Anak ini berhasil menemukan kebanggaan belajar Bahasa Inggris. Katanya, banyak teman temannya di sekolah belum mampu membaca tulisan Inggris. Padahal itu sangat gampang. Sejurus kemudian, ia pun mengucapkan beberapa kosa kata yang telah ia kuasai dengan baik. Saya terkesan dan selalu mengajaknya bercerita setelah kelas Basic Reading-nya selesai.
Namanya Valerio, kelas 3 SD. Ia anak yang konsisten untuk membaca buku setiap kali datang belajar. Ia tidak pernah menghindar takkala gurunya memintanya untuk membaca. Tapi setelah ia selesai dan keluar main, ia tidak mau lagi membaca. Rayuan dan ancaman tidak mempan. Alasan yang paling sering ia sebut adalah capek. Menurutnya, ia telah belajar dan waktu yang lainnya untuk bermain. Bila terus didesak, ia akan diam, tidak menemani siapa pun untuk berbicara–Sebuah tanda protes yang tidak bisa dinegosiasikan. Tidak ada lagi belajar. Titik.
Namun sikap ini sempat berubah. Pada 25 Maret 2026, hari pertama belajar setelah Idul Fitri, Vale adalah pelajar yang pertama datang ke kelas. Dari awal hingga jam pelajaran, ia seorang diri. Tiada seorang anak pun yang datang. Setelah membaca beberapa lesson, ia minta istirahat. Lalu, ia bermain hingga merasa bosan.
‘Ayo Vale, kita belajar lagi’, kata penulis. Tiba-tiba, ia menyanggupi. Ia langsung membuka lesson delapan puluh ke atas. Menurutnya, bacaan sebelumnya yaitu review lesson satu sampai sepuluh terlalu mudah. Penulis memenuhi permintaannya dan turut membantu memperbaiki pelafalan bacaannya yang masih sulit ia ucapkan. Lima lesson yang cukup panjang ia tuntaskan. Takkala badannya agak berkeringat, itu tanda bahwa dirinya butuh istirahat lagi dan ia pun memperolehnya. Saat kembali bugar, ia melanjutkan lagi bacaannya yang panjang itu.
Enam puluh lima menit berlalu dengan efektif. Sisa jam belajar sebanyak dua puluh lima menit tidak ingin ia gunakan lagi. Ia meminta agar dapat menelepon ibunya untuk pulang. Permainannya segera dikabulkan.
Memang sih, ketika anak-anak kekurangan rekan, waktu belajarnya akan lebih banyak dan malas untuk mencari alasan untuk menolak tawaran belajar. Sebaliknya, ketika ramai, seribu alasan bisa digunakan untuk menghindar karena dalam pikiran anak anak, bermain itu di atas segala galanya. Para guru yang berkecimpung dalam dunia pendidikan anak tentu tahu cara menyeimbangkan ini karena tujuan orang tua memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan adalah untuk belajar. Jurus membagi waktu untuk memenuhi kebutuhan tersebut penting agar selain masa kecil untuk bermain anak anak tidak dirampas tetapi di sisi lain, belajar tetap berjalan.
Selain itu, anak perlu dilatih untuk menemukan kebanggaan kenapa mereka memilih suatu pelajaran. Vale merasa punya kelebihan berbahasa Inggris dibandingkan sebagian rekan rekan sekolahnya sehingga ia merasa berharga. Dengan Demin, kepercayaan diri pun berkembang.
Zulkarnain Patwa
Sabtu, 28 Maret 2026
Pernahkah anda membayangkan anak kelas 1 atau 2 SD mengerti perkalian 1 sampai 9 di…
Belajar sejak buaian ibu hingga ke liang lahat. Pengingat yang disampaikan Nabi Muhammad SAW ini…
Belajar dengan suasana bermain adalah pilihan yang diberikan pada anak anak setelah pembelajaran serius selesai.…
Afwa anak TK (Taman Kanak-Kanak) yang suka mengikuti banyak kegiatan belajar. Saat berumur lima tahun,…
Kesadaran mengisi liburan dengan belajar itu biasanya dimiliki oleh orang-orang dewasa. Mereka yang sedang berkuliah…
Dunia pendidikan mesti akrab dengan bacaan buku. Tugas para guru bukan sebatas mampu mentransfer pengetahuannya…
Leave a Comment