Kolaborasi Pembelajaran Bahasa Inggris

Bila bukan kita sendiri yang memulai, siapa lagi? Pertanyaan ini seringkali kita temukan dari para tokoh besar untuk menggugah hati publik untuk berbuat sesuatu. Para orang terdidik kita yang tahu masalah perlu berbuat untuk terjun langsung memperbaiki keadaan, tanpa menunggu.

Pemerintah melalui Mendikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah)
telah merancang strategi penerapan pembelajaran di Bahasa Inggris di SD (Sekolah Dasar) pada 2027. Pada 2026 ini, banyak SD telah memberikan pelajaran tersebut di kelas. Namanya juga tahap uji coba, pasti banyak masalah yang menumpuk. Tapi paling tidak, kosa kata Inggris telah mulai diakrabkan kepada anak SD melalui buku kurikulum dengan bantuan pengajaran dari guru sekolah. Untuk percepatan, Orang tua murid pun memberikan perhatian lebih dengan mengikutkan anak anaknya di lembaga pendidikan alternatif.

Dengan memanfaatkan teknologi, kita dapat terhubung dengan orang orang yang berkualitas di manapun berada, Salma Minasaroh telah di Jateng (Jawa Tengah) seringkali menyediakan waktu untuk tanya jawab online kepada pelajar SD di RBB (Rumah Belajar Bersama) di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Anak anak kelas malam yang lebih suka banyak bermain daripada belajar itu punya motivasi belajar lebih tinggi berlatih speaking dalam bentuk tanya jawab ketika diberitahu bahwa mereka akan mendapatkan pembelajaran online lagi dari Miss Salma. Segala bahan tanya jawabnya yang akan dibahas pada speaking online mereka kerjakan dengan penuh semangat. Tanpa disadari, mereka sendiri yang mengurangi waktu bermainnya.

Pada pertemuan online keempat (6/05/2026), Miss Salma dari lembaga GAIA, Pati, Jateng menyampaikan bahwa dari tujuh orang yang terjaring, peserta bernama Adeeva, Faika, Nabila dan Adam termasuk pelajar yang mengalami perkembangan pesat dalam praktek bicara. Semua pertanyaan mampu mereka jawab dengan pengucapan hampir sempurna dan terlihat percaya diri berpendapat.

Patut diingat, setiap pelajar tidak ada yang dibeda-bedakan. Semua mendapatkan 20 soal yang sama dan kemudian dinilai. Penyebutan keempat nama pelajar berbakat itu sebagai bahan motivasi kepada pelajar lainnya. Kita berharap nama nama yang baru dapat disebut juga pada pertemuan berikutnya.

Pelajar saat Belajar Online
Tujuh orang anak terjaring dan berada di RBB saat belajar online. Ada yang duduk tenang, sesekali bergeser dari tempat duduknya untuk menyapa atau membantu rekannya yang kesulitan menjawab. Sebagian lagi, mereka suka berbuat sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan pelajaran. Semua yang mereka lakukan itu tidak diketahui oleh Miss Salma. Hebatnya, saat namanya disebut, mereka akan segera berlari di depan kamera dan terlihat siap untuk menjawab pertanyaan.

Para guru RBB tidak banyak memberikan teguran. Mereka diberikan kebebasan sealami mungkin agar dapat membaca prilaku anak. Segi positif yang bisa kita deteksi adalah meskipun menghilang dari camera, mereka tetap merasa punya tanggung jawab berbicara Inggris dengan gurunya. Keberanian ini muncul karena mereka telah mempelajari bahan yang akan dibicarakan.

Beberapa anak mengeluh. “Saya belum ditanya”, katanya. Ada keinginan besar untuk berbicara. Persoalannya, wajah mereka seringkali menghilang dari camera–biasanya karena pergi bermain–sehingga terkadang nama mereka agak lambat disebut. Sementara wajah yang selalu terpampang di camera, punya kesempatan lebih banyak praktek.

Oh iya, terdapat satu dua orang anak yang sulit menjawab dengan benar meskipun Miss Salma berkali-kali mengulang pertanyaannya dan bahkan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia untuk memahamkan. Hal ini terjadi karena mereka kurang tepat, lain soal lain pula jawabnya. Guru RBB tidak membantu, membiarkan saja mereka kebingungan sebagai pengingat agar lebih perhatian di kelas sebelum online. Beruntung, teman temannya punya solidaritas dan mau menolong sehingga terselamatkan dari pertanyaan yang membingungkan pikiran. Mereka pun bergembira.

Penutup
Inisiatif memulai dan berbagi bekal pengetahuan dari GAIA dan RBB lintas batas pulau dalam bentuk online ini adalah gerakan kecil yang sengaja kita hadirkan secara terang kepada publik agar terdapat solusi lebih lanjut dari merosotnya kemampuan pelajar Indonesia dalam berbahasa asing utamanya Inggris.

Kita tahu, pada zaman kemerdekaan, tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Harta, Sjahrir, Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara dan masih banyak lagi rata rata punya kemampuan berbahasa asing lebih dari satu bahasa. Itu bukti bahwa Indonesia punya rekam jejak sejarah bahwa bahasa asing itu hal yang biasa saja.

Untuk mewujudkan hal tersebut, kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan para intelektual kultural–bukan yang duduk dalam pemerintahan–adalah cara yang sangat efektif dalam mencetak generasi pelajar Indonesia yang oleh Abdul Mu’ti Mendikdasmen kita diharapkan punya daya saing global.

Zulkarnain Patwa
Makassar, 7 Mei 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *