Revolusi Prancis yang Gagal Masuk ke Palampang

Kedai Litera di Palampang, Kec. Rilau Ale satu-satunya kedai kopi rakyat yang menyediakan beragam buku di Kab. Bulukumba, Sulawesi-Selatan. Sang pendiri Alfian Nawawi berusaha agar obrolan warung kopi itu tidak sebatas ruang santai tapi juga secara perlahan berisi kajian yang ada nuansa intelek. Karena itu berbagai buku disediakan di hampir tiap sudut ruangan.

Alfian terinspirasi oleh kakaknya yang jurnalis dan penulis buku untuk membuat perpustakaan mini di Kedai Litera. Ada secercah harapan terhadap penyebaran benih pencerahan melalui pendekatan intelektual di lingkungan terdekatnya. Dan benar, saat mengunjungi ke kedai ini, atmosfer perjuangan literasi langsung terasa dari cara Alfian mengisahkan kegigihannya pada literasi di Palampang. Dan di kota Bulukumba, ia berperan besar turut menghadirkan (Alm.) Nirwan Ahmad Arsuka, tokoh utama literasi Indonesia panel dengan Tommy Satria, wakil Bupati Bulukumba pada waktu itu di Cempaka Asri Bulukumba.

Kedai Kopi Zaman Pencerahan Eropa

Pada age of Enlightenment (Zaman Pencerahan) di Eropa, perkumpulan di kedai kopi terkenal di Perancis pada abad 17 dan 18 ketika kedai kopi berkembang di negeri itu. Para sastrawan, pemikir, budayawan dan kemudian diikuti rakyat kebanyakan berkumpul di berbagai kedai kopi membahas isu negara yang lagi ditimpa derita kelaparan massal berkelanjutan pada pemerintahan raja Louis XVI. Raja despotik ini tak berkutik menghadapi pembauran kelas sosial manusia di kedai kopi melahirkan Liberté (Kebebasan), Égalité (Kesetaraan), dan Fraternité (Persaudaraan). Ia dan istrinya,
Ratu Marie Antoinette, yang suka bermewah-mewah di tengah kemeralatan rakyat ditangkap dan lehernya ditempatkan di pisau guillotine, tewas.

Literasi bawah tanah–dalam artian penyelundupan buku terlarang dan berita politik melalui kedai kopi ini–mencapai puncaknya ketika Napoleon Bonaparte melakukan
kudeta militer (Coup d’état) pada 1799.

Revolusi Kesadaran

Berbeda dengan kedai kopi Prancis yang melahirkan gerakan politik yang revolusioner, Kedai Litera di Bulukumba mengambil jalan yang berbeda: fokus pada revolusi kesadaran melalui pendidikan rakyat. Kedai ini juga telah menyiapkan panggung mini buat para seniman muda-mudi untuk bermain musik dan bernyanyi, ruang podcast untuk menyalurkan ide-ide kreatif serta ruang diskusi yang disebarkan di berbagai macam media sosial. Tak lupa, Latar belakang Alfian sebagai jurnalis aktif turut memperkuat gerakan ini melalui publikasi dan dokumentasi setiap denyut aktivitas literasi di kedainya ke ruang publik.

Ketika teror covid 19, ia sibuk mengajak guru Bahasa Inggris untuk mengadakan pelajaran di kedainya, lengkap dengan masker sebagai tanda kepatuhan pada protokol kesehatan. Tidak ada ide pembangkangan di sana. Yang ada adalah ide kebebasan berpendapat yang bertanggungjawab yang mana ini dijamin oleh undang-undang.

Jika membaca spirit dari kedai kopi di Prancis memang terlalu besar, tak dapat disejajarkan bila dibandingkan dengan secuil Kedai Litera di Palampang. Tapi jangan lupa semangat kesetaraan (Égalité) universal di meja kopi tempat semua orang dari berbagai kelas bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Silakan berkunjung dan membuktikan sendiri suasana di Kedai Litera.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 8 Juni 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *