Kategori: Bahasa Inggris

Program dan mata pelajaran Bahasa Inggris dari Rumah Belajar Bersama

  • Peduli

    Peduli

    Tanya jawab online untuk kedua kalinya dengan Salma Minasaroh, penggagas lembaga pendidikan GAIA di Pati, Jawa Tengah, dipadati oleh anak-anak SD dan segelintir anak SMP berjumlah 16 peserta dari RBB (Rumah Belajar Bersama) di Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan. Anak-anak semangat dan antri mendapatkan pertanyaan yang jawabannya telah mereka siapkan. Rasa penasaran ini muncul karena pada pertemuan pertama, hanya dua orang pelajar saja, yaitu Adeeva dan Faika, yang mendapatkan kesempatan untuk ngobrol online.

    Dalam hal menjawab, anak-anak telah mempersiapkan dengan baik. Hal yang menjadi kendala adalah mereka ingin cepat mendapatkan pertanyaan dan ingin akting bicara. Tanda acungan tangan ✋ banyak muncul di kamera dan teriakan “me” (saya) menandakan mereka ingin segera tampil juga.

    Miss Salma berusaha semaksimal mungkin agar semua anak mendapatkan kesempatan untuk bicara. Setelah anak-anak menjawab pertanyaan, ungkapan “Okay” sering muncul dari Miss Salma, pertanda anak-anak sudah menjawab dengan tuntas.

    Patut diakui, beberapa orang yang masih kesulitan memahami pertanyaan berusaha mendatangi guru kelasnya di RBB (Rumah Belajar Bersama) agar terlihat mampu berbicara dengan baik seperti teman-temannya yang lain. Sebagian berbisik-bisik kepada teman-temannya tentang kosa kata yang mereka lupakan. Beragam emoji yang lucu sering mereka hadirkan di depan kamera. No one can stop children’s expression (Tidak ada yang dapat menghentikan ekspresi anak-anak).

    Keputusan pada kepedulian obrolan online bahasa Inggris ini terjadi karena Miss Salma merasa berkepentingan untuk berbagi ilmu dengan anak-anak Indonesia yang tersebar di berbagai daerah. Pelajar RBB mendapatkan kesempatan bertemu karena selain ada hubungan perkawanan yang baik sewaktu kuliah dengan pengajar RBB, Miss Salma juga melihat ada perkembangan berarti dari para pelajar yang ia amati melalui media sosial.

    Berdasarkan pertimbangan di atas, pendidikan akademik Miss Salma di UAD (Universitas Ahmad Dahlan) dan UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta serta non akademik di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur sama sekali tidak membatasi dirinya untuk berakrab ria kepada para pelajar pemula tapi malahan jadi strategi untuk lebih membumi dalam turut mendukung kemajuan pendidikan anak anak Indonesia. Bahasa Inggris semestinya bukan lagi ‘hantu’ bagi para pelajar sekolah kita.

    Hal positif lainnya yang dapat dipetik di sini adalah terdapat kesabaran yang tingkat tinggi dalam menghadapi anak anak yang suka bikin suara ramai meskipun belum ditanya. Jam terbang mengajar memang sangat mempengaruhi. Terbukti, dari semua peserta yang bertahan hingga akhir pembelajaran sekitar dua jam, 20 pertanyaan kepada para peserta dapat diselesaikan.

    Tentunya, terdapat juga kelemahan dari tanya jawab online tersebut. Dari pengalaman dua pertemuan ini, kami akan mendesain program yang lebih baik lagi sehingga rasa penasaran pelajar yang ingin praktek Inggris lebih banyak dapat terpenuhi.

    As a closing statement, “You have to study more and more. Don’t be lazy!” said Salma. That’s right. And you have just given great motivation to our students here, in South Sulawesi. Thank you very much.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 22 April 2026

  • Kolaborasi

    Kolaborasi

    Negara Finlandia menggemparkan dan menjadi rujukan dunia pendidikan karena berhasil menjadi top one melampaui Amerika. Orang Scandinavian itu tidak menerapkan sistem kompetisi melainkan kolaborasi. Kompetisi memang mencetak seseorang menjadi terbaik sedangkan kolaborasi mengajak kerjasama, saling mengisi kelebihan dan kekurangan, pintar bersama.

    Azdra (jilbab abu-abu) dan Ifa (jilbab merah ) pelajar kelas 1 SMPN 1 Bulukumba, tidak bisa dipisahkan meskipun mereka suka saling menyalahkan. Azdra anak yang tidak pusing dengan urusan pelajaran. Ia hanya tidak ingin ditafsirkan oleh ibunya tidak belajar. Sedangkan Ifa, ia punya target, kerja tugas dan rajin membaca. Azdra akan rajin bila tahu bahwa pelajarannya tertinggal dari Ifa. Ifa yang meskipun sering marah ke Azdra terlihat senang hati bila Azdra butuh bantuan. Mereka ingin sukses bersama.

    Apa yang perlu kita tindak lanjutkan adalah para pelajar yang sudah terbiasa saling membantu tidak diarahkan pada menyontek, kecerdasannya semu. Anak anak yang biasa menyontek akan merasa aman karena mendapatkan nilai rapor yang bagus. Orang tua murid yang sekedar melihat nilai rapor anak-anaknya pasti akan terkecoh. Pada akhirnya, generasi yang tercipta tidak ada bedanya dengan mesin foto copy.

    Dari cerita di atas, Ifa berlatih menjelaskan agar Azdra memperoleh proses belajar hingga tahap tahu. Dengan demikian, derajatnya sama sama terangkat. Di kemudian hari, Azdra bisa menolong pelajar lainnya yang pernah senasib dengan dirinya. Dan bagi orang seperti Ifa, ia tidak akan kekurangan ilmu sedikit pun, malahan ilmunya makin bertambah.

    Dalam beberapa hal, Azdra sesekali membantu rekan kelasnya untuk membaca dengan atau menjawab soal-soal latihan dengan benar. Di sini, Azdra tanpa ia sadari dirinya telah menerapkan sistem kolaborasi, bukan kompetisi. Ia menjadi bagian orang yang penting di kelas, dibutuhkan oleh rekan-rekannya

    Long life education. Pendidikan itu memang investasi jangka panjang. Perubahan dan pengembangan cara pandang itu butuh proses belajar yang berkelanjutan. Kesuksesan sistem kolaborasi belajar yang dibangun oleh Finlandia terjadi karena mereka terus berbenah diri dimana para pelajar, lingkungan, orang tua dan sistem pemerintahan saling mendukung satu sama lain. Terdengar sederhana tapi itulah kenyataan yang mengagetkan dunia pendidikan.

    Sebenarnya sih, Indonesia itu juga punya Tut Wuri Handayani (dari belakang memberikan dorongan), saling mendukung. Kalau tidak dibilang sama dengan Finlandia, paling sedikit, ada kemiripan. Tapi kenapa hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) literasi membaca, matematika dan sains pada 2022 dari pelajar Indonesia itu masih di bawah standar? Akankah PISA pada 2025 yang rilis terbaru diumumkan 2026 ini mengalami perubahan?

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, Senin, 21 April 2026

  • Mengembangkan Otak Anak

    Mengembangkan Otak Anak

    Mengajar anak anak dengan menargetkan memahami suatu materi tertentu dengan pemahaman yang utuh bukan perkara yang mudah. Saat sedang belajar saja, mereka sering bertanya, ‘Kapan keluar main?’ Mereka suka cepat-cepat menyelesaikan tugas hanya karena ingin keluar main, bermain main.

    Istilah ‘main-main’ yang merupakan kesenangan anak anak yang tidak bisa diganggu gugat itu dapat disetel untuk memenuhi target belajarnya. Bagi anak-anak yang lebih dahulu menyelesaikan tugas, mereka memperoleh keluar main lebih awal. Mereka pun akan berlomba.

    Tapi ada juga anak anak yang tidak suka pendekatan ini sehingga jurus yang kita gunakan adalah sedikit ancaman dengan mengatakan tidak ada keluar main bagi yang tidak menyelesaikan tugas. Karena tidak ingin kesempatan bermain hilang, mereka segera mengerjakan tugasnya dengan cara bertanya ke teman-temannya dengan maksud menjawab latihan dengan cepat.

    Kendala yang sering muncul adalah keakraban antara guru dan anak-anak seringkali membuat guru tidak diperhatikan. Hal ini dipengaruhi oleh sikap guru yang memberikan kebebasan berekspresi pada muridnya. Ketika guru sedang menjelaskan, sebagian murid akan berbicara yang menyebabkan penjelasan guru tidak mereka dengar. Kebisingan kelas terjadi, ruang belajar tidak kondusif, suara bertabrakan.

    Sekali waktu, penulis pernah tidak mau mengajar satu kelas anak anak. Mereka berusaha datang merayu tapi penulis tidak menggubris. ‘Silahkan keluar main sepuasnya. Anggap saja waktu belajar itu waktu keluar main’, kata penulis. ‘Saya tidak mau mengajar kalian lagi’. Gertakan ini sengaja diberikan agar mereka bisa berpikir serius mencari akal menemukan solusi.

    Solusi Cerdas Anak anak
    Anak-anak terdiam dan berkumpul berdiskusi dan kemudian menemukan solusi sendiri. Mereka sepakat membaca materi pelajarannya secara bersama-sama tanpa guru. Bila ada yang bikin gaduh, mereka saling menegur untuk kembali fokus pada pelajaran. Sebagai penguat, rekaman video dibuat sebagai bukti bahwa mereka telah berubah. Setelah selesai, video tersebut diperlihatkan ke penulis.

    Negosiasi anak-anak berjalan sukses. Karena senang dengan trik rayuannya, penulis Kembali mendidik malam itu juga. Sebagai balasannya, mereka dapat games. Mereka bergembira karena guru kelasnya bersedia kembali mengadakan dan games adalah kesukaannya yang selalu dinantikan setelah belajar.

    Kesulitan dalam mendidik anak-anak dapat terselesaikan dengan tidak semata-mata menargetkan mereka untuk paham materi dalam waktu yang singkat mengingat ada ruang bermain yang harus dipenuhi. Percepatan dalam dilakukan dengan cara mengemas kelas belajar dalam suasana bermain dan menjawab waktu keluar main dapat diisi dengan permainan yang mengembangkan otak anak dan berpikir.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 19 April 2026

  • Melepaskan Ego Kebesaran dalam Belajar

    Melepaskan Ego Kebesaran dalam Belajar

    Apakah anda pernah belajar ke kampung Inggris, Pare, Kediri di Jawa Timur? Mungkin anda akan heran pelajar sekolah mahasiswa dan dosen berada di dalam satu kelas belajar. Tidak ada pemikiran perbedaan umur, apalagi kebanggaan status. Para guru-gurunya pun relatif yang masih muda. Bahkan, banyak diantara mereka yang tamat SMA tapi ilmu Inggrisnya bertaraf internasional.

    Lingkungan seperti itu sangat kondusif untuk tidak memikirkan status. Para anak muda itu tidak akan sungkan bertanya pada anak remaja yang telah paham materi tertentu. Dan karena saling tolong menolong dalam hal berbagi ilmu itu kejadian biasa yang kita temukan dalam keseharian, dala. suasana santai pun dapat belajar.

    RBB (Rumah Belajar Bersama) pun menerapkan hal yang sama. Adeeva, seorang anak yang telah menamatkan buku cerita Inggris, membantu Lulu, seorang pelajar pemula yang telah tamat SMA. Lulu terkesan dengan kemampuan Adeeva yang memahami isi cerita dengan baik dan cara menjawab menjawab soal-soal dengan benar. Karena keduanya saling terbuka untuk belajar tanpa memikirkan status, dalam waktu yang singkat, sebuah cerita berbahasa Inggris dapat Lulu selesaikan.

    Lulu kini tahu bahwa ia tidak semata-mata bertumpu pada guru kelas. Dengan bergaul kepada sesama pelajar RBB, ia bisa bertanya dan menyelesaikan persoalan Inggris yang ia sedang pelajari. Dan bagi Adeeva dan pelajar lainnya yang telah tamat beberapa buku, itu semacam micro teaching untuk mengasah kemampuan berbagi ilmu yang membuatnya lebih paham pada materi yang ia telah pelajari. Keakraban sesama pelajar pun terbina dimana obrolan mereka bukan lagi sekedar gosip tapi pengetahuan.

    Ketika proses belajar di atas sedang berlangsung, guru kelas sebaiknya tidak berada di dekat para pelajar agar sang guru tidak menjadi rujukan utama. Biarkan saja mereka saling berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahannya. Bila terdapat masalah yang tidak dapat dipecahkan, guru bisa turun tangan membantu memberikan arahan cara menjawab, bukan memberitahu jawaban agar eksplorasi berpikir lebih terasah.

    Perkembangan belajar secara kultural ini sangat kuat membangun tradisi belajar dimanapun kita berada. Dengan meleburkan status sebagai orang penting, ego otomatis terkikis. Para pelajar tidak akan sungkan lagi untuk belajar kepada siapapun juga termasuk bertanya kepada anak anak yang berilmu. Ketika kita berada di lingkungan seperti itu, maka dimanapun kita berada atau dalam kondisi santai sekalipun, belajar tetap bisa dilakukan. Dan para guru yang dicap punya kemampuan mengelola kelas seperti di atas adalah rekan belajar. Semua meleburkan diri jadi satu kesatuan, belajar bersama.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu 19 April 2026

  • Zoom Inggris untuk Pelajar Indonesia

    Zoom Inggris untuk Pelajar Indonesia

    Diskusi lewat zoom video merupakan gagasan cerdas dalam mempertemukan orang orang yang berbakat dalam pengembangan Bahasa Inggris yang sedang kami gerakkan. Jauh sebelum virus Corona mengamuk, RBB (Rumah Belajar Bersama) dan EPC (English Practice Club) telah menjalankan ini dengan mengundang berbagai alumni pelajar luar negeri Indonesia dengan berdialog dengan pelajar dan khalayak umum yang berminat praktek Bahasa Inggris. Sayangnya, pertemuan zoom ini hanya delapan kali saja.

    Pada April 2026, setelah zoom pertemuan pertama dengan Salma Minasaroh–lulusan Universitas Gadjah Mada, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Kampung Inggris Pare, Jawa Timur, penulis mendapatkan usulan dari Mr. Ancha, pengajar RBB, lulusan UIN Alauddin, Muhammadiyah Makassar dan UGM Yogyakarta plus Kampung Inggris Pare agar RBB menjalin komunikasi yang erat dengan pengiat Bahasa Inggris super aktif di Bulukumba. Miss Sindar English dan Miss Fathy Cayadi kami ajak agar para pelajarnya bisa berkenalan dan bertukar gagasan dengan orang-orang baru di Sulawesi Selatan dan Jawa meskipun mereka tidak pernah bertatap muka langsung.

    Miss Sindar yang sukses merancang murid-muridnya di SMA 6 Kec. Herlang Bulukumba membuat buku Tenses menyambut gembira gagasan tersebut tentu punya stok pelajar yang siap untuk menindaklanjutinya. Untuk tahap awal, diskusi akan lebih banyak pada mengasah kemampuan berbicara dimana para pelajar yang masih pemula speaking pun diperkenankan bergabung. Grammar dan Pronunciation (tata bahasa dan pengucapan) juga bisa dibahas bila peserta zoom membutuhkan nantinya.

    Tahap berikutnya, ketika para peserta zoom ini telah aktif berbahasa Inggris, kita akan kembali mengundang alumni Indonesia yang pernah kuliah di luar negeri dan termasuk bule, para orang asing yang aktif atau pemerhati dunia pendidikan.

    Oh iya, sekedar info. Suasana makan siang bersama keluarga Sindar ini ditemani oleh Edi Iswandi Mallihorang, sang suami tercintanya
    Edi adalah rekan bermain penulis semasa kecil di Kalumpang dan menganggap penulis anak yang nakal. Setelah dewasa dan bertemu kembali, pemahamannya terhadap penulis berubah dan malahan mendorong anaknya di desa untuk ke kota Bulukumba belajar Inggris untuk masuk sekolah pelayaran, target Kapten. Dia pun sangat mendukung gerakan yang sedang diagendakan ini. Ia pun yakin bahwa banyak pelajar akan termudahkan dalam belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, April 2026

  • Karate, Bahasa Inggris dan Intelektualitas

    Karate, Bahasa Inggris dan Intelektualitas

    Soal ujian Kumite dan Kata (Pertarungan dan Jurus) standar WKF (World Karate Federation) yang diikuti Indonesia memang bikin pening kepala para peserta yang ikut ujian. Beruntung, di Sulawesi Selatan ada sosok Prof. Muzakkir yang telah malang melintang di dunia internasional dan punya kecerdasan menyederhanakan dengan Bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh peserta pelatihan FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan yang penulis ikuti pada 2023 dan 2026.

    Dari modul pembelajaran yang tersebar versi Bahasa Indonesia, orang orang yang tidak mengerti dasar-dasar Bahasa Inggris pasti sangat kewalahan memahaminya. Misal, kata ‘tongkat kegembiraan’ sebenarnya berasal dari kata ‘joy sticks’, alat elektronik yang dipegang oleh juri untuk menilai poin. Kemungkinan besar proses penerjemahan sekedar menggunakan terjemahan google atau semacamnya tanpa melibatkan manusia mengeditnya.

    Karena terlanjur mengikuti WKF, Bahasa Inggris menjadi alat komunikasi yang penting, minimal dasar-dasarnya. Bila tidak, Wasit Juri kita hanya mampu sampai level nasional saja, sulit bersaing di tingkat internasional. Soal soal ujian tindak lanjut pun tidak pakai bahasa Indonesia lagi, pasti Inggris. Itu saja sudah repot. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya wasit juri Indonesia berkomunikasi dengan sesama juri yang berbeda negara bila terdapat protes yang sulit dipecahkan dalam suatu pertandingan.

    Penulis mengajukan beberapa penjelasan dan pertanyaan pada pembahasan aturan WKF (World Karate Federation) yang disosiasikan melalui FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan. Seminar ini dipandu  langsung oleh Sensei Uceng sebagai MC (Master of Ceremony) dan Prof. Muzakkir sebagai pembicara utama di Universitas Kristen Indonesia Paulus. Makassar, Senin 13 April 2026.

    Kapasitas lain yang dibutuhkan adalah kecerdasan intelektual. Wasit Juri bukanlah atlet yang harus menampilkan keahliannya dalam bela diri. Mereka adalah orang-orang dituntut menganalisa gerakan yang sesuai dengan standar WKF, termasuk kesalahan yang diperbuat. Persoalan yang tidak tercatat dalam aturan pun biasanya muncul. Misal, dalam aturan 10 detik, tiba tiba seorang atlet pingsan. Apa guna menghitung 10 detik bagi orang pingsan? Dan bagaimana bila ia sadar dan siap lagi bertarung sebelum atau setelah tiga menit ditangani dokter? Keputusan mesti dibuat dan itu tidak boleh bertentangan dasar aturan. Itu butuh nalar intelektual.

    Intelektual yang bisa berbahasa Inggris–Bahasa Jepang juga perlu juga agar tahu asal usul kata dari istilah yang dipakai dalam karate–perlu dicetak lebih banyak guna membantu menerjemahkan dan menjelaskan kepada pelajar karate tahap awal. Sosok Prof. Muzakkir yang juga Dosen UNHAS (Universitas Hasanuddin) Makassar berhasil mengkombinasikan pengetahuan berbasis akademik dengan pengetahuan karate patut dicontoh karena punya peranan besar dalam membuat karate itu mudah dimengerti oleh orang orang yang menggeluti dunia karate.

    Zulkarnain Patwa
    * Peserta Ujian Wasit Juri FORKI Sulawesi Selatan.
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan.
    * Direktur dan Pengajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama.

    Makassar, Senin 13 April 2026

  • Percakapan Inggris Anak Anak

    Percakapan Inggris Anak Anak

    Melatih keaktifan anak anak berbicara Inggris itu gampang gampang susah. Mereka yang suka berpasangan dengan teman dekatnya dijadikan teman bicaranya. Mula-mula kita siapkan bahan pertanyaan dimana mereka menjawab sesuai dengan keinginannya. Kemudian, bahan tersebut dijadikan tanya jawab.

    Anak anak yang belum lancar alias mengerti luar kepala diperkenankan untuk membaca lembaran kertas percakapan sedangkan anak yang sudah lancar dengan sendirinya tidak butuh kertas lagi untuk menjawab. Ia akan berekspresi dalam mengungkapkan gagasannya.

    Kebiasaan berbicara Inggris tersebut perlu dibarengi dengan gerakan literasi. Hal ini bertujuan untuk membantu para pelajar kita berwawasan luas sehingga mereka tidak sekedar bicara. Ada bahan bahan obrolan yang terbaru untuk membuat pembicaraan mereka jadi lebih menarik.

    Membaca realistis sangat berperan menentukan metode belajar yang efektif. Ketika anak anak asyik berbicara Inggris dengan teman dekatnya, kita memulai saja dari hal hal yang disukainya. Berikutnya, rancangan pengembangan metode belajar lainnya dapat dengan serta merta mengikuti.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Sabtu 11 April 2026

  • Tidak Bandel

    Tidak Bandel

    Palaguna Patwa yang masa kecil dan remajanya terkenal bandel dan suka berantem kini berubah. Pilihan lanjut kuliah dan lulus masuk di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta membuatnya punya lingkungan kondusif yang baru. Beruntung, kebiasaan membaca buku yang perhatian dari kedua orang tuanya, Syamsu Alam Patwa (Alm.) dan Andi Rachmawati, menurun padanya sehingga otaknya dapat memilah milah hal yang baik ia lakukan.

    Pulang kampung sejenak, Palaguna banyak mengisi waktu di RBB (Rumah Belajar Bersama). Ia tidak berkeliaran lagi sebagaimana waktu sekolah tapi terlibat aktif mendidik anak anak RBB. Berbekal pengalaman masa kecilnya, ternyata ia tahu cara mengatasi anak-anak yang bandel dan tidak mau belajar.

    Anak anak yang satu persatu berlatih menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam Bahasa Inggris oleh Palaguna.

    Pertama, mereka sepakat bermain sambil belajar tapi tidak membuat kegaduhan selama belajar. Kedua, semua anak anak boleh keluar main bila bacaannya selesai. Karena enjoy (senang), anak anak berkata, ‘Pecat mi (saja) itu Mr. Nain’. Maksudnya, Mr. Nain yang menjadi guru utama diganti saja dengan Mr. Palaguna. Palaguna tertawa melihat keberanian dan kebebasan anak anak berekspresi di RBB.

    Setiap anak melatih kepercayaan diri dengan mengekspresikan pendapatnya sendiri. Palaguna mendengarkan dengan penuh perhatian dan menindaklanjuti usulan anak anak tersebut.

    Palaguna sebenarnya juga pelajar Bahasa Inggris di RBB semasa SMA. Setelah kuliah di Jawa, memperdalam ilmunya di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur adalah langkah yang sangat tepat. Menjelang sarjana sekarang ini, ia juga ingin lanjut lagi kuliah S 2 sehingga kembali ke RBB mempelajari dasar dasar TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Test System). Dari hal tersebut, ada kesempatan berbagi ilmu kepada anak-anak di kampung halamannya.

    Tawar menawar materi yang akan dipelajari dengan anak anak. Anak anak tetap ingin waktu belajar itu dikemas dalam suasana bermain agar tidak membosankan. Dan Palaguna sepakat.

    Palaguna bersyukur menempuh jalur pendidikan akademik karena hal itu membuatnya lebih sadar bahwa banyak waktu yang berlalu telah ia sia-siakan. Masa lalu tidak mungkin berulang kembali. Ia berharap jangan sampai generasi kids zaman now menjalani masa kecil seperti dirinya sehingga sehingga sangat termotivasi mengajar anak anak. Dalam urusan literasi, semua anak anak yang ia didik mampu menyelesaikan tugas bacaan yang ia berikan. Dahsyat kan! Tidak ada lagi anak bandel dan berantem sedikitpun saat ia mengisi kelas.

    Selamat jelang sarjana, Palaguna dan semoga dapat menempuh S 2 di kampus yang dicita-citakan yang didasarkan oleh ilmu pengetahuan untuk berkembang pesat.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 10 April 2026

  • Tanya Jawab Inggris secara Online

    Tanya Jawab Inggris secara Online

    Dua gadis cilik memperoleh kesempatan berharga bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris lewat zoom. Pilihan Miss Salma Minasaroh pada Adeeva kelas 4 SD dan Faika kelas 3 SD ini dari hasil pengamatan belajar anak anak di media sosial RBB (Rumah Belajar Bersama). Adeeva anak yang lancar berbicara, tamat dua cerita buku Inggris dan paham perundang-undangan tenses luar kepala dan Faika selain tamat juga dua buku berbahasa Inggris, jika juga peraih medali emas olimpiade Bahasa Inggris pada National Olympiad.

    Salma yang merupakan alumni Bahasa Inggris di UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta dan UAD di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta serta BEC (Basic English Course) di Kampung Inggris Pare, Jawa Timur tahu betul cara melakukan pendekatan pada anak anak agar suasana perkenalan tidak kaku. Ia terlebih dahulu mengirimkan dua puluh pertanyaan sederhana sebagai pembuka untuk dipelajari anak anak.

    Berikut pernyataannya:

    1. What is your full name?
    2. Spell your name, please.
    3. Where and when were you born?
    4. What is your father’s name?
    5. What is he? Or what is his job?
    6. What is your mother’s name?
    7. What is she? Or what is her job?
    8. What is your favourite drink? Why?
    9. What is your favourite food? Why?
    10. What are your hobbies?
    11. Who is your idol?
    12. What do you want to be?
    13. What favourite vegetable do you like?
    14. What favourite fruit do you like?
    15. Can you tell me about your last birthday?
    16. How many siblings do you have?
    17. What is the most important thing in your living room?
    18. What is the most important thing in your kitchen?
    19. What is your favourite spot at your home?
    20. What do you want to eat and drink (now)?

    Adeeva dan Faika terlebih dahulu diberikan kesempatan untuk bertanya hingga tuntas. Setelah itu, Miss Salma balik bertanya. Anak-anak yang selama tiga hari dilatih cara menjawab soal oleh Mr..Ancha, pengajar RBB, berekspresi mengungkapkan gagasannya sebisa mungkin tidak menjawab dalam satu kalimat saja melainkan minimal dua atau tiga kalimat. Kedua anak tersebut pun puas.

    Sebagai pengembangan, anak-anak kembali bertanya :

    1. What is your job?
    2. Where do you study?
    3. What games do you like?
    4. What is your favorite color?
    5. Where do you live?
    6. What books do you like?
    7. What countries do you want to visit?
    8. How old are you?
    9. What kind of music do you like?

    Tentu saja Miss Salma menjawab dengan perlahan agar anak anak mengerti penjelasannya. Di sela-sela pertanyaan itu, Miss Salma juga memberikan pertanyaan lain. Sesekali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar anak anak mampu menyusun jawaban dengan benar. Itulah tahap di mana tanpa disadari, anak anak Sulawesi Selatan memperoleh informasi tentang kehidupan di Jawa Tengah. Obrolan ini berjalan selama tujuh puluh menit.

    Inisiatif Miss Salma untuk terhubung dengan para pelajar berbakat secara online sangat membantu pelajar di berbagai daerah untuk mengenal dunia luar. Segelintir anak yang terpilih merasa menjadi istimewa dan termotivasi belajar lebih giat untuk bisa tampil lebih meyakinkan. Sedangkan anak anak yang belum memperoleh kesempatan ingin juga mendapatkan tiket untuk bisa juga tampil bicara dengan orang luar. Mereka makin tahu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk ngobrol Inggris dengan orang luar. Intinya semua itu memicu semangat belajar yang lebih tinggi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 10 April 2026

  • Teladan Kepemimpinan, Pendidikan dan Alam

    Teladan Kepemimpinan, Pendidikan dan Alam

    Ayatullah Ali Khamenei terkenal dengan sosok pemimpin Islam di Iran dengan kesederhanaannya. Di Indonesia juga ada tapi itu bukan presiden atau pejabat negara tapi pemimpin adat yang bernama Amma Toa, pimpinan ada di Kajang yang kehidupan masyarakatnya murni menyatu dengan alam. Kehidupan Amma Toa dan rakyatnya sungguh sederhana. Jangankan listrik, semua hal-hal yang berbau modernitas tidak boleh masuk di kawasan adat, Kajang Dalam. Bagi masyarakatnya yang ingin bersandingan dengan modernitas, silahkan saja tinggal luar kawasan adat, Kajang Luar.

    Pada Minggu (5/04/2026), penulis menghadiri pesta pernikahan anak kandung Amma Toa bernama Jaja Ramlah di Kajang Luar. Saat bersalaman dengan pengantin, Ramlah mengatakan, “Terima kasih Pung Nain’. Tentu penulis kaget. Dari mana ia mengenalku? Kan bukan orang terkenal. Penulis memang sering berkunjung ke rumah Amma Toa menemani tamu wisatawan mancanegara dan tokoh tokoh nasional termasuk Dina Sulaeman, pakar Timur Tengah (Tinur Barat) yang konsentrasi pada pembebasan rakyat Palestina dari penjajahan Israel tapi tidak pernah bertemu Ramlah. Tak ingin kikuk, segera setelah Ramlah bicara, ucapan “Semoga pernikahan kalian bahagia dunia hingga akhirat’ untuk membuat suasana tetap terasa akrab. Sejurus kemudian, sesi foro bersama rombongan kami dengan pasangan pengantin pun terjadi.

    Karena tidak banyak bisa terhubung dengan Ramlah, memori penulis langsung menghubungkan masa tiga belas tahun yang lalu, 2012 ketika memilih mengabdi untuk berbagi ilmu dengan rakyat Kajang berpusat di rumah Abdul Kahar Muslim dan SD (Sekolah Dasar) 115 Balagana — tempat Daeng Kamsuri Muslim, adik Daeng Kahar mengajar. Tepat setelah shalat subuh, anak-anak belajar di rumah Daeng Kahar dan di pagi, di sekolah. Waktu itu, belajar wajib sekolah mulai jam delapan pagi. Karena kegiatan ini hanya inisiatif dan tidak terdaftar di sekolah, jam mengajar yang penulis peroleh yaitu jam tujuh sampai delapan pagi. Wah, seru banget. Tidak menyangka, ruangan kelas selalu saja penuh karena anak-anak mau datang lebih awal. Mungkin, mereka menganggap pelajaran Bahasa Inggris itu hal baru dan menyenangkan . Ya, percakapan sehari hari dalam dalam permainan dan diterjemahkan ke dalam bahasa kaum, konjo. Sore hingga malam hari kegiatan belajar dilaksanakan lagi di rumah Daeng Kahar. Itulah yang terjadi dalam sebulan.

    Keinginan untuk berbagi ilmu ke Kajang muncul ketika masih kecil dan sering berlibur panjang di rumah Daeng Kahar di tahun 90-an. Beberapa waktu sebelum acara pernikahan Daeng Kahar dengan Andi Nurlindah, penulis menyaksikan belum ada sekolah didirikan di sana. Pemandangan sehari-hari adalah anak anak dan orang dewasa terang-terangan pakai badik di pinggang sambil beraktivitas, berjalan kaki atau naik kuda menuju suatu tempat. Jalanan aspal belum ada, apalagi sekolah. Malam hari menggunakan sulo (pelita). Sesuatu hal yang sangat berbeda di kampungku di Kalumpang, Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba. Itu adalah masa di mana penulis berniat melakukan sesuatu untuk rakyat Kajang, sekecil apapun itu. Dan alhamdulillah niat itu dapat terwujud dengan menemui Daeng Kahar setelah menyelesaikan kuliah Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

    Dari pengabdian tahun 2012 itu, gerakan pembaharuan yang digerakkan Daeng Kahar dkk tampak. Jalanan telah beraspal, listrik dan yang paling penting sekolah mulai dari TK hingga SMA telah tersedia. Kehidupan ekonomi rakyat tumbuh dengan banyaknya rumah-rumah kayu yang baru dibangun dan para muda-mudi banyak
    melanjutkan kuliah di universitas. Ini memang bukanlah Restorasi Meiji sebagaimana Jepang oleh Kaisar Meiji dengan nama asli Mutsuhito yang harus berperang menumpahkan darah para samurai untuk membuat modernitas masuk tapi sebuah jalan tengah agar rakyat Kajang tidak terhimpit dari kepungan modernisasi. Ramlah anak anak muda-mudi generasi zaman sekarang telah banyak yang sarjana dan punya beragam gagasan berkembang untuk memajukan Kajang yang tidak berbenturan dengan adat istiadatnya.

    Menjaga adat-istiadat mengantarkan Kajang sebagai penjaga hutan paling lestari dunia. Para sarjana kehutanan, intelektual, pengambil kebijakan dapat bercermin dari pengetahuan dan kearifan lokal Kajang dalam menahan laju para kapitalis super rakus yang merusak dan mengeruk bumi dan memproduksi cerobong asap mencemari udara yang membuat pemanasan global. Ini juga tanda bahwa betapapun manusia jadi serba modern, ia tidak boleh tercerabut dari rumpunnya, nilai nilai luhur yang tumbuh di masyarakatnya. Bila lupa, tutup mata atau pura-pura lupa, bencana besar pasti datang mengikuti. Modernitas juga harus terkontrol, tidak boleh membiarkan keuntungan ekonomi untuk segelintir orang semata karena hal itu semakin memperparah ketimpangan sosial masyarakat.

    Ayatullah Ali Khamenei, sosok pemimpin tertinggi Republik Islam Iran adalah simbol tokoh agama yang konsisten membela kaum tertindas di Palestina dan pengembangan ilmu pengetahuan rakyatnya di Iran telah mampu menunjukkan kemandirian kepada dunia, tidak bisa didikte oleh Amerika Serikat dan Israel*hell dan Amma Toa hutannya seluas sekitar 313, 99 hektar tetap bagian dari paru paru bumi tetap lestari sebagai pemimpin adat sama-sama hidup dalam kesederhanaan. Spirit agama dan budaya dapat hidup selaras yang tercermin dari sikap dan kehidupan kedua pemimpin tersebut. Kita tahu, kesederhanaan sosok teladan dari para pemimpin yang sudah begitu sulit ditemukan sekarang ini masih dapat kita temukan dari kedua tokoh ini. Mereka adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya.

    Selamat mengarungi hidup baru buat Jaja Ramlah, S. I. P. dan Zulkifli T., S.Kom. Semoga kedua pasangan mendapatkan ketenangan kehidupan dan saling menyayangi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 8 April 2026