Obrolan Ringan dengan Horst Liebner

Bertamu ke rumah Dr. Horst Liebner di Gowa, Sulawesi Selatan seolah menggugah semangatku untuk masuk lagi dalam dunia perdebatan pemikiran. Di ruang kerjanya yang teduh dikelilingi perpustakaan mini, ia menyedorkan beberapa referensi buku berbobot, sebagian isinya ia terangkan dan menjadi alasan mengapa gaya penulisannya dipengaruhi sastra.

Saya kaget betul dengan hobinya pada sastra. Seorang tokoh yang dikenal bukan hanya jago teori tentang perahu tradisional tapi juga seorang pelaut ulung yang suka “terus terang” alias apa adanya pada hal yang masuk akal atau tidak masuk akal ternyata
memasukkan lagu music wreck yang dengan senang hati ia tempatkan di halaman depan thesis S 3-nya. Banyak bagian lembaran buku yang ia perlihatkan dan terangkan mengapa penulisannya seperti sekarang ini.

Semua ini berawal dari pernyataan bahwa saya mengerti gaya penulisan Pak Horst karena penulis sudah sering membaca tulisannya. Gaya penulisannya bukan kebiasaan orang Indonesia. Ia okay saja dan menambahkan bahwa dirinya dipengaruhi oleh bahasa Melayu. Ya, beberapa kosa kata yang tidak lazim digunakan bahasa Indonesia sekarang sesekali diselipkan ke dalam tulisannya. Orang harus mengecek kamus lagi untuk mengingatnya.

Obrolan ringan kami berlanjut pada tata bahasa. Saya tahu ia paham tata bahasa dan tidak perlu bertanya ke penulis tapi ia tetap bertanya. Beberapa paragraf secara acak dari tulisannya kami bahas, tidak ada yang salah sama sekali. Untuk apa Pak Horst mengecek itu semua? Ia paham beragam bahasa dan tentu ilmunya jauh lebih luas. Penulis mengikuti alur berpikirnya, masuk ke dunianya dengan harapan, siapa tahu ada hal yang baru ditemukan. Ternyata, gaya bahasa saja yang beda, struktur tetap sama.

Kemudian Pak Horst mengenalkan buku Bahasa Indonesia, Deskripsi dan Teori ditulis oleh N. F. Alifera at Al. Katanya buku ini dibuat oleh orang Rusia. Sungguh menarik, bukan pada alirannya yang waktu itu masih komunis tapi pada keahlian orang asing yang mampu membedah bahasa Indonesia dengan sangat detail. Buku seperti inilah yang selama ini saya cari. Katanya, buku itu ia pelajari sewaktu S 2 di Indonesia tepatnya di UNHAS (Universitas Hasanuddin).

Beberapa data tentang dokumentasi pelayaran zaman Belanda pun ia perlihatkan. Ia dengan senang hati membantu menerjemahkan semua hal yang penulis tanyakan. “Sayang sekali ya, kita orang Indonesia kebanyakan tidak mengerti Bahasa Belanda lagi”, pikir penulis. Bagusnya lagi, Belanda itu punya data yang bisa diakses melalui internet. Tapi kan, segelintir dari kita saja yang bisa membacanya. Sebaiknya sekolah atau universitas berkenan mengkampanyekan dan membuka kembali Bahasa Belanda agar kita tidak buta data sejarah.

Dari situ penulis melihat perkembangan pelayaran dan perahu yang ada di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan yang memang terkenal dunia maritimnya. dan tertarik untuk turut berkontribusi lebih jauh. Selama ini, penulis menulis “suka suka aja”. Belajar dan berdiskusi lebih banyak dengan Pak Horst, penulis mungkin saja akan membuat sesuatu yang berharga untuk pengembangan maritim kita.

Menulis tentang pelayaran, sastra dan perdebatan pemikiran, penulis jalani dan nikmati saja. Bulukumba adalah tanah kelahiran dan tempat tinggal penulis menetap sekarang ini yang erat kaitannya dengan laut. Adakah itu akan bermanfaat bagi orang lain? Semoga saja. Sekian dulu.

Saya dari tadi mau olahraga otak dengan main catur. 😀

Zulkarnain Patwa
Selasa, 12 Mei 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *