Melepaskan Ego Kebesaran dalam Belajar

Apakah anda pernah belajar ke kampung Inggris, Pare, Kediri di Jawa Timur? Mungkin anda akan heran pelajar sekolah mahasiswa dan dosen berada di dalam satu kelas belajar. Tidak ada pemikiran perbedaan umur, apalagi kebanggaan status. Para guru-gurunya pun relatif yang masih muda. Bahkan, banyak diantara mereka yang tamat SMA tapi ilmu Inggrisnya bertaraf internasional.

Lingkungan seperti itu sangat kondusif untuk tidak memikirkan status. Para anak muda itu tidak akan sungkan bertanya pada anak remaja yang telah paham materi tertentu. Dan karena saling tolong menolong dalam hal berbagi ilmu itu kejadian biasa yang kita temukan dalam keseharian, dala. suasana santai pun dapat belajar.

RBB (Rumah Belajar Bersama) pun menerapkan hal yang sama. Adeeva, seorang anak yang telah menamatkan buku cerita Inggris, membantu Lulu, seorang pelajar pemula yang telah tamat SMA. Lulu terkesan dengan kemampuan Adeeva yang memahami isi cerita dengan baik dan cara menjawab menjawab soal-soal dengan benar. Karena keduanya saling terbuka untuk belajar tanpa memikirkan status, dalam waktu yang singkat, sebuah cerita berbahasa Inggris dapat Lulu selesaikan.

Lulu kini tahu bahwa ia tidak semata-mata bertumpu pada guru kelas. Dengan bergaul kepada sesama pelajar RBB, ia bisa bertanya dan menyelesaikan persoalan Inggris yang ia sedang pelajari. Dan bagi Adeeva dan pelajar lainnya yang telah tamat beberapa buku, itu semacam micro teaching untuk mengasah kemampuan berbagi ilmu yang membuatnya lebih paham pada materi yang ia telah pelajari. Keakraban sesama pelajar pun terbina dimana obrolan mereka bukan lagi sekedar gosip tapi pengetahuan.

Ketika proses belajar di atas sedang berlangsung, guru kelas sebaiknya tidak berada di dekat para pelajar agar sang guru tidak menjadi rujukan utama. Biarkan saja mereka saling berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahannya. Bila terdapat masalah yang tidak dapat dipecahkan, guru bisa turun tangan membantu memberikan arahan cara menjawab, bukan memberitahu jawaban agar eksplorasi berpikir lebih terasah.

Perkembangan belajar secara kultural ini sangat kuat membangun tradisi belajar dimanapun kita berada. Dengan meleburkan status sebagai orang penting, ego otomatis terkikis. Para pelajar tidak akan sungkan lagi untuk belajar kepada siapapun juga termasuk bertanya kepada anak anak yang berilmu. Ketika kita berada di lingkungan seperti itu, maka dimanapun kita berada atau dalam kondisi santai sekalipun, belajar tetap bisa dilakukan. Dan para guru yang dicap punya kemampuan mengelola kelas seperti di atas adalah rekan belajar. Semua meleburkan diri jadi satu kesatuan, belajar bersama.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu 19 April 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Teror Pencerdasan Bahasa Inggris

Bahasa Inggris ataupun bahasa asing apapun juga pasti terasa asing dilidah bila tidak dibiasakan. Mengulangi…

12 jam ago

Tragedi 8 x 3 di SMK Menampar Wajah Kurikulum Kita

Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia…

1 hari ago

Menghapus Sekat Belajar

Salah eja atau ucap seringkali dialami para pelajar bahasa inggris. Fokus kebanyakan orang adalah kemahiran…

2 hari ago

Di RBB, Pelajar yang Paling Pintar Pun Jadi Biasa Saja

Para pelajar yang menguasai perubahan seluruh kalimat tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah jaminan bahwa…

3 hari ago

Memoar Kak Madi: Pepaya Matang WME Kembali ke Pemilik-Nya

Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an,…

5 hari ago

Terbaik: Setiap Tempat Adalah Belajar

Suatu pembelajaran akan terasa sangat mudah dipelajari apabila para pelajar tidak asing dengan lingkungan kehidupan…

5 hari ago