Sekilas pada Perjalananku di Karate

Kehidupan masa kecil saya memang banyak diisi dengan latihan karate dan saya pun suka mengajak rekan rekanku untuk bergabung karate. Saya latihan di Kodim 1411/Bulukumba, Sulawesi Selatan dan banyak bergaul dengan anak tentara karena SD saya di dekat Kodim. Di lingkungan tersebut, berkelahi dan perang-perangan dengan senjata rakitan yang bisa menembak ala anak anak adalah permainan kami.

Setelah beranjak dewasa, saya berusaha mencari dunia baru. Saya memilih menjadi aktivitas mahasiswa karena ingin mengasah kecerdasan intelektual dan mencoba untuk tidak bersentuhan lagi dengan dunia karate. Saya tidak ingin diketahui pernah belajar bela diri. Saya sudah capek berantem. Bagiku, itu menyakiti diri sendiri dan orang lain. Dan alhamdulillah, apa yang kuniatkan tersebut sukses. Sejak saya kuliah hingga lulus dan bahkan sampai sekarang saya tidak pernah lagi berkelahi.

Kadang kadang sesekali saya memang masih latihan karate dengan rekan kuliah tapi tidak mendekatkan diri dengan perguruan. Itu secara personal saja karena saling kenal sesama karate ka. Ya, semacam silaturahmi lah. Pendeknya, saya tidak pakai dogi (baju karate), terlebih lagi dengan bergabung latihan serius dengan rekan rekan tentara.

Ada kalanya juga, saya latihan sparring dengan rekan rekanku yang pesilat. Tapi itu pun seadanya saja, tidak untuk kebutuhan latihan serius. Ini untuk mengenang saja bahwa diriku pernah sedikit tahu cara bertarung dan mengenali lebih dekat keunggulan cabang bela diri lainnya.

Saat kembali ke kampung halaman, saya mencoba lagi untuk olahraga. Beragam olahraga yang pernah kutekuni kuikuti lagi. Basket , lari, renang, bulutangkis, macam macamlah. Dan ternyata yang paling lengket adalah karate. Dan karena perguruanku INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) punya sejarah yang panjang tentang bela diri tentara, saya pun kembali bergaul dengan tentara.

Baru baru ini, terdapat kejuaraan Piala Panglima Devisi 3 Kostrad. Terdapat kesempatan untuk bertemu dan berbincang bincang dengan Pak Meyjen TNI Bangun Nawoko, Panglima TNI Devisi Infanteri 3 Kostrad karena saya mendampingi Shihan Viktor Shondak, Ketua MSH (Majelis Sabuk Hitam INKAI Sulawesi Selatan).

Pada intinya, bela diri karate akan lebih dipertajam di kalangan tentara dan tentara akan didorong juga meningkatkan prestasi dalam hal olahraga dengan melibatkan diri dalam kejuaraan karate. Dan langkah awal yang sangat bagus baru saja terlaksana dengan sukses melalui Kejuaraan Piala Panglima khusus bagi para tentara, 21 sampai 23 Februari 2025 di Gowa.

Pada foto
* Meyjen TNI Bangun Nawoko, Panglima TNI Devisi Infanteri 3 Kostrad (Tengah)
* Shihan Viktor Shondak, Ketua MSH (Majelis Sabuk Hitam) INKAI Sulawesi Selatan (Kanan)
* Penulis (Kiri)

Zulkarnain Patwa
* Humas INKAI Sulawesi Selatan
* Pelatih INKAI Bulukumba

Tulisan ini pertama kali terbit pada 4 Maret 2025

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Hari Ibu

Kebersamaan dengan ibuku sangat singkat, hanya sampai kelas 3 (tiga) SD (Sekolah Dasar). Waktu itu,…

1 bulan ago

Persiapan Atlet Dunia

Selamat buat Nur Azizah Patwa dan team yang meraih Perak pada Kejuaraan Dayung SEA GAMES…

1 bulan ago

Merancang Perubahan Dunia

Dengan mengedepankan ilmu pengetahuan, anda punya daya saing untuk turut terlibat aktif merancang dan menghadapi…

1 bulan ago

Literasi

Bicara literasi itu harus selalu diikuti dengan tindakan dengan mengajak para generasi penerus kita terbiasa…

1 bulan ago

Kemimpinan Juara Umum Karate

Ini penghormatan atlet INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) Sulawesi Selatan (Sul Sel) saat meraih Juara Umum…

1 bulan ago

Speaking dan Reading

Banyak orang berpikir bahwa belajar bahasa asing itu urusan komunikasi. Itu benar karena kita akan…

1 bulan ago