Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Terpilihnya Duta Wisata Bulukumba 2020 (1) Bersambung…

    Terpilihnya Duta Wisata Bulukumba 2020 (1) Bersambung…

    Bulukumba, RBB (24/8)—Kepopuleran pariwisata Bulukumba telah sampai pada tingkat dunia. Ini bisa dilihat dari icon Bulukumba yaitu Pinisi telah ditetapkan oleh UNESCO (United Nations Scientific and Cultural Organization) sabagai bagian dari warisan dunia pada 2017. Dinas Pariwisata (Dispar) Bulukumba dari tahun ke tahun terus melakukan eksplorasi lebih jauh agar potensi pariwisata yang lainnya terus tergali dan turut terkenal ke dunia internasional.

    Dan untuk pengembangan sumber daya pariwisata pemuda dan pemudi, Dispar Bulukumba mengadakan acara tahunan lomba Duta Wisata. Tahun 2020 ini, Dispar menggandeng Adwindo (Asosiasi Duta Wisata) Bulukumba sebagai panitia dan mengangkat tema “Peran Millenial Bulukumba menuju Era Industri 4.0”.

    Terdapat 24 peserta dengan komposisi 12 putra dan 12 putri. Untuk memperoleh kwalitas yang terbaik, ditetapkanlah 3 kategori penilaian yaitu:

    1. Attitude (sikap)
    2. Knowledge (Pengetahuan)
    3. Performance (Penampilan).

    Menurut Rezky Hutama Putra, Ketua Adwindo Bulukumba, “Sikap yang kami utamakan dalam penilaian ini. Selama kurang lebih 1 minggu, kami memperhatikan sikap peserta dalam menghadapi beberapa moment. Sedangkan mengenai pengetahuan, tentunya semua sudah tahu kalau menjadi duta membutuhkan pengetahuan yang baik. Dan penampilan, kami menilai postur tubuh yang proporsional serta penampilan yang menarik”, terangnya.

    Babak penyisihan hingga Grand Final Duta Wisata ini dilaksanakan di GOR (Gelanggang Olah Raga), berakhir pada 22 Agustus 2020. Pada Grand Final, 5 (lima) orang juri yang telah matang pengalaman yaitu Tomy Satria Yulianto (Wakil Bupati), Rezky Hutama Putra (Ketua Adwindo), Andi Ayu Cahyani (Kepala Bidang Sumber Daya Pariwisata Dispar), Andi Minie Patongai (Kepala Bidang Destinasi Dispar), dan Rezky Purnamasari masing-masing memberikan penilaian terbaiknya.

    Keputusan team juri yang diumumkan oleh pembawa acara menetapkan bahwa juara 1 putra jatuh pada Muhammad Arsal, Mahasiswa Politeknik Pariwisata Makassar. Adapun Juara Putri jatuh pada Nur Aliyah Patwa, Mahasiswi Universitas Negeri Makassar. Suara musik menggema diirigi tepuk tangan meriah dan ucapan selamat pun menyambut.

    Sebagai juara Duta Wisata Bulukumba, mereka diharapkan mampu berpikir, berkreasi dan memanfaatkan Era Industri 4.0 sebagai alat percepatan promosi pariwisata Bulukumba yang ber-tagline Pesona Tanpa Batas.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Latihan Berdiskusi Dalam Bahasa Inggris, Iccan Dan Pandi

    Latihan Berdiskusi Dalam Bahasa Inggris, Iccan Dan Pandi

    https://www.instagram.com/p/CEOThPEp7IY/?igshid=17nwd4s86jqna

  • Masih TK Sudah Bisa Matematika & Baca Tulis

    Masih TK Sudah Bisa Matematika & Baca Tulis

    A.Aura Syakira Talita adalah pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB), Meski Masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak namun sudah bisa berhitung dan baca tulis.

    Dari pantauan guru di RBB, bahwa Adik Aura ini salah satu pelajar yang aktif, walau tidak dituntun ketika ia memasuki kelasnya dan diberi tugas, maka ia akan selalu berusaha menyelesaikannya walau ia sendiri tanpa tuntunan para gurunya,ia akan mengambil tempat tersendiri di ruangan seakan tidak ingin terganggu oleh temannya yang lain.

    Kita berharap, Adik Aura terus belajar dengan potensinya yang ingin banyak tahu.

    Para pengajar RBB berharap, perang aktif orang tua siswa juga harus lebih membimbing, dan paling penting adalah mengenali karakter dan potensinya, karena pendidikan yang paling penting itu adalah pendidikan dirumah (keluarga).

  • Saatnya Anak SD Praktek Bhs. Inggris dengan Wisatawan

    Saatnya Anak SD Praktek Bhs. Inggris dengan Wisatawan

    Bulukumba, RBB (22/8)—Andi Alodia Syahda Syakira adalah pelajar kelas 6 di SD 32 Palambarae, Kec. Gantarang.  Kedua orang tuanya sangat menyadari bahwa Bahasa Inggris sebagai bekal utama dalam menghadapi tuntutan perubahan zaman di masa akan datang. Untuk itulah, Alo diikutkan kelas Bahasa Inggris.

    Pada saat liburan keluarga di Dego-Dego Na Bira (9/8), seorang wisatawan dari Italia berkunjung. Dengan bekal pengetahuan belajar bahasa selama 2 tahun, Alo memberanikan diri menyapa dan berkenalan dengan Mr. Marco. Pembicaraan hangat pun terjadi. Ia menanyakan berbagai hal tentang tempat wisata yang pernah Marco kunjungi di Indonesia, Eropa, dan negara-negara yang pernah dikunjunginya di dunia. Marco melayani semua pertanyaan. Dan karena Alo mengerti pembicaraan, Marco bersemangat menjelaskan satu persatu.

    Bahasa Inggris layaknya telah menjadi jendala Alo untuk menambah wawasannya dalam mengenal dunia yang luas ini. Ia pun sering mengekspresikan diri dengan mengatakan, “Wah!” saat Marco menceriterakan dunia bawah laut dan hal-hal yang baru baginya. Ifha Musdalifa yang juga tahu berbahasa Inggris dan hadir di tempat tersebut mengatakan, “Itu pertanda bahwa ia mengerti apa yang bule tersebut bicarakan”. Sebagai bentuk dukungan, “Pengalaman dan praktek seperti ini perlu untuk menambah kepercayaan dirinya”, kata ibu Alo ini.

    Saat Marco menanyakan siapa saja orang ramai yang berada di sekelilingnya, anak berumur 11 tahun ini dengan sigap menjelaskan semua orang tersebut adalah keluarganya. Ia menerangkan bahwa ia datang ke sini bersama ibu, ayah, 1 orang saudara laki laki, 2 orang saudara perempuan, dan 4 orang tantenya untuk kunjungan liburan. Marco pun memberikan berbagai pertanyaan yang menarik perhatian dunia anak yang membuat Alo menjawab dengan riang gembira.

    Sementara itu, Nain yang juga turut mendidik Alo di Rumah Belajar Bersama mengatakan, “Kemampuan Alo ini adalah hal yang wajar karena ia teratur mengikuti kelas belajar, tekun mengerjakan latihan yang membuatnya paham Basic English. Anak ini pun telah mengerti struktur tense—sangat sedikit anak SD di Indonesia yang menguasainya—yang memudahkannya berbicara dengan benar atau tidak terbalik balik sehingga orang lain cepat mengerti. Inilah yang membantunya untuk tidak perlu menerjemahkan pembiacaraan kata per kata, betapa pun penambahan kosa kata itu penting untuk terus ditingkatkan.”

    Ia menambahkan, “Dialog dengan orang asing itu menambah semangat para pelajar. Pelajar pun dapat tahu sejauh mana kemampuan dirinya dalam berbahasa Inggris. Kita pun sebagai pengajar akan lebih tahu hal-hal apa yang kurang dan lebih sehingga kita dapat mengambil langkah yang paling tepat untuk  percepatan pencerdasan pelajar tersebut.”

    Saat ini Alo bersama rekan rekannya di Rumah Belajar sedang giat-giatnya membaca buku cerita berbahasa Inggris. Tiap pertemuan, mereka diwajibkan tampil di depan kelas untuk mengkisahkan kembali apa yang dipahami dari bacaannya. Menurut Nain, “Kelas tersebut khusus bagi pelajar kategori pre-intermediate.”, tutupnya.

    Rumah Belajar Bersama sekarang ini terdapat  di 2 kabupaten. Kab. Bulukumba beralamat di Jl. Teratai No. 16, Kecamatan Ujung Bulu. Adapun yang Kab. Bantaeng beralamat di Jl. Sungai Calendu No. 5, Kelurahan Mallilingi.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Begini Cara Master AWAL Menuntun Pelajarnya Menghafal Perkalian

    Begini Cara Master AWAL Menuntun Pelajarnya Menghafal Perkalian

    Kehidupan Apapun didunia ini pastilah akan selalu dalam perhitungan, tentunya dalam hitungan, Perkalian, pengurangan dan pembagian menjadi hal dasar dalam system’ kerjanya.

    Berbagai permasalahan kehidupan bisa kita pecahkan dengan cara berpikir matematis.

    Mengingat, matematika mengajarkan seseorang yang mempelajarinya untuk bisa berpikir logis, kritis, analisis, sistematis, dan kreatif.

    Inilah yang menjadi salah satu alasan, mengapa matematika selalu dipelajari pada setiap jenjang pendidikan formal
    Itulah mengapa Pendidikan akan matematika merupakan hal yang istimewah.

    Seorang Guru Metematikawan haruslah tangguh dalam menyelami jiwa dan tingkat ukur kwalitas muridnya.

    Mister AWAL adalah guru yang hebat, kemampuannya dalam berbagi ilmu kepada muridnya sangat mudah diterima dalam hal pemahaman dan ingatan.

    Mister AWAL konsisten dengan metode 40 yang diterapkan di Rumah Belajar Bersama, penerapan metode tersebut bukanlah mudah untuk digunakan karena pendekatan setiap siswa itu berbeda-beda.

    Guru Yanga ada Rumah Belajar Bersama (RBB) sepertinya mengerti betul bagaimana memperlakukan murid dengan baik, mengelolah psikologis anak agar senang, dan tidak bosan belajar adalah target awalnya, karena itu merupakan modal dasar untuk anak agar bisa diajak berinteraksi dalam hal apapun, khususnya saat menerima pelajaran yang disajikan kepadanya.

  • Nurmala Usman: Mensukseskan Pendidikan pada Anak-Anak

    Nurmala Usman: Mensukseskan Pendidikan pada Anak-Anak

    Bulukumba, RBB (21/8)—Nurmala Usman adalah seorang ibu yang mengikuti pesan bahwa belajar di waktu kecil bagaikan menulis di atas batu. Hal inilah yang ia tiap hari terapkan pada kedua orang anaknya yang masih di bawah 10 tahun.

    Karena kebiasaannya memberi perhatian pendidikan yang tinggi di rumah, anak-anaknya sudah lancar membaca sejak kelas 1 SD (Sekolah Dasar). Kemudian, rekannya sewaktu sekolah di Pesantren Babul Khaer bernama Bu Risma yang mengajak agar anak anaknya turut bergabung di Rumah Belajar. “Karena saya tidak sembarang ikutkan anakku,  saya lebih dahulu ikuti akunnya di media sosial. Saya cek, ini bagus. Saya pun meminta izin pada suami. Suami meminta agar saya mendidik anak-anak di rumah saja tapi saya berpikir,  siapa tahu ada metode lain”, kata Nurmala.

    Saat berkunjung, Nurmala melanjutkan, “Kesan pertama saya temukan di Rumah Belajar yaitu cara guru menyapa yang sangat ramah anak-anak saat bertemu guru Baca Tulis, Siti Satriana. Anakku tiba-tiba bilang bahwa dia mau belajar di sini sampai kelas 6”, katanya.

    Saat mengikuti perkembangan pelajaran, Nurmala yang juga guru SMK 2 Borong Rappoa Kindang ini melanjutkan, “Di sini lebih fokus karena ada pendekatan langsung ke individu. Karena tiap kelas itu tidak boleh ramai, satu persatu dapat dididik menyelesaikan masalah sehingga anak bisa lebih bisa mandiri. Terdapat cara menghitung di save (disimpan) di kepala. Kini, anakku malah mengajar saya. Anakku biasa berkata, begini kata Bu Siti. Saya tanyakan, Nak, kalau penjumlahan puluhan dan ratusan bagaimana caranya yang naik satu itu? Anakku menjawab, Ibu, 2 disimpan di kepala, 10 di tangan. Contoh 12 – 5 = … jawabnya 10 di tangan, 2 di kepala. Kurangi 5 di tangan. Jadi sisanya 5. Lalu, sisa 5 di tangan tambah 2 di kepala, sama dengan 7”, Kata Nurmala sambil mencontohkan dengan gerakan tangan.

    Lebih lanjut ia menjelaskan kemajuan belajar anaknya. Umratul Qadsa yang berumur 8 tahun sudah bisa penjumlahan ratusan. Ia sudah tahu simbol kurang dari, lebih dari dan sama banyak. Perkalian juga sudah paham. Adapun Qiran yang masih 7 tahun, belajar cara menyelesaikan penjumahan bersusun, pengurangan dari buku paket sekolah. Ia telah bisa menyelesaikan penjumlahan sederhana. Guru Siti mampu membuat cara agar soal-soal pelajaran sekolah yang dalam bentuk cerita yang masih sulit dipahami anak anak kelas 1 SD. metode jarimatikanya menarik memudahkan Qiran menyelasaikan tiap soal. Perkenalan dasar perkalian juga diberikan.

    Agar anak anak bertambah rajin, “Waktu mau lebaran Idul Adha, libur, saya beritahukan ke Bu Siti agar  anak anak diberi banyak PR (Pekerjaan Rumah) supaya waktu yang kosong di rumah bisa terisi. Anak anak diajar bertanggung jawab dengan tugasnya”, terang Nurmala.

    “Cara ini memicu semangat belajar anak-anak. Ketika belajar tatap muka tidak ada, ini moment bagus. Kalau sekedar belajar daring di hp, anak anak mengnga mengnga (termangu-mangu) saja. Inisiatif sangat perlu karena saya takut semangat belajar anak hilang karena terlalu banyak bermain”, ungkap Nurmala

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Bhs. Isyarat dan Bhs. Inggris

    Bhs. Isyarat dan Bhs. Inggris

    Bulukumba, RBB (18/8)—Ita Mufrita adalah seorang juru Bahasa Isyarat yang telah banyak bergaul dengan penyandang disabilitas di Makassar untuk pandai membaca dan berbicara menggunakan Bahasa Isyarat kini mengikuti kelas Bahasa Inggris di Bulukumba.

    Alasanya sederhana, “Saya ia ingin up grade skill (menambah keahlian) untuk menopang pekerjaan saya sebagai juru Bahasa Isyarat. Kalau bisa, saya ingin menjadi penerjemah Bahasa Inggris ke Bahasa Isyarat”,

    Menurutnya, perkenalannya dengan Rumah Belajar dimulai ketika PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia) Bulukumba yang diketuai oleh Herman Suherman pada Maret 2020 mengadakan pertemuan pembelajaran Bahasa Isyarat di Rumah Belajar. Ita turut berbagi ilmu dengan rekan rekan orang tuli dan bisu. Ia juga merasa ada chemistry (kecocokan) dengan suasasa yang terbuka. Ita mengatakan “Pertama kali datang ke sini orangnya welcome (menyambut) dan tidak membeda-bedakan orang, termasuk penyandang disabilitas sekali pun. Setelah beberapa kali kunjungan, “Saya melihat banyak anak-anak belajar. Sebuah pertanda bahwa ada keceriaan di situ”, lanjutnya.

    Mengenai kemampuan belajar pada Bahasa Inggris, Ita adalah pelajar yang sangat tekun. Dalam 4 x pertemuan, ia telah mampu menyelesaikan 32 cerita pendek dari buku Question and Answer karya L. G. Alexander. Bila ada kesulitan dalam memahami arti, ia cari sendiri dengan memanfaatkan kamus terjemahan handphone. Ia telah banyak mengerti dan memasang target untuk menambatkan buku tersebut cukup dengan 6 x pertemuan saja. Tidak lebih.

    Selain itu, pelajaran yang sangat menyenangkan baginya yaitu pronounciation (pengucapan). Ita kemudian menjelaskan, “Di sini saya mendapat cara pengembangan cara membaca yang tepat dalam menyambung kata, frase dan kalimat. Misal:

    1. The young man took a bundle of notes out of this pocket.
        Cara bacanya: de yang meen tuke bandelof nouts oudof dis pocket.
    2. You must have this suit cleaned.
        Cara bacanya: You mastev dis suit clind.

    Ternyata ada cara mudah membaca cepat tanpa harus terburu-buru dan tetap terdengar jelas. Itu menarik! Saya target sampai mahir sehingga orang bisa mengerti apa yang orang bilang dan apa yang saya bilang”, tutupnya.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

     

  • HUT RI ke 75: Pengibaran Bendera Bawah Laut di Bulukumba

    HUT RI ke 75: Pengibaran Bendera Bawah Laut di Bulukumba

    Bulukumba, RBB (17/8)—Genarasi 45 hanya mengenal hidup atau mati. Mereka berjuang dan merebut semua sehingga kita merdeka. Mereka lahirkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Jiwanya ini kita harus pelihara.

    Generasi 2020—khususnya para divers (penyelam)—di  Bulukumba merayakan HUT RI (Hari Ulang Tahun Republik Indonesia) ke 75 melalui pengibaran bendera di bawah laut pada kedalaman 12 meter oleh 13 orang divers di Bulukumba, tepatnya di laut Bira. Bagi mereka, HUT RI adalah momentum yang tepat untuk mengingatkan dan mengkampanyekan agar rakyat Indonesia tetap peduli menjaga keseimbangan alam bumi Indonesia.

    Para divers yang sedang berusaha membuat tiang bendera tegak meskipun dihempas oleh arus bawah laut. Sumber foto: Syamsul Jihad

    Menurut Syamsul Jihad, Tink Tank Diver Skansa (SMK 1) Bulukumba, “Kita membawa misi konservasi lingkungan; Tidak buang sampah ke laut, tidak menggunakan bomb ikan, illegal fishing dan tidak merusak terumbu karang. Begini cara kita membuktikan cinta tanah air kepada bangsa dan negara.”

    Ketika bendera merah putih bersiap siap untuk dikibarkan. Sumber Foto: Syamsul Jihad

    Sosialisasi peyadaran bersama ini sebenarnya bukan hanya untuk masyarakat di sekitar pantai tetapi juga buat semua karena sampah-sampah di gunung sekalipun berpotensi ke laut melalui aliran sungai.

    Adapun kelompok yang terlibat pada pengibaran bendera bawah laut ini adalah UPT SMKN 1 Bulukumba, Skansa Diving Club, Pinisi Diving Club, Panrita Lopi Diver dan Sonshoot Studio. Ke depan, haparannya lebih banyak lagi kelompok yang dapat terlibat.

    Survey Lokasi untuk menyambut Hari Pariwisata Dunia pada September 2020

    Setelah ritual pengibaran selesai, para divers ini menyempatkan survey lokasi untuk rencana penurunan “Barang Bekas” ke dasar laut di depan pulau Liukang. Andi Aryono yang juga Panitia Hari Pariwisata Dunia untuk 27 September nanti menjelaskan bahwa lokasi tersebut airnya jernih sehingga pasir terlihat dari atas perahu. Aryono mengatakan, “Air laut tanpa terumbu karang terlihat lebih jernih dan begitu pun sebaliknya terjadi pada air laut yang ditumbuhi terumbu karang”, jelasnya. Ia melanjutkan, “Kami pun melihat orang orang bersnokeling. Cocoklah untuk pengembangan pariwisata bawah laut”, katanya.

    Adapun Imbang Perdana Sair, Ketua Panitia Hari Pariwisata Dunia, yang menyaksikan langsung lokasi menjelaskan. “lokasi beberapa titik telah ditandai dan mengerucut pada penentuan satu titik spot. Untuk memastikan penetapannya, panitia akan mengadakan survey lebih lanjut dan traning camp yang diharapkan menghasilkan rekomendasi”, ungkapnya.

    Saat mereka tiba di darat, beberapa panitia ini bertemu dengan Marco dan Noori guna membahas tindak lanjut transplantasi terumbu karang. Terjadi kesepakatan berupa membuat artifisial buatan sebagai tempat menambat karang, membuat workshop dan praktek.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • HUT RI ke 75; Rencana Dialog Calon Bupati & Wakil Bupati Bulukumba 2020

    HUT RI ke 75; Rencana Dialog Calon Bupati & Wakil Bupati Bulukumba 2020

    Bulukumba, RBB (17/8)—HUT RI (Hari Ulang Tahun Republik Indonesia) ke 75 pada 2020 ini masih diselimuti teror Covid 19 membuat rekan-rekan di Rumah Belajar Bersama tidak melaksanakan agenda yang mengundang keramaian. Rekan rekan malam menuju 17 Agustus mendiskusikan tentang rencana Dialog Calon Bupati 2020. Surat undangan disertai TOR (Term of Reference)—gambaran wacana—disampaikan kepada pada tiap calon yang telah ditetapkan KPU (Komisi Pemilihan Umum) Bulukumba pada September nanti.

    Ini ide bermula bahwa setiap orang tua mempunyai hak suara dan tentu menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang layak dan berkwalitas. Untuk itu, setiap kandidat diharapkan perlu menjelaskan terobosannya jika ingin menarik hati orang tua pelajar (baca: pemilih) dalam menyikapi:

    1. Apa solusi belajar jika Bulukumba pada 2021 nanti masih dalam suasana Covid 19?
    2. Bagaimana membaca mutu kwalitas pendidikan Bulukumba saat ini?
    3. Bagaimana keberpihakan calon Bupati dan Wakil Bupati terhadap peningkatan kwalitas SDM (Sumber Daya Manusia) guru dan pelajar?
    4. Bagaimana cara mengukur bahwa Kadis (Kepala Dinas) Pendidikan yang akan ditunjuk itu benar-benar mengerti kurikulum pendidikan?
    5. Bagaimana mengatasi kesenjangan guru, terutama guru honorer yang gajinya 250 ribu/tri wulan?
    6. Bagaimana calon Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih bisa menghilangkan like dan dislike (suka dan tidak suka) dimana tiba-tiba guru biasanya dimutasi?
    7. Bulukumba terkenal dengan pariwisatanya. Bagaimana calon Bupati dan Wakil Bupati mendesain pengembangan SDM Pariwisata?
    8. Pelajaran muatan lokal apa yang cocok dikembangkan di Bulukumba?
    9. Bagaimana calon Bupati dan Wakil Bupati memberikan perhatian pendidikan pada penyandang disabilitas?
    10. Setiap calon punya isu sentral dalam kampanye. Pada posisi nomor berapa kah isu pendidikan?

    Sekelumit pertanyaan ini masih bisa berkurang atau bertambah, tergantung usulan dari masyarakat dan kajian yang dilakukan secara mendalam. Tangal dan tempat pelaksanaan debat ini masih dalam pembahasan.

    Dialog ini nantinya tidak diperkenankan mengerahkan massa pendukung. Kita akan menayangkan secara live di berbagai macam media elektronik dan media sosial sehingga dapat ditonton secara langsung oleh rakyat Bulukumba dan juga akan diterbitkan di media cetak online dan surat kabar.

    Segera setelah sosialisasi kegiatan ini terbit, rekan rekan Rumah Belajar Bersama akan melakukan koordinasi dengan KPU dan Panwas (Pengawas Pemilu) Bulukumba untuk kelayakan acara.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Risma Aulia Udhar: Melejitkan Bakat Anak (2) Selesai

    Risma Aulia Udhar: Melejitkan Bakat Anak (2) Selesai

    Bulukumba, RBB (16/8)—Risma Aulia Udhar menikmati kesibukannya mengikutkan anaknya, Ahmad Faqiwh Dzakwan pada kegiatan Mengaji, Baca Puisi, Ceramah, Pidato dan Matematika. Mari kita lihat kesibukan Faqiwh dan ibunya yang selalu setia menemani.

    1. Mengaji di TPA Baeturrahiem, Kampung Loka oleh Ust. Tawakkal, Dosen Al-Ghazali.
    2. Ceramah di Dai Muda Bulukumba oleh Ust. Ikhwan Bahar.
    3. Puisi di Sanggar Seni Eppa Sulapa, Kampus Al Ghazali.
    4. Puisi di Teater Kampoeng oleh Om Dashraf.
    5. Pidato di rumah oleh kedua orang tuanya.
    6. Matematika di Rumah Belajar Bersama oleh Siti Satriana.

    Apakah kepadatan kegiatan ini tidak merenggut masa bermain anak? Tidak karena Faqiwh menyenanginya dan tetap punya waktu untuk bermain; baik bersama saudaranya ataupun rekan belajarnya.

    Pilihan belajar yang Risma lakukan ini didahului dengan penjajakan bakat dan potensi. Menurut Risma, sejak kecil Faqiwh itu hiper aktif banyak bicara, cerewetlah. Ia manfaatkan keaktifannya itu pada pidato, ceramah dan puisi. Faqiwh yang waktu itu masih berumur 7 tahun kemudian memperoleh momentum Hari Sumpah Pemuda pada 27 Oktober 2019 untuk menunjukkan kebolehannya berpuisi di hadapan khalayak ramai. Puisinya berjudul Bulukumba karya Musfirah Arifin mendapat pujian. Tepuk tangan meriah dari para penonton.  Bupati Bulukumba, Andi Sukri Sappewali berkata, “Saya bangga dengan kamu.”

    Pada tahun yang sama, Faqiwh kemudian ikut lomba Ceramah tingkat SD/MI (Madrasah Ibtidaiyah)  di Pesantren Babul Khaer. Menurut Risma, “Itu sebagai pembelajaran untuk pengalaman saja karena saat itu lawannya kelas 5 dan 6 SD sementara ia masih kelas 1 SD, baru lepas TK pada 2019”, katanya menyemangati.

    Pada 2020 di tengah teror Covid 19, Faqiwh yang sekarang ini telah berumur 8 tahun mengikuti Lomba Baca Puisi Daring  jenjang SD/MI Tingkat Nasional yang diadakan oleh Rumah Cermat di Jawa Barat. Saat ini Faqiwh terus melaju masuk dalam kategori 10 besar Se-Indonesia.

    Risma juga menjelaskan bahwa kemampuan Faqiwh ini erat kaitannya dengan SD 24 Salemba Bulukumba yang sangat peduli pada pengembangan minat dan bakat anak-anak. Pada tiap Jum’at pertama di awal bulan, SD 24 mengadakan Jum’at Bersahaja. Dalam artian, tiap anak boleh menyumbang apapun untuk ditampilkan di depan siswa-siswi sekolah. Dan Faqiwh sering tampil.

    Adapun mengenai literasi, sejak TK (Taman Kanak-Kanak), Faqiwh sudah bisa membaca. Karena ketertarikannya pada buku luar biasa, ibunya pun banyak menyediakan buku-buku pengetahuan umum di rumah. “Ia kurang tertarik pada cerita anak tapi ia suka mengenal tokoh tokoh dunia dan sirah nabawiyah (Kisah hidup rasul)”, kata Risma.

    Sedangkan tentang cita-cita ke depan, Faqiwh masih dalam tahapan penjajakan. Ibunya pun menyampaikan bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan. “Saya tidak pernah menekankan pada anak mau jadi apa. Cukup biarkan saja kebiasaan baiknya berproses dan mengalir”, tutupnya.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama