Kesibukan berfikir aksi dalam upaya turut memajukan kualitas pendidikan pendidikan alternatif sesekali diselingi dengan menulis aktivitas pembuatan perahu tradisional di Bulukumba. Hal ini dipengaruhi oleh kampung halamanku di Bulukumba telah sejak lama dikenal sebagai pusat pembuatan perahu yang sejarahnya telah mengakar jauh sebelum hadirnya penguasa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan dagang Belanda dan keakraban dengan Dr. Horst Liebner, sang ahli perahu tradisional membuat saya tertarik untuk mengkaji perahu lebih dalam. Dengannya, terdapat banyak diskusi yang intelek yang menjauhkan orang dari bayang-bayang kebesaran berbau mitos. Pak Horst telah meneliti selama puluhan tahun dan mencari titik terang melalui pengetahuan jejak sejarah perkembangan perahu. “Saya bukan seorang pelaut, tetapi saya senang berkesempatan menelusuri lebih jauh jejak budaya maritim leluhurku—meminjam ungkapan dalam lagu legendaris Ibu Soed, ‘nenek moyangku seorang pelaut.’”
Pada Jum’at, 2 Oktober 2026, Pak Horst mengirim pesan WhatsApp, “Selamat sore. Bagaimana, Minggu ke Dego-Dego (penginapan di kawasan wisata pantai di Kec. Bonto Bahari—penulis) sampai Rabu untuk membahas teks-teks.” Karena sibuk mengajar sehingga tidak perhatian membaca pesan, saya menjawabnya menjelang Maghrib. “Saya baru selesai mengajar dan langsung membaca pesan Anda. Pada Minggu oke, tetapi pada Senin sampai Rabu, saya mengajar di kelas sore dan malam hari. Jadi saya bisa bergabung menulis dengan rekan-rekan team dari pagi hingga siang saja.” Pak Horst segera membalas, “Ya, boleh. Tidak apa-apa.”
Pada Minggu sore, tepatnya 4 Oktober 2026, pertemuan pun terjadi di Dego-Dego. Saya tak menyangka bisa kembali bertemu dengan Dr. Husnul, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sulawesi-Selatan. Tahun lalu, saya menjadi bagian dari team-nya dalam penulisan buku tentang Panrita Lopi (Ahli Pembuat Perahu), Sang Penjaga Warisan Dunia. Saya mewawancarai dan menulis tentang jejak perjalanan hidup Daeng Masarro, Panrita Lopi paling senior di Desa Ara—peneliti yang lain bertugas di Tanah Beru, Lemo-Lemo dan Bira. Kak Husnul mengatakan bahwa ia masih berjuang untuk bisa menerbitkan kumpulan tulisan tersebut dalam dua bahasa: Inggris dan Indonesia dalam satu buku.
Namun, ada hal yang menggembirakan. Ia memperlihatkan video dokumenter para tokoh Panrita Lopi yang sangat menghibur dan mendidik, sesuatu yang berbeda dari kebanyakan video yang pernah ada. Di akhir video, ia menunjuk namaku yang juga tercantum. Awalnya, saya heran kenapa namaku tercacat karena saya merasa sama sekali tidak berkonstribusi selain tulisan. Lalu, saya ingat, saya pernah mengantar Kak Husnul ke Daeng Masarro untuk rekaman video dan itu kuanggap sekadar bantuan saja, bukan konstribusi. “Semua nama team dimasukkan,” kata Kak Husnul. Saya pun mengerti.
Penulis lain yang hadir adalah Anjar S. Masiga, seorang aktivis mudi perempuan Bulukumba yang berlatang belakang wartawan di media surat kabar lebih banyak memilih diam, fokus dengan tugas tulisannya yang ingin ia selesaikan sesegera mungkin di hari pertama itu.
Selama tiga hari, Senin sampai Rabu, kami berhasil menyelesaikan perdebatan tulisan tentang tokoh sejarah pembuatan perahu sejak Belanda hingga modern. Khusus tentang ‘tokoh sejarah’ itu adalah tugas utamaku, tetapi tulisan yang kubuat sesuai arahan Pak Horst tidak dipakai. Pak Horst mengalami perubahan dan perkembangan pemikiran: kemungkinan besar karena ia begitu mempunyai banyak ide baru di mana ide itu tidak tertuang dalam tulisanku yang memang sengaja kubuat singkat. Padahal, apa yang telah kutulis itu sesuai dengan arahannya. Karena berharap pekerjaan ini tidak berlarut-larut, saya memutuskan mengikuti alur berpikirnya Pak Horst: ia menulis, Kak Husnul, Anjar, dan saya memberikan pertimbangan pemikiran, sesekali memasukkan ide yang sesuai alur cerita dan meng-edit dengan diksi yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari agar semudah mungkin dipahami oleh pembaca awam. Hal lain yang mana membuat saya merasa benar-benar sebagai pengikut adalah pengetahuan perkembangan ragam perahu. Di sinilah saya tambah melihat pengetahuan Pak Horst sangat mendalam: ia tahu hal-hal kecil hingga detail dari berbagai macam perahu tradisional itu dan mampu dijelaskan secara akademis. Saya sangat bersyukur meskipun saya hanya bisa turut berpartisipasi bekerja dengan wawasan yang masih sangat terbatas. Saya berada di lingkungan orang-orang berilmu, itulah yang kuinginkan.
Hingga pada hari Rabu, satu hal yang belum terselesaikan adalah jenis-jenis kayu yang digunakan pada jenis kayu pembuatan perahu, tanggung jawab Anjar. Kak Husnul sudah lebih dahulu pamit karena ada urusan pekerjaan lain di Makassar. Anjar juga sudah ingin pulang ke kota Bulukumba karena menganggap tulisanya sudah selesai meskipun belum dibahas. Pak Horst mengusulkan untuk menginap sehari lagi. Saya sepakat. “Sebaiknya Anjar berkenan tetap tinggal agar hal-hal terpenting dari tulisanmu tuntas,” kataku kepada Anjar. Anjar berpikir sejenak. Ia tentu tahu keberadaannya di tempat itu dapat menyelesaikan masalah dengan segera karena proses editing yang biasanya kami lakukan selama ini dalam bentuk diskusi dan debat sambil mempertanyakan banyak hal pada yang hal yang ditulis, dalam hal ini Anjar. Anjar pun sepakat untuk menginap sehari lagi.
Bagiku, mewariskan pengetahuan perahu lewat tulisan sangat berharga. Kebanyakan peneliti datang ke Bulukumba mengambil data dalam beberapa hari, minggu, atau bulan saja dan kemudian membuat karya. Horst Lieber sudah belajar tentang perahu tradisional Indonesia sejak ia S-2 di Universitas Hasanuddin, 1987 dan waktunya banyak ia habiskan di Tanah Beru, salah satu pusat pembuatan perahu di Bulukuma, serta melaut keliling Indonesia dan sekitarnya. Kak Husnul sudah bertahun-tahun juga tertarik meneliti perahu, dan Anjar yang berlatang belakang penulis telah banyak terlibat isu lingkungan di pesisir pantai dan mengetahui seluk-beluk kehidupan masyarakat pesisir serta terlibat aktif berhubungan dengan para panrita lopi (ahli pembuat perahu).
Saya sendiri orang yang merasa enjoy karena istilah yang dipakai dalam pembuatan perahu itu menggunakan bahasa ibuku, Konjo. Saya relatif mudah beradaptasi dengan beragam kerumitan yang terjadi dan dengan mudah bergaul dengan para perajin perahu mulai dari para pekerja biasa hingga Panrita Lopi karena mereka semua berbahasa Konjo. Melalui sumbangsih tulisan yang kami kerjakan dengan serius itu yang kemudian akan bisa dibaca melalui barcode di pusat-pusat pembuatan perahu yang ada di Tanah Beru, Lemo-Lemo, dan Ara dapat membantu memperkaya pengetahuan generasi penerus.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis 7 Oktober 2026
Seorang rekan di Jawa berkesempatan memberikan pelatihan tenses di luar kepala kepada pelajar di daerah…
Kesuksesan yang bermakna ganda terjadi pada orang yang gagal dan segera bangkit kembali untuk berjuang.…
Berbagi wawasan pronunciation (pengucapan) kepada orang dewasa, remaja dan anak-anak itu bukan gampang-gampang susah, tetapi…
Dari dunia anak-anak, kita dapat belajar cara menyederhanakan masalah. Anak-anak memang peniru yang ulung, namun…
Kerumitan itu adalah sesuatu hal yang selalu dihindari. Namun, menghindari kerumitan bukanlah menyelesaikan masalah, malahan…
Ketakutan para pelajar pada bahasa Inggris seringkali muncul hanya karena gurunya kaku, tidak pandai memecah…
Leave a Comment