Berbagi wawasan pronunciation (pengucapan) kepada orang dewasa, remaja dan anak-anak itu bukan gampang-gampang susah, tetapi gampang-gampang-gampang dengan syarat memiliki niat untuk belajar. Futri Syam berniat meningkatkan karir pendidikan ke S-3 di Malaysia, Alika pelajar kelas 2 SMP dan Faika pelajar kelas 4 SD lebih banyak terdorong mau belajar karena motivasi orang tua masing-masing dan mengejar prestasi di sekolah dan kompetisi di luar sekolah.
Futri sendiri sangat mudah memahami teori. “Saya mengerti teori yang dijelaskan. Yang susah mempraktikkannya”, ungkap dosen UIN Teuku Umar Aceh ini. Karena itu, setelah mendapatkan teori, guru kelas lebih banyak memintanya untuk praktik bicara. Bila ia sudah agak kelelahan membaca teks dengan suara nyaring, ia mendengarkan MP3 pronunciation untuk mengatasi salah ucap dalam beberapa kata pada paragraf. Guru itu juga selalu memperhatikan dengan teliti di mana letak kesalahan. Setelah bacaan selesai koreksi dibahas bersama.
Menjelang dua minggu belajar, kemampuannya dalam berbicara melonjak dengan drastis. Dalam satu pertemuan, ia mereview seluruh bacaannya berjumlah hampir dua puluh halaman. Guru memberikan penilaian di atas 90 persen ketepatan dalam pengucapan. Tidak ada pertanyaan mengapa ia tiba-tiba begitu hebat karena jawabannya sudah jelas: belajar.
Sementara itu, Alika dan Faika hampir dapat dipastikan tidak begitu peduli dengan teori. Tingkat pemahamannya sekadarnya saja. Meskipun berkali-kali dijelaskan, mereka manggut-manggut saja, ciri khas anak sekolah yang patuh. Padahal, mereka tidak sedang berada di sekolah melainkan di Rumah Belajar Bersama (RBB). Gurunya pun tidak kehabisan akal. Mereka diminta untuk membaca ulang buku tingkat tiga, dua buku telah tamat. Karena tingkat kesulitannya lumayan tinggi, keduanya masih agak kesulitan dalam menyambung untuk mempersingkat dan mempercepat pengucapan.
Demi menjaga fokus belajar tetap terjaga, tidak main-main hingga seolah-olah belajar, guru memilih menjadi MP3 hidup dengan melakukan pendampingan total. Anak-anak memang peniru ulung. Sepuluh cerita berbahasa Inggris mereka selesaikan dengan baik. Faktor pendukung lainnya adalah mereka bukan lagi pelajar pemula, pre-intermediate menurut standar bacaan buku L. G. Alexander. Dalam satu pertemuan, they menyelesaikan sepuluh cerita bacaan dengan memuaskan dengan kemampuan rata-rata di atas 90 persen juga. “Apakah kalian masih mau melanjutkan bacaan?” guru memancing. “Tidak usah bertanya, mister. Lihat saja. Anda pasti sudah tahu. Kami mau istirahat,” jawab Faika spontan. “Iya, mister. kami capek,” dukung Alika. “Baiklah. Kalian sudah luar biasa. Kalian istirahat.” Mereka terlihat sangat gembira.
Ternyata, sedetik setelah itu, keduanya langsung bermain. Tidak tampak ada wajah kelelahan lagi. Guru tersenyum dan membiarkan mereka menghibur diri untuk sesaat. Bermain itu semacam charger untuk mengisi kembali tenaga yang telah terkuras sehingga saat mereka kembali belajar, energi telah pulih.
Soekarno pernah berkata, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Tiga sosok di atas—seorang pemudi dan dua anak perempuan—membuktikan bahwa energi untuk “mengguncang dunia” tidak dimonopoli oleh gender tertentu. Mereka ini semuanya perempuan, bukan laki-laki dengan merujuk istilah ‘pemuda’ betapapun itu tidak ada maksud mendiskreditkan perempuan. Namun, jangan lupa, ada kuasa kata bermain.
Sanggupkah perempuan-perempuan itu mengguncang dunia? Bukti kemampuan melalui praktik di atas 90 persen di RBB adalah tidak ada urusan gender. Laki-laki dan perempuan bisa sama-sama hebat. Satu hal yang tidak bisa dibantah yaitu dari rahim perempuan, lahir para pemuda yang mengguncang dunia.
Pelajar berbakat kita itu sebenarnya banyak bertebaran di mana-mana. Mereka hanya perlu sistem pendidikan yang tepat, lingkungan yang tepat dan guru-guru yang mempunyai niat dan kesungguhan dalam mendidik generasi yang lebih berharga daripada emas dan berlian yang harganya lebih mahal dari emas atau apapun juga yang disebut barang berharga. Karena pada akhirnya penilaian terhadap suatu barang itu bersumber dari pikiran manusia. Itu bukan gampang-gampang susah, tetapi memang gampang, kan.
Zulkarnain Patwa
Desa Darubia di Bulukumba, Senin, 5 Oktober 2026
Dari dunia anak-anak, kita dapat belajar cara menyederhanakan masalah. Anak-anak memang peniru yang ulung, namun…
Kerumitan itu adalah sesuatu hal yang selalu dihindari. Namun, menghindari kerumitan bukanlah menyelesaikan masalah, malahan…
Ketakutan para pelajar pada bahasa Inggris seringkali muncul hanya karena gurunya kaku, tidak pandai memecah…
Kekhawatiran orang tua pada anak yang mempelajari tenses tidak lancar berbicara itu mempunyai alasan yang…
Bahasa Inggris ataupun bahasa asing apapun juga pasti terasa asing dilidah bila tidak dibiasakan. Mengulangi…
Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia…
Leave a Comment