Kategori: Program

Program dan mata pelajaran dari Rumah Belajar Bersama

  • (Tidak) Berbobot

    (Tidak) Berbobot

    Sebuah kenyataan tak terbantahkan ketika Adeeva, anak kelas 4 SD, mampu praktik lisan pada active and passive voices (kalimat aktif dan pasif) dengan beragam bentuk perubahan berbekal kotak kosong tanpa melihat catatan sama sekali dan disiarkan secara live (siaran langsung) di Facebook. Orang bisa mengamati dan menyaksikan apakah Adeeva menyontek atau tidak. Penulis yang memandu secara terus-terang menyatakan bahwa Adeeva mengerti perubahan tersebut di luar kepala.

    Karena latihan tersebut disertai dengan praktik lisan, ini adalah bukti bahwa belajar grammar (tata bahasa) tidak membuat anak-anak SD gagap berbicara Inggris. Justru ini bekal berharga untuk speaking (bicara) sesuai standar bahasa yang sangat berguna dalam percakapan dan pembelajaran akademik. Mengajarkan speaking tanpa perlu perhatian yang sama pentingnya dengan grammar dengan alasan belum waktunya anak-anak SD belajar grammar adalah bayang-bayang ketakutan saja atau sebuah simplifikasi (penyederhanaan) untuk menghindari kompleksitas pengajaran yang berbobot.

    Orang bisa berpikir bahwa ini adalah generalisasi–satu contoh yang sukses dijadikan klaim untuk banyak orang. Itu benar. Tapi apa salahnya satu contoh yang baik tersebut dijadikan acuan untuk diterapkan kepada para pelajar dalam skala yang lebih luas? Dengan metode belajar yang tepat, itu adalah peluang untuk membantah generalisasi. Apakah anak-anak SD yang mayoritas bisa seperti Adeeva masih dapat disebut generalisasi? Keadaan pasti akan berbalik. Justru anak-anak SD yang tidak mampu itulah yang disebut generalisasi.

    Para intelektual yang bergelut dalam dunia pendidikan sudah saatnya melakukan terobosan dengan mematahkan argumentasi para pendesain kurikulum bahasa Inggris sekolah yang hanya menitikberatkan pada speaking. Mana lah mungkin membaca teks dan menjawab pelajaran sekolah dengan baik bila tidak mengerti grammar? Terlebih, bahasa Indonesia mengunakan hukum D-M (Diterangkan-Menerangkan), sedangkan bahasa Inggris menggunakan hukum M-D (Menerangkan-Diterangkan). Terbalik, kan? Bisakah itu dipahamkan dengan mayoritas speaking saja? Mau tidak mau, dasar-dasar grammar pasti berlaku. Dan itu minimal dijelaskan pada frase dan paling efektif di kalimat dengan menggunakan tenses–orang berkomunikasi paling sering memakai kalimat.

    Patut diingat, selain pendalaman grammar pada tenses dan passive yang dituduh tidak relevan bagi anak-anak, apa yang dilakukan Adeeva sejalan dengan kurikulum melalui cara pembiasaan literasi pada buku reading (bacaan) yang mempunyai tuntutan menjawab soal-soal sebagai pembuktian pemahaman terhadap bacaan. Nah, dalam menjawab soal, grammar mutlak perlunya, tidak cukup dengan modal speaking. Misal: Does Anita go to school? Jawaban yang tepat: Yes, she does. Anita goes to school. Anak-anak yang sekedar belajar speaking biasanya menjawab: Yes. Anita go to school. Pendengar bisa paham dan mengerti maksudnya, tapi jawaban itu salah.

    Kemudian, untuk apa pula pemerintah mengizinkan Olimpiade Bahasa Inggris yang soalnya jauh lebih rumit? Pelajar yang mengandalkan speaking dari sekolah–itu yang dominan diajarkan–tanpa pembelajaran grammar yang baik, mereka pasti tersingkir. Pembelajaran ala sekolah tidak akan mencetak para juara. Tugas kurikulum pemerintah memang bukan mencetak para juara, tapi di sisi lain, pemerintah memberikan jalan lebar bagi penyelenggara untuk membuat soal yang melampaui kurikulum. Kan itu tidak fair bagi pelajar.

    Pada akhirnya, kombinasi praktik lisan, reading, dan grammar harus mampu berjalan seiring untuk menutup celah kelemahan pembelajaran bahasa Inggris dalam dunia akademik.

    Have they read books or have books been read by them? (Sudahkah mereka membaca buku-buku atau apakah buku-buku telah dibaca oleh mereka?) adalah hal biasa untuk Adeeva pahami dan dipraktekkan olehnya baik dalam bentuk active atau passive.

    Zulkarnain Patwa 
    Bulukumba, Kamis, 11 Juni 2026

  • Menghapus Kemustahilan

    Menghapus Kemustahilan

    “Mr. jangan beri tahu saya. Tolong perhatian saja!”, kata Faika ketika sedang berlatih pengantar 88 perubahan kalimat tenses secara acak di luar kepala. Saat itu, ia sedang kesulitan menjawab sehingga guru memberikan sedikit bantuan, namun bantuan itu ditolaknya karena ia percaya diri sanggup melakukannya tanpa bantuan siapa pun. Kepercayaan dirinya tumbuh karena ia sudah memahami seluruh perubahan tersebut secara teratur.

    Anak berumur sembilan tahun ini sungguh mempunyai daya juang yang jarang dimiliki anak seumurannya. Hal ini terlihat dari permintaannya untuk praktik kalimat pada setiap subjek: I, you, they, we, he, she, dan it. Coba bayangkan, dari setiap subjek tersebut, terdapat 88 perubahan kalimat kecuali subjek I hanya 86. Itu berarti 614 perubahan kalimat yang ia praktikkan tanpa melihat catatan, sebuah tantangan yang memang ia inginkan disiarkan secara langsung (live) di Facebook. Tiap pertemuan belajar, ia pun suka mengganti verb (kata kerja), membuat kalimat baru, membuktikan bahwa ia memahami perubahan verb dan praktik sedikitnya 128 perubahan kalimat.

    Alasan paling kuat mengapa Faika jauh lebih tekun belajar Inggris dari sebelumnya ialah ajang Olimpiade Bahasa Inggris di masa mendatang. “Meskipun pernah meraih emas se-Indonesia, kamu pasti kalah jika tidak lebih tekun belajar”, ungkap gurunya mengingatkan. “Iye, pale“, (pale: baiklah), balas Faika. Beberapa contoh soal-soal rumit olimpiade terbaru untuk kelas 3 dan 4 SD sengaja diperlihatkan kepadanya agar semangat belajarnya tetap membara. Strategi ini efektif membuatnya fokus, terlebih kedua orang tuanya di rumah aktif mencari informasi olimpiade yang diadakan di Indonesia.

    Tapi jangan kira Faika ini memanfaatkan seluruh waktu jam belajarnya saat berada di kelas Bahasa Inggrisnya di Rumah Belajar Bersama (RBB). Di samping sifatnya suka bergaul dan suka bermain sebagaimana anak-anak lainnya, ia juga dikenal sebagai anak periang dan berani berpendapat. Ia selalu meminta jam keluar mainnya ditambah, termasuk berani protes bila tidak diberikan jam tambahan untuk bermain. Otaknya tidak tertekan pada sebuah sistem yang kaku. Usulannya itu kadang-kadang diterima dan ditolak oleh gurunya dengan mempertimbangkan apakah anak-anak masih fit (segar dan fokus) belajar atau tidak.

    Faika dan anak-anak lainnya sengaja diberikan kebebasan berpendapat agar kreativitas berpikirnya tidak terpenjara. Apa pun pendapatnya perlu kita dengarkan agar mereka terbiasa mengungkapkan ide-idenya secara terbuka. Bila terdapat perbedaan, itu tidak serta-merta dikunci dengan aturan, melainkan dibahas bersama hingga pada tahap tertentu anak-anak mengerti kenapa idenya diterima atau ditolak. Dengan demikian, mereka merasa dihargai dan berusaha mencari alasan lebih bagus jika suatu saat mempunyai usulan baru.

    Dunia belajar tidak semata-mata penguasaan materi akademis atau angka superioritas di atas kertas, melainkan juga ruang pertumbuhan karakter, daya juang dan kebebasan berekspresi anak. Biarkan anak-anak berkembang menjadi dirinya sendiri minimal seperti halnya Faika yang menemukan kemandiriannya sendiri dalam menjawab soal.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 10 Juni 2026

  • Keunggulan Grammar

    Keunggulan Grammar

    1. Keputusan para pelajar sekolah mengikuti kelas grammar (tata bahasa) di Rumah Belajar Bersama (RBB) cukup mengagetkan karena kurikulum sekolah sekarang tidak membahas materi tersebut secara mendalam. Pada awal kedatangan, mereka tidak tahu sama sekali pembagian Bahasa Inggris mencakup speaking, listening, reading and pronunciation (Bicara, Mendengarkan, Membaca, dan Pengucapan). Alasan utama memilih kelas grammar karena mereka ingin pandai menjawab soal-soal sekolah.

    “Gampang sekali ujian semester sekolah”, kata seorang pelajar SMP yang didukung oleh pelajar SMA yang baru saja ujian kenaikan kelas. Mereka tahu cara menjawab sesuai kaidah tata bahasa. Lalu, bagaimana mereka mengerti soal-soal bacaan? Grammar yang diajarkan RBB juga membantu menjawab soal-soal dalam bentuk bacaan. Malahan, pelajar juga dilatih menjawab persoalan grammar menjadi suatu teks cerita panjang atau artikel sederhana.

    Fenomena serupa juga dialami pelajar lainnya. Di RBB, beberapa orang pelajar SMP dan SMA yang telah tamat Basic Grammar (Tata Bahasa Dasar) melanjutkan ke buku Pre-Intermediate. Itu berarti mereka memperoleh manfaat sehingga mendalami grammar lebih detail. Pelajaran sekolah diangggap biasa karena tidak sering dibahas. Justru, pembahasan yang sering mereka diskusikan adalah tantangan soal-soal yang diberikan oleh Agung Pratama Salassa, guru grammar di RBB.

    Tapi, menjadi penganut grammar punya masalah juga. Mereka yang keasyikan ribuan soal tanpa rajin praktik speaking (bicara) kewalahan berkomunikasi. Itu adalah konsekuensi karena pilihannya hanya kelas grammar saja. Strategi penyelamatan dibuat dengan mengajak mereka membaca dengan suara nyaring pada hasil latihannya. Dengan demikian, meskipun sedikit, setidaknya mereka dapat pengantar pelajaran Reading dan Pronunciation serta beberapa bagian pada speaking yang berpola grammar. Kemampuannya dalam hal ini relatif biasa saja karena itu memang bukan tujuan utama mereka.

    Bila menggali lebih jauh, para grammarian yang juga ikut kelas Reading dan Speaking, memiliki kemampuan berbicara sesuai standar internasional. Penyampaiannya tidak hanya tertata rapi dan hemat kata tapi juga padat makna dan mudah dimengerti. Otak mereka sudah terlatih untuk mengungkapkan pernyataan yang benar agar lawan bicaranya dapat dengan cepat tahu maksudnya.

    Keunggulan lain yang diperoleh adalah bekal untuk menjadi penulis. Pelajar yang mengetahui grammar pasti bisa menyusun kalimat yang rapi dan teratur. Tingkat kesalahannya relatif lebih rendah dibandingkan pelajar speaking dan lainnya karena mereka telah terlatih menggunakan logika dalam membolak-balik kata. Ini sangat berguna bagi orang yang aktif dalam dunia akademik.

    Di balik kelebihan dan kelemahan pelajar grammar, semua itu dapat dijadikan peluang untuk lebih ahli berbahasa Inggris dengan cara tetap menekuni grammar sembari mempelajari bagian lain dari pengetahuan tersedia pada Bahasa Inggris: speaking, listening, reading and pronunciation. Itu dapat dilakukan secara mandiri ataupun ikut bergabung di kelas belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 9 Juni 2026

  • Membumikan Bahasa Inggris di Tanete

    Membumikan Bahasa Inggris di Tanete

    When nothing is impossible, impossibility is nothing. That is a thing without not (Ketika tidak ada yang mustahil, kemustahilan itu tidak ada. Begitulah kenyataannya, tanpa pengecualian). Ungkapan filosofis ini terpahat dalam pikiran saat penulis berdiskusi dengan Fathy Cayadi, guru Bahasa Inggris tingkat SMA, mengingatkan akan kebutuhan paling mendasar yang dihadapi para pelajar sekolah. Sebagai seorang pengajar berpengalaman, ia menjelaskan keunggulan dan kelemahan kurikulum yang berlaku saat ini.

    Penulis tertarik tidak membenturkan pemahaman Bahasa Inggris sekolah vs luar sekolah (pendidikan alternatif), melainkan mencari hal-hal yang belum atau tidak dikerjakan. Menurut Fathy, kurikulum SMA sudah tidak lagi mencantumkan listening (mendengarkan) pada UAN (Ujian Akhir Nasional), grammar (tata bahasa) sekadarnya saja, dan pronunciation (pengucapan) sama sekali tidak digubris. Malahan, jam belajar dipangkas empat jam menjadi tiga jam, sekali belajar dalam seminggu. Orang bisa melihat hal-hal tersebut masalah, namun diskusi itu bersepakat memanfaatkannya sebagai peluang untuk menggarapnya karena hal tersebut tetap penting dan bermanfaat.

    Pembicaraan kemudian mengarah pada strategi yang efektif untuk memahamkan pelajaran. Ciri khas yang menjadi keunggulan guru tetap dipertahankan sembari terus memperbarui dan mempertajam materi yang akan diajarkan. Berbagai literatur dari penulis asing yang diterapkan di universitas di luar negeri dibedah dan dibandingkan dengan kurikulum Indonesia dan kemudian disesuaikan dengan pelajaran yang sesuai konteks pelajar Indonesia. Prediksinya, materi tentu lebih padat ketika Fathy membumikan kegiatan mengajarnya di luar jam sekolah di Tanete.

    Pelajar SD, SMP, dan SMA akan dipersiapkan punya daya saing dengan memotivasi mereka mengikuti berbagai lomba pidato, debat, storytelling, dan lainnya, termasuk olimpiade Bahasa Inggris tingkat lokal, provinsi dan nasional. Dan bagi pelajar dan umum yang belum minat kompetisi, mereka dididik sesuai kebutuhannya hingga mempunyai skill (keterampilan) yang cukup untuk menghadapi dunia kerja yang mereka cita-citakan. Jadi keberagaman motivasi orang belajar bahasa Inggris dapat difasilitasi.

    Pikiran dan aksi untuk bergerak lebih cepat, maju dan terarah sesuai target tidaklah sulit bila hasil kesepakatan diskusi dikerjakan secara bersama-sama. Jam terbang pengajar pasti berpengaruh besar. Fathy telah lama mengajar di sekolah dan akrab dengan plus-minus kurikulum sekolah di Indonesia, kini akan menjadi bagian dari Rumah Belajar Bersama (RBB)–dikenal sebagai lembaga yang mengedepankan kualitas. Dengan modal tersebut, ia pasti punya “ramuan” mengajar yang lebih terbarukan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 7 Juni 2026

  • The Dream of Bulukumba Students to See the World

    The Dream of Bulukumba Students to See the World

    It was a very surprising day for the students. Victor from Spain and Jessica from France visited an English class. The students whispered to each other because they were curious to know. Then, they sat at the same table with Victor and Jessica.

    In the classroom, Mr. Agung Pratama Salassa, the English teacher, welcomed the guests warmly. He told the guests that most of his students were children and teenagers. After that, they all started a simple conversation. Apart from a few words, most students hoped to get questions, and the two foreigners thought the same. The room was quiet for a moment. Then, Jessica broke the silence with her friendly personality. She greeted some students, and they answered in the same. The atmosphere became closer and warmer.

    Soon after that, Lulu, a recent high school graduate got some questions. She used this valuable chance to speak as best as she could. She talked about her dream to study in the United States or Japan. To study at a top university and join the world community, Lulu is learning English and Japanese. She also learned Mandarin before. Some of her family members are also learning foreign languages at Rumah RBB (Rumah Belajar Bersama) where she is learning English now. Her elder cousin, Lala, is teaching at an international school in Bali now. Lala is the close family example that Lulu wants to follow. Lala is one of the important persons who has inspired her to learn foreign languages.

    “Wow, that is amazing family”, Jessica said and Victor agreed. Jessica asked more questions. “Is Japanese language difficult?”, Jessica asked. “No”, Lulu answered. “I have learned Mandarin before. It is similar to Japanese”, she added confidently.

    Jessica and Lulu

    In short, from this good understanding, Jessica and Victor saw that the 19-year-old girl did not just have big dreams but also made a real effort. This meeting made Lulu very happy. She smiled because the guests could understand her words, even though she is still at the Basic English level at RBB.

    Try to talk with children

    Other students at the same level also wanted to speak. However, they understood that the two kind foreign guests were the visitors of Kak Aris Irfan—the Head of Cahaya Bone of Kalla Travel and the Owner of Villa Malomo. It was time for them to leave Bulukumba and go to Bira, their main destination. Moreover, Kak Irfan and his beloved wife had been waiting patiently for a long time. Therefore, the students quickly took some pictures together as memories of this inspiring meeting which almost ended.

    Kak Rani, a teacher of learning to read, write and Math for kids and Mademoiselle Jessica.

    Kak Irfan did a great thing. He supported local Indonesian students to be brave and speak English with foreigners. To Kak Irfan, Mademoiselle Jessica, and Señor Victor, all of us in informal education thank you very much for your kindness. Because of you all, this unpredictable, unimaginable and valuable meeting came true.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Friday, June 5, 2026

  • Mimpi Pelajar Bulukumba Menembus Dunia

    Mimpi Pelajar Bulukumba Menembus Dunia

    Sebuah pertemuan yang cukup mengagetkan bagi para pelajar ketika Victor dari Spanyol dan Jessica dari Prancis mengunjungi kelas belajar. Para pelajar saling berbisik untuk menjawab rasa penasarannya. Mereka semua kemudian diajak duduk satu meja bersama Victor dan Jessica.

    Saat berada di dalam ruang kelas, Mr. Agung Pratama Salassa, guru Bahasa Inggris, menyambut dengan penuh ramah tamah dan memberikan pengantar tentang para pelajarnya yang mayoritas oleh anak anak dan remaja itu. Setelah itu para pelajar diajak untuk berdialog. Wah! Sebagian besar berharap mendapatkan pertanyaan dan dua orang bule itu pun berpikir sama. Diam sejenak. Keheningan terpecahkan melalui kepandaian bergaul Jessica. Ia menyapa beberapa orang dan mendapatkan balasan dalam Bahasa Inggris. Suasana terlihat lebih akrab.

    Tak berselang lama, Lulu yang telah tamat SMA mendapatkan beberapa pertanyaan. Ia yang kesempatan berharga tersebut memanfaatkan diri untuk berbicara sebaik yang ia bisa dengan menceritakan keinginannya berkuliah di Amerika Serikat atau Jepang.

    Untuk bisa kuliah di universitas terbaik dan turut aktif dalam pergaulan dunia, Lulu sedang belajar Bahasa Inggris dan Jepang. Ia juga pernah belajar Bahasa Mandarin. Beberapa orang keluarganya pun belajar bahasa asing di RBB, tempat dimana ia belajar Bahasa Inggris. Tak lupa, Lala, sepupunya Lulu, yang kini mengajar di sekolah Internasional di Bali adalah contoh keluarga dekat yang ia ingin ikuti jejaknya. Dari Lala, ia terinspirasi belajar bahasa asing.

    ‘Wow, keluarga yang luar biasa!”, ekspresi Jessica dalam Bahasa Inggris dan pernyataan itu didukung oleh Victor. Jessica mencoba mengecek lebih jauh. “Apakah Bahasa Jepang itu sulit?” tanya Jessica dalam Bahasa Inggris. “Tidak”, jawab Lulu. “Saya pernah belajar Bahasa Mandarin. Itu ada kemiripan dengan Bahasa Jepang”, tambahnya meyakinkan.

    Singkat kisah, dari obrolan santai tersebut, Jessica dan Victor membaca bahwa anak mudi sembilan belas tahun itu tidak sekedar punya mimpi dan cita-cita yang tinggi tapi juga usaha yang nyata. Mereka bertemu di kelas Bahasa Inggris. Terlihat dari ekspresi wajah Lulu senang mendapatkan sambutan hangat karena pembicaraannya dapat dimengerti betapapun ia masih di level Basic English di RBB (Rumah Belajar Bersama).

    Pelajar yang lain yang setara kemampuannya dengan Lulu tentu juga ingin ikut berbicara. Namun, mereka mengerti bahwa keduanya merupakan tamu Kak Aris Irfan–Pimpinan Cahaya Bone of Kalla Travel dan Owner Villa Malomo–yang sudah waktunya harus meninggalkan kota Bulukumba menuju Bira yang menjadi tujuan utama mereka. Terlebih lagi, Kak Irfan ditemani istrinya tercinta sudah cukup lama sabar menanti. Rekan-rekan pun sesegera mungkin berfoto bersama sebagai tanda akhir dan sekaligus kenangan dari pertemuan yang mencerdaskan ini.

    Apa yang dilakukan Kak Irfan sudah memberikan kontribusi besar mendukung kemajuan pelajar Indonesia di daerah untuk lebih berani dan aktif berbahasa Inggris dengan penutur asing. Kepada Kak Irfan, Mademoiselle Jessica dan Señor Victor, kami semua yang terlibat aktif dalam dunia pendidikan berterima kasih sedalam-dalamnya atas kebaikan hati kalian semua. Karena anda semua, pertemuan berharga yang tidak terbayangkan ini terlaksana.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 5 Juni 2026

  • Berebut Memimpin Kelas

    Berebut Memimpin Kelas

    Pelajaran Parts of the body (Bagian-Bagian dari Tubuh) adalah games yang sangat disukai anak-anak. Mereka tidak terlihat bosan dan terus membuat pertanyaan secara bergantian. Seorang pemimpin yang berdiri paling depan membuat pertanyaan, “What is the English word for nadi?” (Apa bahasa Inggris dari nadi?). Yang sanggup menjawab dengan benar berhak jadi pemimpin, sedangkan yang salah mundur ke baris paling belakang. Setiap orang berusaha menjawab benar, ingin memimpin.

    Anak-anak yang berada di dalam barisan juga saling berbisik. “Saya lupa Bahasa Inggrismya siku”. Rekannya memberitahukan, “elbow“, katanya. Dan ada pula yang mendatangi guru kelas menanyakan kosakata yang ia lupa.

    Cara belajar yang ini sangat efektif membuat anak-anak rajin bertanya tanpa diminta untuk bertanya. Diri mereka sendiri merasa butuh untuk mengetahui, bukan guru. Yang membuat games lebih seru adalah beberapa anak yang memimpin memberikan pertanyaan sulit agar mereka mempunyai kesempatan memimpin permainan lebih lama. Anak yang tidak mampu menjawab mempunyai rasa ingin tahu yang lebih tinggi dan berharap bisa menjawab untuk memimpin.

    Memperkenalkan kosakata dipraktekkan secara bersama-sama di kelas terlihat mengesankan. Tapi untuk membuat anak-anak lebih bergembira, games pilihan yang menyenangkan. Terdapat pertanyaan-pertanyaan yang diberikan secara individu membuat anak tersebut sadar akan tingkat kemampuannya sendiri. Dan tentu saja, mereka tidak ingin selalu gagal dalam menjawab.

    Selain itu, ada kondisi dimana mereka bertindak selangkah lebih maju. Mereka bisa berkreasi sendiri membuat aturan permainan. Guru sekedar memperhatikan saja agar kelas berjalan efektif sambil tetap menyemangati dan mengingatkan kosakata yang membuat mereka gagal dalam menjawab.

    Games tentang Parts of the Body adalah contoh percakapan sederhana dalam mengasah keberanian berbicara Inggris. Ada tanya-jawab, rasa ingin tahu dan pelatihan kepemimpinan ala anak-anak.

    Apakah anak-anak bagian dari games belajar tersebut?

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 5 Juni 2026

  • Rahasia Anak SD Jago Tenses di Luar Kepala

    Rahasia Anak SD Jago Tenses di Luar Kepala

    Tiga orang anak SD belajar praktik lisan tenses di luar kepala. Bagi orang luar, itu terkesan istimewa karena pelajaran ini untuk SMP dan SMA. Tapi di RBB (Rumah Belajar Bersama), ini hal biasa karena banyak anak-anak SD telah lulus ujian tulis dan lisan tenses.

    Bagaimana hal ini bisa diterapkan? Guru mendeteksi cara belajar muridnya. Ada yang suka melalui pendekatan contoh kalimat dan ada juga yang melalui pendekatan rumus. Tapi yang terpenting dari semua itu adalah memberikan pemahaman tentang apa itu tense, makna dan fungsi tenses secara perlahan. Dengan memahami, murid akan lebih mudah menghafal.

    Dalam penerapan, satu contoh kalimat sudah cukup untuk merubah satu kalimat menjadi sedikitnya delapan puluh delapan perubahan kalimat secara teratur pada verbal tenses. Setelah lancar, beragam kalimat bisa dipakai hingga murid mampu merubah tenses secara acak.

    Latihan dilakukan secara tulis untuk mengikat makna, merujuk catatan bila lupa dan lisan untuk mengasah kesesuaian pikiran dan bicara. Praktek sedikitnya diulang sebanyak 40 kali yang oleh RBB disebut sebagai Metode 40. Dalam artian, 40 kali praktik secara berulang adalah ukuran standar untuk mengerti.

    Tapi patut diingat, ada murid yang dapat mengerti tanpa harus mengulang sebanyak 40 kali. Tapi bagi murid yang belum mengerti meskipun telah diulang sebanyak 40 kali, perulangan terus dilakukan hingga mengerti. 40 dipakai sebagai ukuran standar rata-rata perulangan latihan. Dalam istilah akademik, ini dapat juga disebut the law of repetition (hukum perulangan).

    Apakah perulangan membosankan? Ini sangat tergantung dari cara mendidik murid. Oleh karena itu, pelajar dilatih menjawab soal-soal cerita, berbicara inggris secara teratur, menunjukkan materi basic grammar (tata bahasa dasar) yang erat kaitannya dengan tenses. Motivasi belajar pun menjadi meningkat karena mereka percaya tenses adalah yang sangat penting dikuasai untuk memudahkannya menghadapi persoalan Bahasa Inggris baik dalam reading, grammar dan speaking sekalipun.

    Seiring dengan perkembangan pemahaman, beragam perubahan kata kerja dikenalkan untuk memperkaya kemampuan mengubah kalimat. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengenalkan kelas kata (parts of speech) lainnya sehingga murid tahu peletakan kata yang benar dalam suatu kalimat.

    Para murid yang mampu mencapai tahapan ini akan lebih cepat mengembangkan diri mempelajari materi lanjutan karena fondasi yang kokoh telah dibangun. Dan itu akan lebih berarti bila dapat diterapkan sejak SD.

    Kini sudah saatnya kita melakukan terobosan belajar sehingga persepsi tentang Bahasa Inggris itu susah berubah menjadi mudah. Pemahaman tenses di luar kepala itu dapat diterapkan kepada anak-anak, hal yang tidak difokuskan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui kurikulum sekolah di Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 4 Juni 2026

  • Ketagihan Belajar Tercipta

    Ketagihan Belajar Tercipta

    Tepat sesuai jadwal, pada jam 19.15 Wita kelas Reading (Membaca ) mulai. Anak-anak mengikuti listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) pada cerita “Help!”. Selain cara mendapatkan cara mengatur tinggi rendahnya suara, mereka juga tahu kapan menggunakannya pada kalimat yang tepat. Kemudian, mereka mengulangi praktik bacaan yang sama dengan bantuan guru. Suara mereka terdengar lebih kompak dan semarak.

    Sebenarnya, meskipun mereka sangat bersemangat, ternyata bacaan tersebut agak sulit dibaca dengan sempurna. Penulis yang bertindak sebagai pengajar langsung mengalihkan pelajaran pada lesson (pelajaran) yang lebih mudah, lesson 1 sampai 5. Mereka senang dan merasa tidak perlu bantuan sama sekali. Namun beberapa kesalahan kecil tetap penulis perbaiki di sela sela bacaannya. Misalnya, kata “with” mereka sebut “waith” dan “murderer’s” mereka sebut marderers.

    Pembiasaan reading ini akan punya pengaruh besar dalam speaking (bicara). Soalnya, salah ucap bisa salah makna, tafsir. Penguatannya mesti dilakukan sedini mungkin melalui pendekatan literasi agar mempunyai efek ganda: mampu mengenal tulisan Inggris dan bicara dengan benar. Itulah yang dibangun dalam dunia akademik.

    Karena pelajaran di atas cukup menyita energi yang besar, anak-anak diberikan kesenangan dengan keluar main. Saat masuk kelas lagi, pelajarannya tentang Parts of the Body (Bagian-Bagian dari Tubuh) sekitar 25 kotakata mulai dari neck (leher) sampai two thumbs up (dua jempol). Mereka suka mengunakan tubuhnya sendiri sebagai alat peraga.

    Kemudian, waktu keluar main diberikan lagi. “Hore”, sorak anak-anak.

    Pada akhir pelajaran, anak-anak mengusulkan games. Karena ingatan tentang Parts of the Body masih segar, soal tebakan dengan siapapun yang angkat tangan paling awal, dialah yang berhak menjawab. Games ini sangat seru sehingga guru sulit menentukan siapa yang paling cepat angkat tangan. Guru sering diprotes oleh anak yang merasa lebih dahulu angkat tangan tapi tidak mendapatkan kesempatan.

    Menghindari perdebatan lebih lanjut, guru meminta seorang sukarelawan yang khusus mengamati pelajar yang lebih dahulu angkat tangan sekaligus mengecek kebenaran jawaban. Faika bersedia mengambil peran tersebut dan diterima. Bagi anak-anak, itu lebih baik karena Faika sudah tahu jawaban, saingan berkurang. Games ini terus dimainkan hingga waktu jam belajar selesai, 20.45 Wita.

    Kombinasi belajar dengan pendekatan bermain dan literasi buku ini mempunyai daya tarik yang kuat. Anak-anak tidak bosan dan bahkan merasa belajar adalah dunia bermainnya. Wah, betapa indahnya kehidupan anak-anak yang kesehariannya belajar. Itu adalah lifestyle, bukan?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 3 Juni 2026

  • Bergembira di Masa Ujian Sekolah

    Bergembira di Masa Ujian Sekolah

    Anak-anak yang ujian akhir semester sekolah tidak menurunkan semangat mereka untuk tetap datang belajar Bahasa Inggris. Kami para pengajar mengerti bahwa belajar dalam bentuk bermain mesti lebih dominan agar tidak ada perasaan terbebani.

    Ketika kelas baru dimulai, materi yang anak-anak mempelajari adalah Parts of the body (bagian-bagian dari tubuh). Mereka bergembira mengucapkan kosa-kata yang disebut sambil menyentuh anggota tubuhnya. Misal, menyebut mustache, nostril and nose (kumis, lobang hidung dan hidung) diucapkan secara bersamaan saat memegang anggota tubuh yang disebutkan. Metode ini disebut Total Physical Response (Respon Fisik Menyeluruh).

    Pelajar yang lebih cepat mengerti menjadi pemimpin. Metode Peer Tutoring (Tutor Sebaya) diterapkan. Sirin dan Nabila yang terpilih menjadi melatih rekan-rekannya dengan cara membentuk dua kelompok. Setelah lima menit, kedua kelompok tersebut secara bergiliran praktik siaran langsung di Facebook.

    Pada sesi berikutnya, pelajaran mengarah pada literasi. Terdapat delapan lesson diselesaikan dan dibaca bersama-sama. Yang tidak lancar sekedar memperhatikan bacaan dan yang lancar bersuara nyaring. Tidak ada teguran dari guru pada pelajar yang tidak lancar membaca. Selama mereka memperhatikan bacaan, itu sudah cukup. Perhatian sudah cukup untuk membuatnya mengerti. Dalam hatinya, mereka pasti juga ingin lancar sebagaimana teman-temannya.

    Pelajaran akhir diisi dengan bernyanyi Make a Circle (Membuat sebuah Lingkaran) dan If You’re Happy (Jika Kamu Bahagia). Ini dilakukan dengan suara yang semarak dan gerakan tubuh yang energik. Dan setelahnya, mereka meminta bebas bermain sesukanya, lima menit sebelum jam pelajaran berakhir.

    Sebelum pulang, anak-anak bercerita bahwa ujian sekolahnya tidak susah. Apa buktinya? Mereka mengatakan bahwa soal-soal ujian gampang. Penulis tidak memberikan pertanyaan lanjutan yang berat dan membiarkan mereka percaya bahwa menghadapi ujian sekolahnya selama seminggu yang sedang berlangsung dari 2 Juni hingga minggu depan dapat mereka hadapi dengan Positive Mindset (Pemikiran Positif).

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 Juni 2026