagi “Medina Heart” karena itu memang tidak disinggung mendalam di sini. Kalau pun ada gambaran, hanya secuil saja. Itupun berkat kesediaan Verena yang berkenan hati untuk wawancara dalam bentuk percakapan tidak resmi tentang pendidikan di Jerman. Hanya saja, patut disayangkan bila ada cerita atau pemikiran yang mungkin yang bisa saja berguna bagi orang lain. Karena itu penting bagi penulis untuk merangkai ulang dalam bentuk tulisan. Oh, iya. Dalam dua jam dua puluh menit bersama Verana, ia bertemu berbagai macam orang, ia selalu disambut hangat. Ia merasa sangat dihargai layaknya seorang supertar. That’s all.

    Zulkarnain Patwa
    Independent Writer

    Bulukumba, Minggu, 26 April 2026

  • Pembicaraan yang Penting

    Pembicaraan yang Penting

    Anak anak akan sangat senang bila mereka belajar sesama rekan akrabnya. Komunikasi dalam bentuk percakapan yang sesuai standar tata bahasa dipraktekkan dengan model tanya jawab berbahasa Inggris dunia menjadikan dunia belajarnya lebih hidup. Itu adalah tindak lanjut dari hasil jawab soal soal percakapan yang telah mereka selesai kerjakan.

    Setiap anak akan saling bertanya dan saling menjawab. Pembiasaan ini tidaklah mesti harus dilakukan dengan menghapal. Membaca saja itu sudah cukup asalkan itu sering diulang-ulang. Pada akhirnya, anak anak paham dan dengan sendirinya menghapal pelajarannya tanpa harus menghapal.

    Menggunakan kosa-kata yang dipakai dalam percakapan sehari-hari itu mudah. Untuk mendapatkan standar yang lebih tinggi tanpa menghilangkan kosa kata percakapan sehari-hari tersebut dapat dibentuk dengan memberikan pola-pola kalimat yang sesuai standar akademik sehingga pengetahuan tersebut akan sangat berguna di sekolah atau universitas nantinya. Lebih lanjut, pelajar kita otomatis punya bekal dalam menulis dalam Bahasa Inggris.

    Tantangan kita selanjutnya adalah bagaimana para pelajar kita terbiasa dengan buku bacaan berbahasa Inggris. Kita memerlukan bahasa asing itu sebagai alat pengetahuan di mana para pelajar mudah mengakses pemikiran orang luar yang kemudian dapat kembangkan sesuai lingkungan dan kebutuhannya. Sebagai alat komunikasi, itu baik saja tapi bukankah kita dapat melakukan yang lebih baik? Untuk itulah kami menempuh gerakan membumikan literasi.

    Anak anak yang bahagia belajar sesama rekannya yang akrab akan lebih mudah untuk saling berbagi gagasan dari hasil pembelajaranya. Karena mereka belajar dengan cara yang benar, bukan hal mustahil mereka bisa memperbincangkan pengetahuan hal hal yang baru di luar dari prediksi kita. Karena itu, pembiasaan percakapan yang berisi tanya jawab yang mengembangkan wawasan berpikir sangat penting untuk selalu dimasukkan dalam pembicaraannya.

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, 23 April 2026