Kesadaran mengisi liburan dengan belajar itu biasanya dimiliki oleh orang-orang dewasa. Mereka yang sedang berkuliah mengisi waktunya dengan belajar Bahasa Inggris karena punya cita-cita hendak kuliah ke luar negeri. Waktu liburan yang tanpa kesibukan tak ingin dibuang percuma. Itu adalah momentum terbaik mempelajari hal hal yang cenderung tidak diajarkan di kampus.
Pemikiran itulah yang mengendap kuat dalam diri Nashwa Aliya Irfan. Kesibukannya mengurusi tugas kampus memang di atas rata-rata karena ia memilih dua universitas dalam waktu yang bersamaan. Di UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah di Jakarta, ia mengambil jurusan Ilmu Hadist dan National Open University di Gambia di Afrika jurusan Psikologi–pembelajaran secara online.
Kehadiran Nashwa di RBB (Rumah Belajar Bersama) sebenarnya ia telah lakukan semasa SD. Setelah masuk pesantren, ia sama sekali tidak berhubungan dengan RBB lagi. Entah pengaruh apa, ia malu untuk kembali RBB. Melalui diskusi panjang dengan orang tuanya Aris Irfan dan Hasriyanti, ia mendapat saran bahwa belajar bahasa asing itu tidak boleh berhenti terlebih bila punya cita cita kuliah ke luar negeri. Ia kemudian berhasil menyisihkan rasa malu dan bersiap menghadapi tuntutan yang akan dibebankan RBB di pundaknya.
Pertanyaan yang muncul saat Nashwa berhadapan dengan tugas grammar (tata bahasa), pentingkah grammar itu? Jawabannya ia temukan pada saat belajar pada kelas Reading (bacaan). Nashwa bisa menjawab sesuai kaidah standar bahasa Inggris. Banyak pelajaran yang selama ini ia pelajari di YouTube khususnya tentang Question and Answer (pertanyaan dan jawaban) baru terjawab di kelas belajarnya ini. Selama ini, ia hanya mengandalkan kemampuan sendiri dan itu benar benar merepotkan dirinya karena banyak hal tidak bisa ia jawab dengan menyakinkan. Dari pengalaman ini, ia dapat memetik hikmah bahwa guru-guru sangat dibutuhkan untuk mengarahkan cara belajar yang tepat.
Pengakuan Nashwa takkala dididik oleh Mr. Agung Pratama Salassa yaitu segala pertanyaan yang ia tanyakan terjawab. Menurutnya cara berpikir sang guru sangat terbuka sehingga ia tidak sungkan menanyakan apapun juga. Lagi pula, setiap ia menyelesaikan satu bab materi, bab yang sebelumnya tetap dibahas dan dihubungkan dengan bab yang terbaru dihadapi. Dalam satu bulan lebih sedikit belajar, ia sanggup menyelesaikan sembilan bab dari enam belas bab yang tersedia pada buku Basic Grammar, edisi standar internasional.
Pada kelas Reading diajarkan oleh Mr. Ancha, Nashwa banyak berlatih membaca dengan suara nyaring disertai pembelajaran intonasi suara agar iramanya enak didengarkan. Pengucapan yang benar sedikit banyak menumbuhkan kepercayaan diri berkomunikasi dengan orang lain. Bacaan cerita yang disertai soal tanya jawab secara otomatis menambah perbendaharaan kosa kata tanpa harus menghapal. Dari empat puluh delapan lessons (pelajaran) yang tersedia, ia sanggup menyelesaikan tiga puluh tiga lessons pada buku Reading tersebut.
Overall, Nashwa merasa liburan belajar itu berharga dan have fun (menyenangkan). Metode belajar yang ia peroleh dari guru-guru di RBB ia nyatakan bagus karena meskipun pembelajarannya sangat detail, ia tidak begitu kewalahan menerima penjelasan materi. ‘Serasa tidak belajar padahal belajar’, katanya. Liburan selesai. Semua pengetahuan yang ia peroleh kini ia bawa ke tempat kuliahnya untuk mendukung cita-citanya dapat kuliah ke luar negeri nantinya. Selamat menerapkan dan berjuang lebih lanjut di tempat lebih luas, Nashwa. Good luck!
Zulkarnain Patwa
Senin, 30 Maret 2026

Tinggalkan Balasan