Mengenang Ust. Safwan di HMI

Membaca kabar dari Muhammad Irfandi, seorang kawan baik semasa aktivis tentang kembalinya Ust. Andi Muhammad Safwan ke pangkuan ilahi membuat saya terpaku, diam dalam keheningan malam pada Kamis, 16 April 2026. Saya coba mengecek, ternyata Irfan memperolehnya dari sebaran info media sosial Ust. Muhsin Labib. Tanpa sadar, air mata menetes mengenang masa-masa berguru ke beliau. HMI-MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) Yogyakarta memperkenalkanku pemikiran tokoh-tokoh intelektual dunia termasuk penggerak Revolusi Islam Iran, 1979. Dan dari Ust. Safwan, kami di HMI pun belajar mengenal lebih jauh pemikiran Imam Khomaeni, Murtadha Muthahhari, Ali Syariati dan lainnya.

Saat kami Intermediate Training (Latihan Kepemimpinan 2) HMI di Yogyakarta, ada sesi pengantar oleh pemandu (semacam Mater of Ceremony Plus karena mengacak otak peserta) yang membuat kami secara alami bikin kubu-kubuan dalam berdebat, pro kontra dan saling tidak percaya pada kubu lawan. Kemudian, setelah perdebatan sangat tajam, pemateri utama Ust. Safwan masuk. Beliau mengatakan, ‘Jangankan Al Qur’an, semua realitas harus diragukan’.

Sebagai anak muda yang belasan tahun yang masih lugu, pernyataan itu wow banget! Para peserta terdiam. ‘Kenapa mesti takut mengkritik Al Qur’an? Toh kalau Al Qur’an itu sebuah kebenaran, semakin dikritisi, kebenarannya makin tampak’ Kata Ust. Safwan. Rekan rekan peserta tergugah. Ya, aktivis HMI itu memang mendidik kadernya tidak doktrinal.

Saya pun bergabung di RausyanFikr mengikuti kajian kajian Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan tokoh tokoh intelektual Islam. Kegandrungan membaca buku tentang pemikiran intelektual Islam di Iran lebih terarah karena ada tempat untuk bertanya dan mengkaji lebih lanjut. Bahkan, para mahasiswa bisa memilih program kajian pemikiran yang mendalam dibahas khusus selama berbulan bulan. Saya ikut menikmati beberapa programnya dan belajar selama bertahun tahun. Skripsiku tentang Pemikiran Politik Ahmadinejad, Presiden Iran.

Seminar
FAI UMY (Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) mengundang Ulil Abshar Abdalla, jaringan Islam Liberal. Rekan saya di HMI, Abdul Wahab Nasaru menyarankan kepada penyelenggara agar Ulil panel dengan Safwan mengingat 24 premis kesalahan berpikir Ulil telah dikritisi di berbagai macam forum. Saat seminar, Ulil tidak dapat membantah satu pun kritik dari Safwan. Betapapun demikian, Safwan tetap mengapresiasi keberanian berpikir Ulil dan ia tetap menghormatinya sebagaimana layaknya seorang manusia. Ada kedewasaan dalam perbedaan.

Sebenarnya Ust. Safwan tidak suka popularitas tapi karena kami terus meminta agar beliau berkenan menanggapi isu booming masa itu pada buku Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur!, akhirnya beliau berkenan jadi pembicara panel dengan Ust. Yunahar Ilyas (Tokoh Muhammadiyah, Alm.) dan Muhidin M. Dahlan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Seluruh sudut ruang seminar terbesar kampus dipenuhi manusia, hampir tidak jarak antara pembicara dengan peserta. Seperti biasa, Ust. Safwan mengkritik Muhidin, sang penulis buku, yang menggunakan kecerdasannya membuat roman dalam membaca kebutuhan pasar. Adapun pembelaan yang diberikan, buku itu adalah novel fiksi, tak bisa dikriminalisasi.

Secara pribadi, satu kesyukuran yang hampir terlupakan atas pemahaman saya dalam Bahasa Inggris adalah Ust. Safwan pernah menunjuk saya jadi MC saat saudara kandung Ayatullah Ali Khamenei (maaf, saya lupa namanya) berkunjung ke Indonesia dan mengadakan seminar internasional di UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga Yogyakarta tentang Peradaban Besar Dunia diselenggarakan oleh Rausyan Fikr. Posisi MC membuat saya hati saya girang karena mendengarkan dan melihat lebih dekat tokoh besar yang punya aura intelektual dan spiritual yang dahsyat. Dan saya benar-benar menikmati dan bahagia.

Beragam seminar yang kami buat selalu Ust. Safwan hadiri baik itu kegiatan kecil atau besar. Selama punya kesempatan, beliau tidak pernah menolak. Semua itu tanpa bayaran. Malahan, Komisariat dan Korkom (Koordinator Komisariat) HMI UMY dalam berusaha mendapatkan dana kegiatan hanya cukup dengan selembar kertas berstempel saja dapat membawa buku-buku Rausyan Fikr untuk dijual. Beliau mengerti betapa beratnya para aktivis HMI dalam mempertahankan independensinya.

Selamat jalan Ust. Andi Muhammad Safwan. Kami sungguh kehilangan sosok yang berjihad di jalur intelektual. Kami tahu bahwa kami tidak mungkin lagi duduk untuk mendengarkan ceramah sang guru yang tersistematis yang sangat menyentuh pikiran dan hati. Semoga ilmu yang telah diajarkan kepada kami dapat terus kami sebarkan dan memberikan manfaat kepada sesama. You are our beloved teacher. Al Fatihah.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at, 18 April 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *