Intelektual Muda Membangun Kampung Halamannya

Masa muda yang penuh semangat menuntut ilmu mempertemukan penulis dengan Hadi Kasmaja Dg Saktiala. Waktu itu, Sakti kuliah di Makassar dan penulis di Yogyakarta. Kehausan berbahasa Inggris tanpa sengaja mempertemukan kami di Kampung Inggris Pare Jawa Timur sekitar tahun 2012. Anak sesama Sulawesi mudah berkenalan karena ada Asset (Associaton of Sulawesi Students), perkumpulan organisasi daerah terbesar di Kampung Inggris itu.

Suatu kesyukuran ketika setelah sarjana Sakti yang masih intelektual muda pulang kampung dan membangun pendidikan alternatif di Karama. Latar belakangnya sebagai sarjana Matematika dan pemahaman bahasa Inggris yang lumayan bagus tentu sangat luar biasa membangkitkan pendidikan desa. Tapi menariknya, ia lebih dekat dengan tradisi keagamaan sehingga lembaganya lebih sering mengangkat isu pendidikan agama. Dan satu lagi, menanamkan kecintaan terhadap bacaan (literasi) kepada pelajar.

Penulis mengisi pelajaran bahasa Inggris di Desa Karama, kampung halaman Sakti.

Sebelum menjadi penceramah agama, Sakti populer di Bulukumba berkat kecerdasannya menjadi motivator. Penjelasannya memukau massa di mana orang bisa tertawa dan menangis dalam satu acara. Ia diundang berbagai macam tempat. “Silakan undang saya,” katanya. “tanpa perlu bayar,” lanjutnya agar orang tidak merasa terbebani. Pelajar sekolah, guru sekolah dan lembaga swasta pun kemudian tanpa sungkan banyak mengundangnya, termasuk Rumah Belajar Bersama (RBB).

Penulis pun terkesan dengan upaya menebar ilmu dan mencoba mengenal pencerahannya lebih dekat di desanya dengan mengisi pelajaran bahasa Inggris di lembaganya, Tbm Karama Cendekia. Saat mengisi materi dengan konsep bermain kepada anak-anak, semangat belajar yang sangat tinggi terpancar dari wajah-wajah yang bersahaja. Mereka juga sangat cepat memahami pelajaran. Mereka sama sekali tidak terlihat capek, padahal itu bulan puasa, 2018. Mereka anak-anak desa yang luar biasa.

Di tangan dingin Sakti bersama para intelektual muda lainnya digabungkan dengan spirit belajar anak-anak di Karama, pendidikan di desa tersebut pasti akan berkembang sebagaimana yang pernah terjadinya di Bonto Tiro, Kab. Bulukumba yang telah dikenal sebagai gudangnya orang terdidik dengan reputasi sarjana terbanyak di Sulawesi Selatan.

Terlebih, Sakti sudah punya pengalaman sukses mengelola Kelas Inspirasi di mana ia sebagai pemimpin di organisasi itu berhasil menghimpun berbagai macam kalangan dan profesi untuk datang mengajar sehari di sekolah sekolah terpencil. Kesuksesan itu otomatis membangun network dan trust (kepercayaan) publik buatnya dan menjadi modal untuk lebih mengembangkan gagasan pendidikan yang sedang ia bangun.

Semoga penulis dan Sakti bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 13 Juni 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Berbahasa Inggris (Tidak) Mengandalkan Sekolah

Mungkinkah pelajar lancar berbahasa Inggris mengandalkan pelajaran sekolah? Pelajaran ini diajarkan sekali dalam seminggu mulai…

1 hari ago

Kampung Belajar Inggris

Jadwal: 15 Juni sampai 10 Juli 2026 6 x belajar dalam sehari 180 jam dalam…

2 hari ago

Kampung Belajar Inggris

Jadwal: 15 Juni sampai 10 Juli 2026 6 x belajar dalam sehari 180 jam dalam…

2 hari ago

(Tidak) Berbobot

Sebuah kenyataan tak terbantahkan ketika Adeeva, anak kelas 4 SD, mampu praktik lisan pada active…

2 hari ago

Menghapus Kemustahilan

"Mr. jangan beri tahu saya. Tolong perhatian saja!", kata Faika ketika sedang berlatih pengantar 88…

4 hari ago

Keunggulan Grammar

Keputusan para pelajar sekolah mengikuti kelas grammar (tata bahasa) di Rumah Belajar Bersama (RBB) cukup…

4 hari ago