Selangkah Lebih Maju

Datang dan pergi adalah perjalanan hidup manusia. Kita akan berkunjung kembali ke tempat yang telah kita temui bilamana ada kesan baik ataupun kebutuhan pada tempat tersebut. Itulah yang dialami oleh Fauzan Saputra yang kini di kini bersekolah di Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging, Kab. Bantaeng. Semasa SD, ia aktif belajar di RBB (Rumah Belajar Bersama).

Pilihan untuk belajar ketika pulang kampung di Bulukumba bagi Fauzan bukan sekedar mengingatkan cara mengisi waktu luang tapi sebuah kebutuhan tindak lanjut yang telah ia perjuangkan sebelumnya. Jauh sebelumnya, ia telah tamat dua buku Reading (bacaan) berbahasa Inggris dan mengetahui struktur perubahan tenses di luar kepala namun hal itu tidaklah cukup baginya. Ia tahu bahwa banyak hal yang belum ia tuntaskan. Untuk ukuran pelajar SMP (Sekolah Menengah Pertama), menguasai tenses itu sudah di atas rata-rata. namun di RBB, ia masih merasa belum hebat karena dirinya masih belum mampu menuntaskan ujian tulis dan lisan yang penuh dengan jebakan soal–Sebuah masalah sekaligus tantangan yang penting ia hadapi untuk menguatkan kepercayaan diri.

Kelebihan Fauzan pada Reading memotivasinya untuk cepat berkembang. Kemampuannya membaca dengan suara nyaring disertai intonasi yang terukur telah terasah sehingga memudahkannya untuk berbicara dalam Bahasa Inggris dengan lumayan fasih. Tingkat kesalahannya sudah sangat rendah dan ia pun dengan segera dapat memperbaiki bila terjadi kesalahan dalam berucap. Kemampuannya dalam menjawab soal-soal cerita pun sudah tidak diragukan lagi.

Buku Reading ketiga yaitu pada tahapan Pre Intermediate yang selama liburan Ramadhan 2026 yang ia pelajari punya kerumitan yang tinggi. Oleh karena itu, betapapun sebagian lessons (pelajaran) telah ia pelajari pada tahun lalu, ia memilih untuk mengulang dimulai dari lesson satu, halaman pertama. Pilihan cara cerdas ini membuatnya lebih rileks dalam belajar karena tentu ia telah mengenal isi cerita bacaan dan ia dapat melakukan pendalaman. Ini juga tanda bahwa dirinya tidak sekedar ingin dikenal telah menamatkan beragam buku tapi ia ingin benar-benar tamat dengan kualifikasi yang baik.

Kendala yang dihadapi Fauzan tampak ketika ia memasuki pertengahan buku. Pada dasarnya, kemampuan untuk menjawab soal-soal cerita diperuntukkan bagi pelajar yang telah tamat Basic Grammar (tata bahasa) sedangkan Fauzan hanya memilih kelas Reading saja. Coba banyangkan, dalam satu soal, terdapat empat pertanyaan dimana semua jawaban harus mampu disusun dan digabungkan dalam satu kalimat saja. Wah, itu kan materi tingkat tinggi dari clause. Kalau jawaban hanya satu clause semisal noun clause atau adjective clause, itu mungkin masih agak mudah buatnya. Tak jarang, adverbial clause, noun clause serta adjective clause pun harus ikut serta dalam penulisan. Pusing kan! Sebagai alternatif, guru kelasnya memintanya menjawab dengan cara biasa, semampunya saja. Setelah itu, jawaban yang ia buat dimodifikasi sesuai dengan kemampuannya memahami isi pelajaran.

Segi positif yang Fauzan temui dari kendala belajar di atas adalah dirinya telah mengenal pembelajaran yang tidak biasa ditemui oleh pelajar kelas 1 SMP. Dan yang terpenting, ia tidak patah semangat dan terus berusaha sebaik yang ia bisa. Hingga liburan Ramadhan selesai, ia belum juga menamatkan bukunya itu tapi yang jelas, ia terus bergerak maju selangkah demi selangkah. Menjaga mental belajar demikian ini pastilah pada akhirnya membuatnya bisa tamat. Harapan tersebut dapat terwujud manakala ia datang lagi belajar pada liburan berikutnya atau belajar pada guru-guru yang ada di lingkungan terdekatnya.

Fauzan telah datang dan kini pergi kembali ke dunia pendidikan formalnya pesantren. Sebagaimana pengakuannya sebagai bintang sekolah semasa SD pada pelajaran Bahasa Inggris, reputasi tersebut nampaknya tetap melekat pada dirinyalah di pesantrennya. Ia sih pernah bilang bahwa kalau teman-tema SD-nya mau menyontek, mereka biasanya bayar ribuan rupiah. Ia sadar itu merepotkan orang karena uang jajan teman temannya habis hanya karena harus menyontek. Saran yang diperoleh dari gurunya yaitu membantu teman-temannya untuk memahami pelajaran agar mereka bisa cerdas hingga bisa mandiri menjawab soal-soal pelajaran sebagaimana Fauzan.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 29 Maret 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *