Kategori: Matematika

Program dan mata pelajaran Matematika dari Rumah Belajar Bersama

  • Bakat Anak Enam Tahun

    Bakat Anak Enam Tahun

    Afwa anak TK (Taman Kanak-Kanak) yang suka mengikuti banyak kegiatan belajar. Saat berumur lima tahun, ia telah lancar membaca dalam Bahasa Indonesia dan langsung ikut kelas Reading (Bacaaan) Bahasa Inggris. Ia juga senag berhitung khususnya penjumlahan, perkalian dan pengurangan. ‘Saya sudah Iqra dua di megaji’ kata Afwa. Miss Uchi, ibunya yang guru Matematika, mengatakan bahwa Afwa mengaji pada neneknya sendiri. Untuk olahraga, pilihannya pada Karate.

    Semua ini Afwa peroleh karena Afwa hampir tiap hari berada di lingkungan belajar. Ia selalu ikut ke RBB (Rumah Belajar Bersama) ketika ibunya mengajar. Awalnya tujuannya sekedar ikut ibu dan bermain. Lama kelamaan, ia tertarik untuk mempelajari banyak hal dan bergabung di kelas yang ia senang lihat. Ibunya yang mengajarkan membaca dalam Bahasa Indonesia. Terheran-heran pada tulisan Inggris yang berbeda cara bacaannya dengan Bahasa Indonesia dan karena teman-teman bermainnya banyak juga dari anak anak di kelas Bahasa Inggris, ia pun tertarik bergabung kelas Inggris. Dan wow! Di luar dugaan, ternyata anak umur lima tahun bisa lancar pada buku bacaan berbahasa Inggris. Sebenarnya, ia sudah bisa tamat satu buku tapi ia lebih suka mengulang-ulang bacaannya agar lebih fasih. Namun ada juga kemungkinan ia agak kewalahan membaca pada halaman pada pertengahan lembaran buku karena pada bagian itu telah terdapat banyak kosa kata yang sulit diucapkan untuk pelajar asing.

    Pada Matematika, ibunya Afwa menjadikan pelajaran tersebut sebagai ‘makanan’ harian. Perhitungan yang berhubungan dengan kehidupannya sehari-hari sangat sering ditanyakan padanya dan dilatih untuk menemukan jawabannya sendiri. Untuk penjumlahan dan pengurangan, ia sudah tergolong cepat untuk ukuran anak yang saat ini berumur enam tahun sekarang ini. Sedangkan latihan perkalian, ia banyak mengerjakan secara tertulis pada Modul Metode 40 yang berisi perkalian dan pembagian satu sampai sembilan. Ia telah sampai pada perkalian tujuh dan guru-guru di RBB selalu memberikan soal soal latihan lisan untuk membuatnya bisa paham luar kepala.

    Urusan mengaji, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Neneknya adalah seorang guru mengaji senior di salah satu Masjid di Turungan Beru, Kec. Herlang Bulukumba. Namun hal itu hanya dapat ia lakukan bila ia pulang kampung. Jadi ibunya yang lebih banyak mendidiknya. Ia juga pernah belajar mengaji di RBB sewaktu masih tersedia kelas mengaji.

    Para guru berusaha sebaik-baiknya agar Afwa minimal dapat tamat satu atau dua buku Bahasa Inggris dan menguasai perkalian dan pembagian satu sampai sembilan sebelum berumur tujuh tahun, masuk SD selama ia tetap menikmati dunia belajarnya karena kita tidak ingin memberikan beban pelajaran yang berat pada anak. Jadi cara yang biasa kita lakukan adalah membiarkannya terlebih dahulu bermain hingga puas. Setelah itu, kita mengajaknya belajar. Cara ini efektif dan ia benar-benar aktif mengerjakan latihan-latihannya dengan serius, terlebih bila ia belajar dengan anak anak yang hampir seumuran dengannya, ia merasa bahwa belajar itu adalah bermain.

    Pengetahuan itu luas, bercabang-cabang. Kita akrabkan saja ilmu pengetahuan yang ditafsirkan akan sangat berguna untuk mendukung masa depan anak. Afwa adalah salah satu anak yang dapat mempelajari banyak tanpa merasa terbebani. Berkat ibunya yang selalu berada di lingkungan belajar dimana dia hadir di dalamnya, ia menikmati dunia belajarnya. Ia pun sangat memungkinkan menekuni pelajaran lainnya selain yang disebutkan di atas dan kita di RBB memang mengharapkan hal demikian. Biarkan anak mempelajari banyak hal hingga pada suatu saat dapat memilih sendiri cabang ilmu pengetahuan yang paling ia paling minati. Pilihannya itu yang akan menemaninya sepanjang perjalanan kehidupannya.

    Zulkarnain Patwa

    * Selasa, 31 Maret 2026

  • Dukungan Keluarga

    Dukungan Keluarga

    Orang yang jauh dari pusat pendidikan tapi punya keinginan kuat untuk belajar dapat mengikuti cara yang dilakukan Naura. Ia anak dari bukit Kindang yang tidaklah mungkin baginya untuk mengikuti lembaga ekstrakurikuler untuk kebutuhannya pada Bahasa Inggris dan Matematika. Tahun lalu pada 2025 tepat setelah tamat SD, ia menggunakan waktunya secara penuh belajar dan tinggal di kota Bulukumba. Pada liburan sekolah pada Ramadhan 2026, ia pun kembali belajar dari siang hingga jelang buka puasa.

    Tindakan pelajar seperti ini agak jarang kita temui dan menimbulkan rasa ingin tahu. Penulis pun berusaha menggali informasi dari ayah Naura. Ayahnya berpikir untuk hendak menyekolahkan anaknya di Pesantren Ummul Mu’minin, sekolah binaan Muhammadiyah di Kab. Maros, Sulawesi Selatan. Selain usaha lulus ujian, ia berharap Naura tidak ketinggalan dalam hal pelajaran. Hal itu pun didiskusikan dalam keluarganya sendiri dan menghasilkan keputusan untuk menggunakan waktu liburan dengan bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama). Karena bermanfaat, keputusan untuk kembali belajar pada 2026 bukanlah hal yang membosankan.

    Rekan-rekan pengajar di RBB pun punya kesan yang mendalam kepada ayah Naura. Setiap mengantar ke RBB, ayahnya tidak langsung pulang. Ia suka duduk di pagar sembari memperhatikan anaknya yang sedang belajar di ruang teras rumah. Ya, itu untuk Bahasa Inggris. Hal itu membuatnya bisa menyaksikan atmosfer belajar yang sedang berlangsung. Ia tentu dapat membaca apakah anaknya menikmati atau mengerti pelajaran atau tidak. Perhatian ini berlangsung bukan dalam sehari saja tapi setiap hari. Ternyata ia adalah anak semata wayang (anak satu satunya dalam keluarga). Naura merasa nyaman bila ayahnya tidak jauh dari sisinya ketika ia sedang beraktifitas.

    Sang ayah yang berpikir mengedepankan pendidikan sama sekali tidak terusik, tak merasa membuang waktu percuma. Ini karena ia tidak harus serba sibuk di lahan pertaniannya di kampung karena ia telah menanam cengkeh dan tanaman sejenis lainnya yang tidak mengharuskan hadir di ladang tiap hari. Kami pun jadi lebih akrab dengan orang tua pelajar.
    Kelas Belajar Naura
    Naura adalah anak yang pendiam. Ia lebih suka memperhatikan rekan kelasnya daripada berbicara. Kesan sabar ini menjadikannya tidak banyak bermain, lebih banyak fokus pada lembaran kertas latihan. Pendek kata, full belajar, minus bermain. Istirahatnya dengan duduk santai tanpa mengganggu atau diganggu oleh siapapun.

    Dalam hal pelajaran Bahasa Inggris, sebenarnya berbagai macam materi Basic English telah ia pelajari dan pahami tahun lalu. Pada kedatangan keduanya ini, kami agak kaget. Ia tidak lupa tapi beberapa pelajaran inti nampaknya tersimpan di alam bawah sadarnya. Padahal kami percaya bahwa apa yang ia telah pelajari erat kaitannya dengan pelajaran sekolahnya. Tanpa harus menyalahkan siapapun, kami mengambil sikap me-review materi yang lalu dan menambahkan bahan-bahan yang kemungkinan ia pelajari untuk anak SMP seumurannya.

    Sedangkan pelajaran Matematika yang baru ia pilih tahun ini, guru kelasnya tentu banyak mengajarkan menyeimbangkan dengan pelajaran sekolahnya dan memberikan penguatan pemahaman matematika dasar agar pondasinya kokoh dalam mempelajari Matematika tingkat lanjut di SMP. Ia menikmati proses belajar ini karena merasa cukup terbantu mengetahui materi yang belum sempat ia tuntaskan di sekolah.

    Sebagai penutup, belajar itu tidaklah mesti dibatasi oleh ruang dan waktu. Keinginan yang kuat akan mendekatkan kita pada pada tempat-tempat pendidikan yang dipercaya sesuai dengan kebutuhan dan cita-cita. Naura meskipun kampung halamannya masih kurang menawarkan pendidikan ekstrakurikuler, berkat dukungan keluarga bisa menembus batas tersebut dan telah berhasil menambah bekal dan meningkatkan kwalitas diri untuk menggapai masa depan yang cerah. Sampai ketemu lagi pada liburan berikutnya!

    Zulkarnain Patwa

  • Sempurna pada Ujian Perkalian dan Pembagian

    Sempurna pada Ujian Perkalian dan Pembagian

    Izzatunnisa pelajar kelas tiga SD ini turut dinyatakan lulus ujian tulis pada Perkalian dan Pembagian dengan nilai sempurna, seratus. Hal ini karena ia melihat seorang pelajar bernama Faizah yang lebih dahulu ujian dan memperoleh nilai seratus juga.

    Nisa anak yang berhasil meningkatkan kwalitas belajarnya dengan sistem kompetisi. Bila ia melihat rekannya pintar, ia juga ingin punya kemampuan yang sama dan bahkan melebihi orang yang ia anggap pintar. Tak heran, ia selalu mengajak rekan kelasnya yang ia anggap pintar untuk berlomba menjawab soal-soal secara lisan. Dan dalam berbagai macam lomba informal tersebut, Nisa lebih sering juara 1.

    Pengembangan cara belajar dengan sistem kompetisi memang menguatkan mental dan memperteguh daya juang. Kelemahan yang biasa muncul, anak akan mudah menganggap remeh orang lain yang berada di bawah kemampuannya. Oleh karena itu, Nisa selalu kita ingatkan untuk membantu rekan kelasnya yang kewalahan memahami pelajaran dengan cara memberitahu cara menjawab soal, bukan langsung pada jawaban sehingga tercipta komunikasi yang akrab yang membuat Nisa peduli pada orang yang ada di lingkungan belajarnya.

    Mengenai pelajaran sekolah, Nisa banyak dididik oleh Suci Rahmayani Masdah, guru utamanya pada kelas Matematika di Rumah Belajar Bersama. Pelajarannya Miss Uci menekankan untuk terlebih dahulu menuntaskan semua materi yang diberikan untuk mendapatkan waktu keluar main. Dan Nisa dengan senang hati mengikuti nasehat gurunya. Nisa telah terbiasa mengerjakan soal soal Matematika yang belum dipejari di sekolahnya. Tak mengherankan bila Nisa selalu berpendapat bahwa pelajaran sekolah itu gampang yang ia buktikan dengam sering mendapatkan nilai seratus. Dan bila ia kebanyakan bermain, ia selalu mengatakan bahwa ia sudah mengerjakan semua soal yang diberikan Miss Uci.

    Sekarang ini, untuk membuat Nisa lebih bersemangat belajar, ia perlu tantangan. Selain menuntaskan Matematika sekolah sesuai tingkat kelasnya, Nisa akan mendapatkan soal yang erat kaitannya dengan aritmatika (tambah, kurang, kali dan bagi) lanjutan yang bentuk soalnya mengasah ketelitian, kecepatan dan ketelitian berpikir.

    Semua in akan kita tekankan dalam waktu dekat. Ujian lisan pada Perkalian dan Pembagian akan dihadapi Nisa sebagai konsekuensi lulus ujian tulis. Dari sini, kita akan dapat mengukur sejauh mana kemampuannya dan akan memberikan soal soal lanjutan yang sesuai dengan perkembangan otaknya.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

  • Dalam Menuntut Ilmu, Jadilah yang Terbaik

    Dalam Menuntut Ilmu, Jadilah yang Terbaik

    Selama bertahun tahun, Lois terbiasa menjawab soal tanpa cakaran. Karena sekolah masih menerapkan soal essay yang membutuhkan cara kerja, kita pun beradaptasi agar semua berjalan normal.

    Peraih juara 1 (satu) Olimpiade Matematika Kabupaten pada 2022 dan 2023 dari SDN 2 Terang-Terang ini telah kita perkenankan mempelajari Matematika SMP selama hal itu tidak memberatkan pikirannya.

    Banyak pelajar yang berbakat seperti Lois tapi mereka merasa cukup aman saja dengan nilai yang sangat baik di sekolah. Mereka tidak ambil pusing dengan segala macam kejuaraan yang bertebaran di sekelilingnya. Padahal, potensinya sangat besar. Kita punya peluang karena mereka adalah kumpulan para pelajar yang giat dan mampu. Ukurannya jelas, nilai pelajaran Matematika sekolahnya lazim dapat nilai 9 (sembilan) dan 10 (sepuluh).

    Para orang tua perlu memotivasi anak anaknya juga agar ikut kompetisi seperti Lois sehingga punya semangat belajar untuk lebih cepat maju, cara pandang dan keilmuannya bertambah luas dengan pesat.

    Zulkarnain Patwa
    * Direktur Rumah Belajar Bersama

  • Pelajar Olimpiade Matematika SD

    Pelajar Olimpiade Matematika SD

    Juara 3 (tiga) Olimpiade Matematika Ujung Bulu Bulukumba 2023 ini terus belajar cara memetakan dan memecahkan soal soal hitung

  • Demi Waktu pada Olimpiade Matematika SD

    Demi Waktu pada Olimpiade Matematika SD

    Juara satu Olimpiade Matematika Bulukumba selama 2 tahun dari SDN (Sekolah Dasar Negeri) 2 Terang-Terang Bulukumba ini telah kita persiapkan untuk berkompetisi tingkat Sulawesi Selatan. Ia telah berkaca dari pengalaman tahun lalu ketika lolos sampai tingkat Provinsi Sulawesi Selatan saja.

    Sebagai persiapan yang matang, jauh sebelum kompetisi tingkat lokal 2023, beragam soal soal Olimpiade Matematika tingkat Provinsi dan Nasional telah ia kerjakan. Itu berarti ia telah siap untuk kompetisi yang lebih besar dengan menargetkan diri lolos pada tiap tantangan

    Tapi tiba tiba ia mendapatkan kabar bahwa Bulukumba terlambat mendapatkan informasi sehingga namanya tidak sempat terdaftar.

    Ia memang tidak banyak bicara namun wajah kekecewaan mendalam tidak dapat tersembunyikan karena hal demikian terpancar dari wajahnya.

    Waktu terus berjalan. Hadapilah dengan optimisme. Banyak kejuaraan besar menanti dirimu. Dengan perjuangan belajarmu yang tak kenal lelah, suatu saat kamu berada di tempat yang layak dimana orang orang akan memberikan perhatian sesuai dengan tugasnya.

    Bersabarlah! Tuhan itu maha mendengar dan tahu siapa hamba-Nya yang bersungguh sungguh.
    That’s all 

  • Mengalihkan Perhatian Ayla dari Games ke Belajar dan Olah Raga

    Mengalihkan Perhatian Ayla dari Games ke Belajar dan Olah Raga

    RBB, Bulukumba(26/1)— Seperti halnya kebanyakan kids zaman now, Nabila Alamanda adalah anak yang selalu ceria dengan games anroid. Betapa pun sangat dibatasi, ia selalu ada trik untuk memegang hp dengan menanti orang tuanya lengah atau tidur. Dengan kecerdikannya itu, jadilah ia seorang gamer.

    Pada 2020, Ayla, panggilan akrab Nabila Alamanda, telah naik kelas 5 SD tapi belum menguasai di luar kepala dasar-dasar perkalian 1 sampai 9 di luar kepala. Ibunya, Fatmawati Patwa, langsung turun tangan memperketat penggunaan anroid dan memberikan kelas tambahan Matematika di rumah. Fatma mengatakan, “3 orang kakaknya sewaktu kelas 1 dan 2 sudah paham perkalian. Ayla akan sulit mengikuti jejak kakak-kakaknya untuk bersekolah di pesantren Gontor bila tidak diberikan pelajaran ekstra. Ujian masuk Gontor itu selain bisa Qur’an, doa-doa harian dan Imla’  (menulis dalam bahasa Arab), matematika dasar harus tuntas. Fatma melanjutkan, “Bahasa Inggris juga sangat penting untuk pergaulan internasionalnya di masa akan datang.”

    Nabila Alamanda bersama rekan-rekannya di kelas Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama (RBB) pada 2021

    Dengan memanfaatkan situasi Corana dimana sekolah masih tidak buka, Ayla kemudian diintensifkan belajar pagi, sore dan malam di Rumah Belajar Bersama (RBB) untuk mendalami Matematika dan Bahasa Inggris. Dengan pengaturan jadwal yang baik, ia dapat mengikuti  7 sampai 9 kelas belajar dalam seminggu. Sedangkan aktifitas mengajinya, ia tetap melanjutkan pelajarannya di Ustadzah Murni Lehong, guru dimana semua kakak Ayla belajar hingga lulus pesantren ternama tersebut.  Dan untuk lebih  mempermantap, ayah Ayla bernama Ust. Patahuddin, Lc yang merupakan alumnus Al Azhar di Mesir selalu menanyakan di rumah pelajaran yang ia telah pelajari di tempat mengaji dan sekaligus menambahkan ilmu-ilmu agama yang penting ukuran anak-anak.

    Selain seluruh aktifitas di atas, Ayla yang aktif bergerak hobby berolah raga masih menyempatkkan diri mengikuti Karate dengan jadwal latihan 2 x seminggu di Kodim 1411 Bulukumba dan sekitar 3 x seminggu pergi berenang ke laut di daerah pasar Cekkeng atau Bira bersama orang tuanya.

    Latihan Karate Nabila Alamanda di Kodim 1411 Bulukumba, Sul-Sel.

    Kepadatan aktitifas Ayla tersebut cukup efektif mengurangi kegiatannya bermain games di anroid. Sebagai pengalihan perhatian yang lain, pergaulannya bersama anak-anak tetangga ditingkatkan agar dunia bermain semasa ia anak anak tidak hilang.

    Efek dari latihan Karate yang membuat Nabila Alamanda rajin berolah raga di rumahnya.
    Sumber foto: Fatmawati Patwa

    Saat ditanya, “Apakah Ayla enjoy (baca; senang) dengan segala aktivitasnya yang serba padat sekarang ini?”  Ia dengan santai menjawab, “Enjoy lah. Saya suka pergi belajar karena bisa dapat teman baru cuma tidak suka saja kalau soalnya susah-susah. Kalau olah raga, itu kan kesukaanku.  I like go swimming and Karate,” katanya.

    Begitulah desain orang tua Ayla dalam mendidik anak bungsunya agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat semasa kecil yang diharapkan dapat menjadi bekal untuk bersekolah di sekolah dan kampus yang berkwalitas nantinya. Terus belajar dan olah raga Ayla. Good luck!

    Zulkarnain Patwa
    Staff Rumah Belajar Bersama